Rabu, Februari 04, 2026

IMAN DALAM KELUARGA

Lukas 16:19-24, 27-31 (TB)  "Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan.
Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu,
dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya.
Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham.
Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya.
Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.
Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku,
sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini.
Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu.
Jawab orang itu: Tidak, Bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat.
Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati."

Kematian itu dapat datang kepada siapapun. Tidak memandang usia, jabatan, kekuasaan, kekayaan, ataupun kepada seseorang dengan segala kekurangan ketiadaan, kematian bisa datang. 

1. PASTIKAN KEPALA RUMAH TANGGA JADI AGEN
Kisah Para Rasul 10:33 (TB) Karena itu segera kusuruh (Cornelius) orang kepadamu (Petrus) dan dengan senang hati engkau telah datang. Sekarang kami semua sudah hadir di sini di hadapan Allah untuk mendengarkan apa yang ditugaskan Allah kepadamu."

2. KEPUTUSAN JANGAN PERNAH KOMPROMI DENGAN IMAN
Kisah Para Rasul 16:31 (TB) Jawab mereka: "Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu." 

3. PASTIKAN SEGALA YANG KITA ALAMI DAN PUNYA ADA HADIRAT ALLAH DI DALAMNYA
Kisah Para Rasul 16:34 (TB) Lalu ia membawa mereka ke rumahnya dan menghidangkan makanan kepada mereka. Dan ia sangat bergembira, bahwa ia dan seisi rumahnya telah menjadi percaya kepada Allah.

4. KETELADANAN 
2 Timotius 1:5 (TB) Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu. 


Minggu, Januari 04, 2026

IMANUEL

IMANUEL

Keluaran 33:15 (TB)  Berkatalah Musa kepada-Nya: "Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini.

Exodus 33:15 (NET)  And Moses said to him, “If your presence does not go with us, do not take us up from here.

Ayat tersebut, didasari oleh ayat sebelumnya :
Keluaran 33:1-3 (TB) Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Pergilah, berjalanlah dari sini, engkau dan bangsa itu yang telah kaupimpin keluar dari tanah Mesir, ke negeri yang telah Kujanjikan dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub, demikian: Kepada keturunanmulah akan Kuberikan negeri itu — 
Aku akan mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu dan akan menghalau orang Kanaan, orang Amori, orang Het, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus --
yakni ke suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madu. Sebab Aku tidak akan berjalan di tengah-tengahmu, karena engkau ini bangsa yang tegar tengkuk, supaya Aku jangan membinasakan engkau di jalan."

Musa memilih resiko tersebut, memohon agar Tuhan hadir dalam perjalanan mereka.
Setelah kembali ke pintu Kemah Pertemuan, Musa menjadi seorang pemohon yang rendah hati dan mendesak-desak untuk mendapatkan dua karunia besar. Sebagai pemimpin, ia memiliki kuasa bersama Allah, sehingga ia pun berhasil mendapatkan kedua karunia besar itu. Dalam hal ini Ia melambangkan Kristus, Sang Pengantara Agung, yang senantiasa didengar Bapa.

I. Musa sangat bersungguh-sungguh memohon agar Allah mengabulkan permohonannya, yaitu supaya Ia hadir di tengah umat Israel dalam sisa perjalanan mereka menuju Kanaan, walaupun mereka sudah membangkitkan amarah-Nya. Mereka pantas menerima murka Allah akibat dosa yang mereka lakukan dan karena menolak apa yang telah diusahakan oleh Musa (32:14). Karena sebab yang sama mereka juga telah kehilangan hadirat Allah yang penuh rahmat, beserta seluruh kebaikan dan penghiburannya, dan hal inilah yang sekarang sedang diminta kembali oleh Musa. Demikian juga melalui perantaraan Kristus, kita tidak saja terbebas dari kutuk, tetapi juga memperoleh jaminan berkat. Kita tidak saja diselamatkan dari kehancuran, tetapi juga berhak menerima kebahagiaan kekal. Amatilah sekarang betapa mengagumkan cara Musa mengajukan perkara ini di hadapan Allah, dan memenuhi mulutnya dengan kata-kata pembelaan. Betapa ia sangat menghargai perkenan Allah, dan betapa besar perhatiannya terhadap kemuliaan Allah dan kesejahteraan Israel. Betapa gigih ia memohon, dan bagaimana ia berhasil.

