Apapun masalahmu,, Tuhan tak pernah terlambat memberi pertolongan...
Minggu, September 08, 2024
AKU BERASAL DARI ALLAH Minggu 8 September 2024
Minggu, September 01, 2024
Alkitab adalah Kebenaran
Minggu, Agustus 25, 2024
JADILAH TENANG
Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Umat Tuhan harus siap menghadapi tantangan yang akan datang.
MAKA JADILAH TENANG
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tenang bisa diartikan dengan tidak gelisah, tidak rusuh, tidak kacau, tidak ribut, aman, dan tenteram (tentang perasaan hati, keadaan).
TENANG adalah sikap hati yang benar yang tidak dipengaruhi oleh situasi dan kondisi di luar.
Kita tidak bisa mengendalikan apa yang ada diluar, yang dibicarakan orang, yang terjadi terhadap diri kita atau orang lain. Yang bisa kita kendalikan hanyalah diri kita, sebab segenggam ketenangan lebih baik dari pada dua genggam jernih payah dan usaha menjaring angin.
Yesaya 32:17 (TB) Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya.
Kalau ingin tenang, harus ada Kebenaran. Dan Alkitab adalah satu satunya Kebenaran.
Yesaya 30:15 (TB) Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, Yang Mahakudus, Allah Israel: "Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu." Tetapi kamu enggan.
Sikap hati kita harus berbalik pada kehendak Tuhan, bertobat dari kesalahan kita, dan tenang dalam mengambil sikap. Kalau kita ada masalah Firman Tuhan berkata Diam. Karena dalam tinggal tenang terletak kekuatan kita.
Ada PBB
🖋️ Percaya TUHAN PEGANG KENDALI
Kejadian 15:6 (TB) Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.
Yakobus 1:6-8 (TB) Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin.
Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan.
Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.
Tuhan pegang kendali, Dia tidak pernah hilang kendali atas kehidupan.
🖋️ Berharap PADA JANJI TUHAN
Manusia dapat berubah, janjipun dapat berubah, pemikiran bisa berubah, keadaan juga berubah, namun Tuhan tidak pernah berubah.
Roma 4:18 (TB) Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu."
Masa depan kita bisa saja kabur, tak jelas, dalam pandangan kita. Tapi percayalah harapan kita jelas ditangan Tuhan.
Harapan merupakan kompas kehidupan yang akan membawa kita bertemu kehendak Tuhan.
🖋️ Berserah PADA KEHENDAK TUHAN
Ibrani 11:17-19 (TB) Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal,
walaupun kepadanya telah dikatakan: "Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu."
Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali.
Berserah berati Taat. Ikuti cara Tuhan, sekalipun keinginan kita lain, namun rancangan Tuhanlah yang terbaik. Karena itu berserah, serahkan semuanya pada Kendali Tuhan.
1 Petrus 4:7 (TB) Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.
Keruntuhan menyedihkan jemaat dan bangsa Yahudi yang dinubuatkan oleh Juruselamat kita sudah sangat dekat. Akibatnya, masa aniaya dan penderitaan kamu akan segera terjadi. Kehidupanmu sendiri dan musuh-musuhmu akan segera mencapai akhirnya. Bahkan dunia sendiri tidak akan bertahan lama. Lautan api akan mengakhirinya, dan segala sesuatu akan ditelan ke dalam kekekalan tanpa akhir. Kesimpulan yang dapat ditarik dari hal ini terdiri atas serangkaian nasihat.
1. Perihal sikap tenang dan berjaga-jaga: “Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang (ay. 7). Biarlah pikiran dan akal budimu menjadi awas, tidak goyah, dan mantap. Jagalah dengan ketat agar kamu menjauhkan diri dari segala kesenangan duniawi. Jangan biarkan dirimu terperangkap oleh dosa-dosa dan godaan-godaan masa lalu (ay. 3), supaya kamu dapat berdoa. Usahakanlah agar kamu senantiasa dalam keadaan tenang dan mawas diri, sehingga layak untuk berdoa. Seringlah berdoa, kalau-kalau kesudahan ini akan menimpamu tanpa disangka-sangka” (Luk. 21:34; Mat. 26:40-41). Ketahuilah bahwa,
(1) Pertimbangan akan kesudahan yang sudah dekat merupakan alasan kuat untuk membuat kita bersikap bijak di dalam semua urusan duniawi, dan bersungguh-sungguh dalam urusan keagamaan.