1. Betapa gigih ia memohon.

(1) Ia bersikeras perihal tugas yang telah diberikan Allah kepadanya, yaitu untuk menyuruh bangsa ini berangkat (ay. 12). Ia mengawali dengan berkata, “TUHAN, Engkau sendirilah yang menyuruhku, dan tidakkah Engkau mau mengakuiku? Aku sedang melakukan tugasku, jadi bukankah aku harus memperoleh penyertaan-Mu dalam tugasku?” Siapa yang Allah panggil untuk suatu pekerjaan, Ia pasti akan memperlengkapi orang itu dengan bantuan yang diperlukan. “Ya TUHAN, Engkau telah menyuruhku melaksanakan sebuah pekerjaan besar, namun membiarkanku tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana harus menyelesaikannya.” Perhatikanlah, orang-orang yang dengan sungguh berencana dan berusaha keras melaksanakan tugas mereka, dapat dengan iman memohon petunjuk serta kekuatan kepada Allah untuk bisa mengerjakannya.

(2) Musa menekankan kepentingannya sendiri terhadap Allah, dan memohon supaya Allah menyatakan kebaikan-Nya yang penuh rahmat kepadanya: Engkau berfirman: Aku mengenal namamu, sebagai teman istimewa dan orang kepercayaan, dan juga engkau mendapat kasih karunia di hadapan-Ku, melebihi siapa pun. Maka sekarang, kata Musa, jika aku kiranya mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, beritahukanlah kiranya jalan-Mu kepadaku (ay. 13). Allah sudah menyatakan perkenanan-Nya kepada bangsa itu, tetapi mereka telah kehilangan kebaikannya, sehingga Musa tidak dapat mengingatkan Allah akan janji perkenan-Nya itu. Oleh sebab itu Musa menekankan permohonannya pada apa yang telah dikatakan Allah kepadanya saja. Meskipun menurutnya ia tidak pantas menerimanya, namun ia berharap tidak kehilangan kebaikan itu. Karena itulah ia tetap gigih memohon kepada Allah, “TUHAN, jika Engkau memang hendak berbuat sesuatu bagiku, lakukanlah itu bagi bangsa ini.” Demikian juga Yesus Tuhan kita dalam pengantaraan-Nya, datang menghadap Bapa, sebagai Pribadi yang senantiasa mendapat perkenanan-Nya, sehingga dengan demikian memperoleh rahmat bagi kita yang seharusnya layak dimurkai-Nya. Kasih karunia-Nya yang mulia, dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya. Demikian jugalah orang-orang yang mengabdi demi kesejahteraan umum, sangat suka menekankan kepentingan mereka terhadap Allah dan juga manusia demi kebaikan orang banyak. Amatilah untuk apa ia begitu bersungguh-sungguh: Supaya aku tahu jika aku kiranya mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, beritahukanlah kiranya jalan-Mu kepadaku. Perhatikanlah, petunjuk ilahi merupakan salah satu bukti terbaik akan perkenanan ilahi. Melalui hal ini kita bisa tahu bahwa kita telah mendapat kasih karunia di hadapan Allah, yaitu jika kita menemukan kasih karunia di hati kita untuk membimbing dan mendorong kita dalam melaksanakan tugas. Perbuatan baik Allah di dalam diri kita merupakan penemuan paling pasti akan niat baik-Nya kepada kita.

(3) Musa juga mengatakan secara tidak langsung bahwa meskipun sangat tidak layak menerimanya, umat Israel juga mempunyai suatu hubungan dengan Allah: “Ingatlah, bahwa bangsa ini umat-Mu, umat untuk siapa Engkau telah melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, yang Engkau tebus bagi diri-Mu sendiri, dan Engkau bawa untuk mengikat perjanjian dengan diri-Mu sendiri. TUHAN, mereka adalah milik-Mu, janganlah meninggalkan mereka.” Seorang ayah yang terluka hatinya mempertimbangkan, “Anakku memang bodoh dan suka membangkang, tetapi dia anakku juga, dan aku tidak sanggup meninggalkannya.”

(4) Musa mengutarakan betapa ia sangat menghargai kehadiran Allah. Ketika Allah berkata, Aku sendiri hendak membimbing engkau, Musa menangkap perkataan itu, seperti orang yang tidak akan bisa hidup dan bergerak tanpanya: “Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini” (ay. 15). Ia berbicara seperti orang yang takut membayangkan harus berangkat tanpa kehadiran Allah, karena tahu bahwa perjalanan panjang mereka tidak akan aman apabila Allah tidak beserta mereka. “Lebih baik kami berbaring dan mati di padang gurun sini daripada berangkat ke Kanaan tanpa kehadiran Allah.” Perhatikanlah, orang-orang yang tahu menghargai perkenan Allah, akan menyiapkan diri sebaik-baiknya untuk menerimanya. Amatilah betapa bersungguh-sungguhnya Musa dalam perkara ini. Ia memohon seperti orang yang tidak mau menerima penolakan. “Kami akan tetap tinggal di sini sampai kami memperoleh perkenan-Mu. Seperti Yakub, Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku.” Dan amatilah juga bagaimana Musa terus gigih begitu Allah menunjukkan kebaikan-Nya. Isyarat baik yang diberikan kepadanya membuatnya semakin gigih lagi dalam memohon. Begitulah, janji-janji Allah yang penuh rahmat dan belas kasih yang ditunjukkan-Nya kepada kita, tidak hanya mendorong iman kita, tetapi juga membangkitkan kegigihan kita dalam berdoa.