(2) Orang-orang yang hendak berdoa dengan suatu tujuan harus tenang supaya dapat berdoa. Mereka harus menjaga roh mereka sendiri, memperhatikan setiap peluang yang cocok, dan melakukan tugas mereka dengan sebaik-baiknya.
(3) Mengatur atau menguasai tubuh dengan benar sangat berguna untuk mengerjakan kebaikan bagi jiwa. Ketika keinginan dan kehendak tubuh dikendalikan dan dikuasai oleh firman Allah serta akal sehat, dan semua minat menyangkut tubuh tunduk kepada minat serta kebutuhan jiwa, maka tubuh itu tidak akan menjadi musuh, melainkan sahabat dan penolong bagi jiwa.
2. Perihal kasih: Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain (ay. 8). Inilah aturan yang mulia dalam Kekristenan. Orang-orang Kristen harus saling mengasihi, yang menyiratkan rasa sayang kepada pribadi-pribadi, keinginan agar mereka sejahtera, dan upaya sepenuh hati untuk mencapainya. Kasih sayang kepada satu sama lain ini janganlah dingin, tetapi dengan sungguh-sungguh, yakni tulus, kuat, dan bertahan lama. Kasih sayang yang sungguh-sungguh semacam ini dianjurkan sebagai yang terutama melebihi segala hal, yang menunjukkan betapa pentingnya hal itu (Kol. 3:14). Kasih lebih besar daripada iman ataupun pengharapan (1Kor. 13:13). Salah satu akibat luar biasa yang dihasilkan oleh kasih adalah bahwa, ia mampu menutupi banyak sekali dosa. Ketahuilah,
(1) Di dalam diri semua orang Kristen harus ada kasih yang lebih sungguh-sungguh terhadap satu sama lain dan terhadap orang lain: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain. Rasul Petrus tidak berkata supaya mereka mengasihi orang tidak percaya, para penyembah berhala, atau orang-orang yang murtad, melainkan seorang akan yang lain di antara sesama orang Kristen. Peliharalah kasih persaudaraan (Ibr. 13:1). Terdapat suatu hubungan istimewa di antara semua orang Kristen yang tulus. Ada sifat yang ramah dan menyenangkan dan baik di dalam diri mereka, yang menuntut kasih sayang yang istimewa.
(2) Tidaklah cukup bagi orang-orang Kristen untuk tidak berbuat jahat, atau saling menghormati begitu saja. Mereka harus saling mengasihi dengan sungguh dan sepenuh hati.
(3) Sungguh merupakan ciri kasih sejati untuk menutupi banyak sekali dosa. Kasih membuat orang cenderung memaafkan dan melupakan pelanggaran yang dilakukan orang terhadap diri mereka, untuk menutupi dan menyembunyikan dosa orang lain, bukannya memperburuk dan menyebarkannya. Kasih mengajar kita untuk mengasihi mereka yang lemah dan telah melakukan banyak kejahatan sebelum mereka bertobat. Kasih juga mempersiapkan belas kasihan Allah yang telah berjanji untuk mengampuni orang-orang yang mengampuni orang lain (Mat. 6:14).
3. Perihal memberikan tumpangan (ay. 9). Artinya, menjamu orang asing dan pelancong dengan ramah tanpa memungut bayaran. Mereka yang paling layak menerima keramahan Kristen ini adalah sesama orang Kristen juga. Kedekatan hubungan mereka, serta gentingnya keadaan mereka dalam masa aniaya serta kesukaran ketika surat Petrus ini ditulis, mengharuskan orang-orang Kristen saling memberikan tumpangan. Adakalanya semua harta benda orang Kristen dirampas, dan mereka diusir ke negeri-negeri yang jauh demi keselamatan diri. Dalam hal ini, mereka akan mati kelaparan apabila sesama orang Kristen tidak mau menyambut mereka. Oleh sebab itu, aturan yang ditetapkan Rasul Petrus di sini sungguh bijaksana dan penting. Di ayat lain, hal ini bahkan diperintahkan (Ibr. 13:1-2; Rm. 12:13). Cara melaksanakan tugas ini adalah, harus dikerjakan dengan cara yang tenang, ramah, dan tepat, dengan tidak bersungut-sungut atau menggerutu karena pengeluaran ataupun kerepotan yang diakibatkan. Ketahuilah,
(1) Orang-orang Kristen tidak saja harus mengasihi, tetapi juga saling memberikan tumpangan.
(2) Apa pun yang dilakukan orang Kristen dengan kasih ataupun memberikan tumpangan, harus dilakukannya dengan sukacita, dan tanpa bersungut-sungut. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.
4. Perihal memanfaatkan karunia-karunia (ay. 10).
(1) Aturannya adalah, karunia apa pun, baik yang biasa maupun luar biasa, kekuatan, kemampuan, atau kecakapan berbuat baik apa saja yang diberikan kepada kita, harus kita gunakan untuk melayani seorang akan yang lain, tanpa menganggap diri sendiri sebagai tuan, tetapi hanya pengurus yang baik dari kasih karunia, atau berbagai karunia dari Allah. Ketahuilah,
[1] Kemampuan apa saja yang kita miliki untuk berbuat baik, haruslah kita akui sebagai karunia atau pemberian Allah dan menyatakannya sebagai kasih karunia-Nya.
[2] Apa pun kasih karunia yang kita terima, kita harus memandangnya sebagai sesuatu yang diterima untuk digunakan bagi kebaikan seorang akan yang lain. Janganlah kita menganggapnya sebagai milik sendiri, atau menyembunyikannya, tetapi layanilah seorang akan yang lain dengan cara sebaik mungkin.
[3] Dalam menerima dan menggunakan berbagai karunia Allah, kita harus memandang diri sendiri sebagai pengurusnya semata, dan bertindak sesuai dengan itu. Semua karunia yang dipercayakan kepada kita merupakan milik Allah, dan harus dilaksanakan seperti yang ditunjukkan-Nya. Seorang pengurus dituntut agar ia didapati setia.
(2) Rasul Petrus memberikan dua contoh khusus mengenai bagaimana menggunakan karunia Allah itu, yaitu dalam berbicara dan melayani. Mengenai kedua hal ini ia memberikan aturan-aturan sebagai berikut:
[1] Jika ada orang, baik seorang hamba Tuhan di depan umum maupun orang Kristen dalam percakapan pribadi, yang berbicara atau mengajar, ia harus melakukannya sebagai orang yang menyampaikan firman Allah, yang mengarahkan jemaat kepada firman Allah yang menjadi pokok perkataan kita. Apa yang oleh orang Kristen secara pribadi, atau oleh hamba Tuhan di depan umum, diajarkan dan disampaikan, haruslah merupakan firman dan petunjuk Allah yang murni. Mengenai cara berbicara, hal itu harus dilakukan dengan sungguh, penuh hormat, dan khidmat, seperti yang seharusnya diperbuat terhadap firman yang kudus dan ilahi.
[2] Jika ada orang yang melayani, baik sebagai diaken yang membagi-bagikan sedekah dari gereja dan mengurus kaum miskin, atau secara pribadi, melalui pemberian kasih dan sumbangan, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah. Orang yang telah menerima banyak hal dan kemampuan dari Allah, harus banyak melayani sesuai kemampuannya. Aturan-aturan ini harus diikuti dan dilaksanakan demi tujuan ini, yakni supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu, baik di dalam semua karunia, pelayanan, maupun pekerjaanmu, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga (Mat. 5:16), karena Yesus Kristus, yang telah mendapatkan dan memberikan karunia-karunia ini kepada manusia (Ef. 4:8). Hanya melalui Dia sajalah kita dan pelayanan kita diperkenan oleh Allah (Ibr. 13:15), dan kepada Dia, Yesus Kristus, yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin. Ketahuilah,
Pertama, bahwa merupakan kewajiban orang-orang Kristen secara pribadi, dan juga para hamba Tuhan di depan umum, untuk berbicara seorang kepada yang lain mengenai hal-hal dari Allah (Mal. 3:16; Ef. 4:29; Mzm. 145:10-12).
Kedua, sungguh menjadi urusan semua pemberita Injil agar tetap melekat pada firman Allah, dan memperlakukan firman itu sebagaimana yang seharusnya dilakukan terhadap perkataan Allah.
Ketiga, orang-orang Kristen jangan hanya sekadar melakukan kewajiban mereka semata, tetapi harus melaksanakannya dengan penuh semangat dan sesuai kemampuan mereka yang terbaik. Hakikat pekerjaan kristiani, yaitu kerja keras dan mulia, kebaikan hati dan kebajikan seperti Sang Guru, serta keunggulan pahalanya, semua ini menuntut agar usaha keras kita dilakukan dengan sungguh-sungguh dan penuh semangat. Juga, apa saja yang harus kita lakukan sesuai panggilan demi kehormatan Allah dan kebaikan orang lain, harus kita lakukan dengan sekuat tenaga.
Keempat, di dalam semua kewajiban dan pelayanan hidup ini, kita harus menjadikan kemuliaan Allah sebagai tujuan utama kita. Semua pandangan lain harus mematuhi tujuan ini, sehingga dapat menguduskan tindakan dan urusan sehari-hari kita (1Kor. 10:31).
Kelima, Allah tidak akan dipermuliakan melalui apa pun yang kita lakukan, apabila kita tidak mempersembahkannya kepada-Nya melalui perantaraan dan jasa Yesus Kristus. Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus, yang merupakan satu-satunya jalan kepada Bapa.
Keenam, pemujaan Rasul Petrus kepada Yesus Kristus, dengan menaikkan pujian dan mengakui kekuasaan-Nya yang tak terbatas dan kekal, membuktikan bahwa Yesus Kristus adalah Allah Mahatinggi atas semua orang yang terberkati sampai selamanya. Amin.
Minggu, Agustus 11, 2024
Khotbah Yohanes 17:17
Minggu, Juli 28, 2024
Kotbah Minggu 28 Juli 2024
Tuhan Tak Pernah Ingkar Janji
Yosua 21:45 (TB) Dari segala yang baik yang dijanjikan TUHAN kepada kaum Israel, tidak ada yang tidak dipenuhi; semuanya terpenuhi.
I. Allah telah berjanji untuk memberikan kepada keturunan Abraham tanah Kanaan menjadi milik mereka, dan kini akhirnya Dia menggenapi janji tersebut (ay. 43): Mereka menduduki negeri itu dan menetap di sana. Meskipun mereka sudah berkali-kali kehilangan keuntungan janji itu, dan Allah lama menunda penggenapannya, tetapi pada akhirnya segala kesulitan ditaklukkan, dan Kanaan menjadi milik mereka. Janji akan Kanaan surgawi sama pastinya bagi semua orang Israel rohani Allah, sebab janji itu berasal dari Dia yang tidak dapat berdusta.
II. Allah telah berjanji untuk memberi mereka istirahat di negeri itu, dan kini mereka merasakan istirahat di segala penjuru, istirahat dari kelelahan karena perjalanan mereka melalui padang gurun. Perjalanan panjang yang, mungkin, melelahkan sampai ke tulang sumsum mereka. Merasakan istirahat dari peperangan mereka di Kanaan, dan cemoohan yang pada awalnya dilayangkan musuh mereka kepada mereka. Mereka kini menetap, bukan hanya di tempat tinggal milik mereka sendiri, tetapi juga di tempat tinggal yang tenang dan damai. Meskipun masih ada orang Kanaan yang tersisa, tidak ada yang memiliki keberanian atau semangat untuk menyerang mereka, atau sampai membuat mereka merasa was-was. Istirahat ini akan terus ada sampai mereka, karena dosa dan kebodohan mereka sendiri, menaruh duri di tempat tidur dan mata mereka sendiri.
III. Allah telah berjanji untuk memberi mereka kemenangan dan keberhasilan dalam peperangan mereka, dan janji ini pun digenapi: Tidak ada seorangpun yang tahan berdiri menghadapi mereka (ay. 44). Mereka mendapat kemenangan dalam setiap pertempuran, dan ke mana pun pasukan mereka ditempatkan, mereka berhasil. Memang betul masih ada orang Kanaan yang saat itu tersisa di banyak bagian negeri itu, dan orang Kanaan itu di kemudian hari melawan mereka, dan menjadi sangat kuat. Akan tetapi,
1. Mengenai orang Kanaan yang tersisa pada waktu itu, hal ini tidaklah bertentangan dengan janji Allah, sebab Allah telah mengatakan bahwa Dia tidak akan menghalau musuh mereka sekaligus, melainkan sedikit demi sedikit (Kel. 23:30). Orang Israel kini memiliki sebanyak yang dapat mereka miliki dan sebanyak yang dapat dikelola tangan mereka, sehingga orang Kanaan hanya dapat memiliki bagian-bagian negeri itu yang masih kurang digarap untuk menjaga terhadap segala binatang hutan. Dengan berjalannya waktu, mereka akan bertambah menjadi cukup banyak untuk menempati bagian-bagian itu.
2. Mengenai merajalelanya orang Kanaan di kemudian hari, hal itu sepenuhnya akibat kepengecutan dan kemalasan orang Israel, dan hukuman terhadap kecenderungan mereka akan dosa penyembahan berhala dan kekejian lain yang dilakukan bangsa-bangsa lain, yang sebenarnya hendak disingkirkan Allah dari hadapan mereka, tetapi justru mereka lindungi dan manjakan. Pengalaman orang Israel akan kesetiaan Allah di sini dicatat dan menjadi bukti akan kemuliaan Allah, serta bukti kebenaran akan janji-Nya yang sering kali diragukan. Dan juga penguatan bagi semua orang percaya sampai kepada akhir zaman, bahwa Tidak ada yang tidak dipenuhi, tidak, tidak ada sesuatu pun dari segala yang baik, begitu lengkapnya ungkapan ini, yang dijanjikan TUHAN kepada kaum Israel, yang tidak tergenapi, melainkan pada waktunya semuanya terpenuhi (ay. 45). Pengakuan seperti ini, yang di sini dibuat oleh Yosua atas nama seluruh Israel, kita dapati di kemudian waktu dibuat oleh Salomo, dan seluruh Israel sebagai tanggapannya mengucapkan Amin terhadap pengakuan itu (1Raj. 8:56). Kebenaran janji Allah yang mutlak benar, dan penggenapannya yang sempurna, itulah yang siap diberi kesaksian kebenarannya oleh semua orang kudus. Dan, jika sampai ada sesuatu dari janji-Nya yang tidak terpenuhi, maka mereka sama siapnya untuk mengakui bahwa mereka sendirilah yang harus disalahkan.
Menerima janji Tuhan terkadang disalahartikan dengan diam dan duduk menadahkan tangan untuk menantikan tercurahnya penggenapan atas janji itu.
Namun dari kisah penggenapan janji Tuhan atas Israel, kita mempelajari hal berbeda.
Allah pernah berjanji kepada umat pilihan-Nya bahwa Ia akan memberikan tanah kepada mereka, dan Ia kemudian memang menggenapi janji-Nya kepada umat-Nya. Namun di dalam penggenapan itu tidak terkandung maksud bahwa umat pilihan-Nya dibiarkan menerimanya secara pasif, hanya dengan menunggu dan menadahkan tangan. Umat Tuhan harus aktif di dalam ketaatan kepada perjanjian Tuhan. Allah memang telah berjanji memberikan tanah, tetapi bangsa itu harus menyadari bahwa kepemilikan penuh atas tanah itu hanya bisa terjadi melalui ketaatan dan kesetiaan penuh kepada Allah.
Bila mereka tidak setia dan tidak taat kepada Tuhan, maka kepemilikan penuh atas tanah itu tidak akan terwujud. Meski banyak musuh yang berusaha mengalahkan mereka, sepanjang umat setia kepada Tuhan maka tak ada satu musuh pun yang dapat mengalahkan mereka. Telah terbukti bahwa Allah menggenapi janji-Nya kepada Israel, meski hal itu memakan waktu lama karena semua itu terjadi berdasarkan waktu Tuhan sendiri. Oleh karena itu diperlukan kesetiaan untuk menantikan saatnya tiba.
Lalu bagaimana kita menantikan penggenapan janji Tuhan?
☝️Percayalah kepada Tuhan, sang Pemberi janji. Sebuah janji tidak bermakna apa-apa jika sang pemberi janji bukanlah pribadi yang layak dipercaya.
✌️Belajarlah untuk melihat penggenapan janji Tuhan lewat cara dan waktu-Nya. Hal yang sering membuat kita tidak sabar menantikan janji Tuhan,karena kita ingin janji itu digenapi lewat cara dan waku kita, bukan lewat cara dan waktu-Nya.
Maka belajarlah untuk memercayai janji-Nya dan percaya bahwa cara dan waktu-Nya selalu yang terbaik bagi kita. Dan dalam penantian akan penggenapan janji itu, latihlah diri untuk selalu taat akan firmanNya.
We encounter this same faithfulness every day. We will never reach a point in our relationship with God where we will only look to the past to see God’s faithfulness. This is because He continues to be faithful in our present and will continue to be faithful in our future.
TETAP SETIA
Minggu, Juli 21, 2024
Pembinaan Warga Gereja
Pembinaan Warga Gereja
Rumusan tujuan pembinaan warga gereja sangat beragam. Masing-masing pendidik menentukan tujuannya sendiri-sendiri, tergantung pada perspektif teologis yang dianutnya. Hal itu wajarwajar saja. Yang jelas bahwa tujuan dari suatu usaha adalah sangat penting, termasuk tujuan dari pembinaan warga gereja itu sendiri.
Renungan Kolose 3
Kolose 3
1 Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah.
2 Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.
3 Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.
I. Rasul Paulus menasihati kita untuk mengarahkan hati kita ke sorga dan melepaskannya dari dunia ini (ay. 1-4).
II. Ia menasihati kita agar mematikan dosa, dalam berbagai bentuknya (ay. 5-11),
III. Dengan bersungguh-sungguh Ia menekankan kita untuk saling mengasihi dan berbelas kasihan (ay. 12-17). Dan ia mengakhiri dengan berbagai-bagai nasihat mengenai kewajiban-kewajiban dalam berbagai hubungan, istri dan suami, orangtua dan anak, serta tuan dan hamba (ay. 18-25).
Kehidupan Rohani (3:1-4)
Setelah menjelaskan hak-hak istimewa yang kita peroleh melalui Kristus dalam bagian sebelumnya dari surat ini, dan bagaimana kita dilepaskan dari kuk upacara hukum Taurat, di bagian ini Rasul Paulus menekankan tugas kita kepada kita, sebagai akibat dari semuanya itu. Meskipun kita telah dibebaskan dari kewajiban upacara hukum Taurat, itu bukan berarti kita boleh hidup sekehendak hati. Kita harus berjalan semakin dekat lagi dengan Allah di dalam setiap bentuk ketaatan terhadap Injil. Paulus memulai dengan menasihati supaya jemaat di Kolose mengarahkan hati ke sorga, dan menjauhkan hati mereka dari dunia ini. Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus. Bahwa kita telah dibangkitkan bersama dengan Kristus, itu merupakan hak istimewa bagi kita. Maksudnya, kita memperoleh keuntungan dari kebangkitan Kristus, dan melalui persatuan dan persekutuan kita dengan Dia, kita dibenarkan dan dikuduskan, dan juga akan dimuliakan. Dari sini, Paulus menyimpulkan bahwa kita harus mencari perkara yang di atas. Kita harus lebih memikirkan hal-hal yang ada di sorga daripada hal-hal di dalam dunia ini. Kita mesti menjadikan sorga sebagai sasaran dan tujuan kita. Kita juga harus mencari perkenanan dari Allah yang ada di sorga, memelihara persekutuan kita dengan dunia atas melalui iman, pengharapan, dan kasih kudus. Begitu juga, kita harus selalu peduli dan berusaha menjamin terpenuhinya hak dan persyaratan kita untuk menerima sukacita sorgawi. Dan alasannya adalah karena Kristus duduk di sebelah kanan Allah. Kristus, yang adalah sahabat terbaik dan Kepala kita, diangkat hingga mencapai kemuliaan dan kehormatan tertinggi di sorga, dan telah pergi mendahului kita untuk mengamankan kebahagiaan sorgawi bagi kita. Itulah sebabnya, kita harus berusaha dan melindungi apa yang telah dibeli-Nya dengan harga yang sangat mahal, dan yang begitu diperhatikan oleh-Nya. Kita harus semampunya menjalani hidup sedemikian rupa sebagaimana Kristus dahulu hidup di dunia ini, dan sekarang hidup di sorga.
I. Paulus menjelaskan kewajiban ini (ay. 2). Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Perhatikan, mencari perkara-perkara sorgawi berarti selalu memikirkan atau mengarahkan hati kepada perkara-perkara tersebut, mencintainya dan membiarkan supaya segala keinginan kita tertuju pada semua perkara itu. Dengan sayap pikiran seperti ini, hati melayang ke atas, dan dibawa menuju ke hal-hal yang rohani dan ilahi. Kita harus membiasakan diri dengan perkara-perkara yang di atas, menghargainya lebih dari semua hal yang lain, dan mempersiapkan diri kita untuk menikmatinya. Daud memberikan bukti akan cintanya untuk rumah Allah demikian, bahwa ia bersungguh-sungguh mengingini dan mencarinya, dan mempersiapkan diri bagi rumah Allah (Mzm. 27:4). Ini artinya memiliki keinginan Roh (Rm. 8:6) dan dengan rindu mencari suatu tanah air yang lebih baik yaitu satu tanah air sorgawi (Ibr. 11:14, 16). Di sini, perkara-perkara yang di bumi dipertentangkan dengan perkara-perkara yang di atas. Kita tidak boleh menyukai perkara-perkara yang di bumi, ataupun berharap terlalu banyak darinya, agar dengan begitu kita dapat memikirkan sorga. Ini dikarenakan bahwa sorga dan bumi saling bertolak belakang, dan menunjukkan penghargaan tertinggi kepada kedua-duanya adalah hal yang tidak masuk akal. Besarnya pikiran kita terhadap yang satu akan melemahkan dan mematikan hati kita terhadap yang lain dengan kekuatan yang sama pula.
II. Paulus mengemukakan tiga alasan mengapa tugas ini harus dilakukan (ay. 3-4).
1. Karena kita telah mati. Maksudnya, terhadap hal-hal yang sekarang, dan bahwa kematian merupakan bagian kita. Kita mati menurut pengakuan kita, dan sebagai kewajiban kita. Karena kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Kristus, dan telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya. Setiap orang Kristen telah disalibkan bagi dunia, dan dunia telah disalibkan baginya (Gal. 6:14). Apabila kita telah mati bagi hal-hal yang di bumi, dan telah menolaknya untuk menjadi kebahagiaan bagi kita, maka tidaklah masuk akal bila kita masih memikirkan hal-hal tersebut, dan mencarinya. Kita semestinya menjadi seperti orang mati terhadapnya, tidak tergerak dan tidak memiliki kegemaran terhadapnya.
2. Karena hidup kita yang sesungguhnya terletak di sorga. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah (ay. 3). Dari sanalah, manusia baru memperoleh kehidupannya. Manusia baru dilahirkan dan dipelihara dari sorga, dan kesempurnaan hidupnya dijaga supaya bisa hidup di sorga. Hidup kita tersembunyi bersama dengan Kristus, bukan hanya tersembunyi dari kita, supaya tidak diketahui, melainkan juga tersembunyi bagi kita, supaya aman. Hidup seorang Kristen tersembunyi bersama dengan Kristus. Sebab Aku hidup dan kamu pun akan hidup (Yoh. 14:19). Saat ini, Kristus adalah Kristus yang tersembunyi, atau Kristus yang belum pernah kita lihat. Namun, inilah penghiburan kita, yaitu bahwa hidup kita tersembunyi bersama dengan Dia, dan tersimpan aman bersama-Nya. Seperti halnya kita mempunyai alasan untuk mengasihi-Nya, sekalipun kita belum pernah melihat Dia (1Ptr. 1:8), begitu juga kita bisa memperoleh penghiburan dari sukacita yang masih belum kelihatan dan tersimpan di sorga bagi kita.
3. Karena pada saat kedatangan Kristus yang kedua kalinya, kita memiliki pengharapan bahwa sukacita kita akan disempurnakan. Jika sekarang kita menjalani kehidupan Kristen yang murni dan taat, maka apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan (ay. 4). Perhatikanlah,
(1) Kristus merupakan kehidupan seorang percaya. Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku (Gal. 2:20). Kristus adalah pokok dan tujuan kehidupan orang Kristen. Dia hidup di dalam kita melalui Roh-Nya, dan kita hidup bagi Dia di dalam segala perbuatan kita. Bagiku hidup adalah Kristus (Fil. 1:21).
(2) Kristus akan menyatakan diri kembali. Sekarang Ia tersembunyi, dan langit harus memuat Dia, namun Ia akan menyatakan diri-Nya di dalam segala kemegahan sorga, bersama malaikat-malaikat kudus-Nya, dalam kemuliaan-Nya dan dalam kemuliaan Bapa-Nya (Mrk. 8:38; Luk. 9:26).
(3) Ketika Dia menyatatakan diri kembali saat itu, kita pun akan menyatakan diri bersama-sama dengan Dia di dalam kemuliaan. Merupakan kemuliaan bagi-Nya ketika umat yang telah ditebus-Nya ada bersama-sama dengan Dia saat itu. Ia akan datang untuk dimuliakan di antara orang-orang kudus-Nya (2Tes. 1:10). Dan merupakan kemuliaan juga bagi umat-Nya saat itu, ketika mereka datang bersama Dia, dan hidup bersama Dia selama-lamanya. Pada saat kedatangan Kristus yang kedua kalinya, semua orang kudus akan berjumpa bersama-sama. Orang-orang yang sekarang hidupnya tersembunyi bersama dengan Kristus, pada waktu itu akan tampil bersama Kristus di dalam kemuliaan itu, yang sangat dinikmati-Nya (Yoh. 17:24). Apakah kita mencari kebahagiaan yang demikian? Bukankah seharusnya kita mengarahkan hati kita kepada dunia yang di atas itu, dan hidup lebih tinggi daripada dunia yang di bawah sini? Ada apa di dalam dunia ini yang membuat kita gemar terhadapnya? Apakah yang tidak ada di sorga, sehingga hati kita tidak tertarik kepadanya? Kepala kita ada di sana, rumah kita ada di sana, harta kita ada di sana, dan kita berharap supaya berada di sana untuk selama-lamanya.
Entri yang Diunggulkan
Prayer In The Morning
Prayer To God in the Morning Psalm 143:8 New International Version (NIV) 8 Let the morning bring me word of your unfailin...
-
Allah yang Kekal Pujian dan hormat, k'mulyaan dan kuasa Bagi Allah yang kekal Dan segala bangsa, s'gala ciptaan Sujud di...
-
Bila Kuingat Cinta Tuhan Bila kuingat cinta Tuhanku Ku tidak akan mundur lagi Bila kuingat cinta Tuhanku Ku tidak akan mundur...
-
Ibadah Raya Perjamuan Kudus GPdI Mutiara Siloam Gembala Pdt. Jonathan Daud WL : Pdt. Mais Singer : Vivi Manumpil ...