(5) Musa mengakhiri permohonannya dengan mengaitkannya dengan kemuliaan Allah (ay. 16): “Dari manakah gerangan akan diketahui bangsa-bangsa yang memperhatikan kita, bahwa aku telah mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, yakni aku dengan umat-Mu ini bersama siapa seluruh kepentinganku menyatu? Bagaimanakah mereka tahu perkenan khusus yang membuat kami dibedakan dari segala bangsa yang ada di muka bumi ini? Bagaimana bisa terlihat bahwa kami ini benar-benar memperoleh kehormatan seperti itu? Bukankah karena Engkau berjalan bersama-sama dengan kami? Tidak ada hal lagi selain kehadiran-Nya ini yang bisa menjawab semua pertanyaan tadi. Jangan pernah ada yang mengatakan bahwa kami adalah suatu bangsa istimewa yang sangat Engkau kasihi, yang yang berdiri sederajat dengan bangsa-bangsa lain, kecuali Engkau pergi bersama kami. Mengutus malaikat untuk menyertai kami tidaklah berguna bagi kami.” Musa memberikan penekanan pada tempat, yaitu “di sini (KJV), di padang gurun ini, ke mana Engkau telah memimpin kami, tempat kami pasti akan tersesat apabila Engkau meninggalkan kami.” Perhatikanlah, penyertaan khusus Allah bersama kita di tengah padang belantara ini, melalui Roh dan kasih karunia-Nya, untuk mengarahkan, membela, dan menghibur kita, merupakan jaminan paling pasti akan kasih-Nya yang istimewa kepada kita, dan hal ini akan mendatangkan puji-pujian bagi kemuliaan-Nya dan membawa kebaikan kepada kita.

2. Amatilah bagaimana ia berhasil. Ia memperoleh jaminan perkenan Allah,

(1) Bagi dirinya sendiri (ay. 14): “Aku sendiri hendak memberikan ketenteraman kepadamu. Aku akan membantumu mengurus perkara ini. Seperti apa pun jadinya nanti, engkau akan dihiburkan.” Musa memang tidak pernah memasuki Kanaan, tetapi Allah menggenapi firman-Nya bahwa Ia akan memberinya istirahat (Dan. 12:13).

(2) Bagi umat Israel demi kepentingannya. Musa tidak puas dengan jawaban yang memperlihatkan perkenan Allah bagi dirinya semata. Ia harus mendapatkan sebuah janji, janji yang khusus bagi bangsa itu juga. Jika tidak, ia tidak akan merasa tenang. Orang-orang berjiwa pemurah dan pengasih merasa tidak cukup apabila mereka sendiri saja yang masuk ke sorga. Mereka ingin agar semua sahabat mereka bisa pergi ke sana juga. Di dalam hal ini juga Musa berhasil: Juga hal yang telah kaukatakan ini akan Kulakukan (ay. 17). Musa tidak ditegur sebagai seorang peminta-minta yang tidak tahu diri, yang percuma saja jika diberi tahu, sebaliknya ia malah dibesarkan hatinya untuk terus meminta. Allah mengabulkan permohonannya selama ia meminta. Ia memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit. Lihatlah kuasa doa, dan oleh sebab itu besarkan hatimu untuk meminta, mencari, dan mengetuk, dan bertekun dalam doa, serta selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. Lihatlah betapa berlimpahnya kebaikan Allah itu. Ketika Allah telah berbuat banyak, Ia bersedia melakukan lebih banyak lagi: Juga hal yang telah kaukatakan ini akan Kulakukan, jauh melebihi apa yang kita doakan atau pikirkan. Lihatlah, semua ini menggambarkan kegigihan kepengantaraan Kristus yang terus diadakan-Nya bagi semua orang yang datang kepada Allah melalui Dia. Demi kitalah Ia gigih mengantarai kita dengan Allah. Semuanya itu dilakukan-Nya oleh karena diri-Nya sendiri, bukan karena apa pun dalam diri orang-orang untuk siapa Ia menjadi perantara. Itu karena engkau telah mendapat kasih karunia di hadapan-Ku. Sekarang perkara itu sudah diselesaikan, dan Allah diperdamaikan kembali dengan mereka. Hadirat-Nya di dalam tiang awan telah kembali kepada mereka dan akan terus menyertai mereka. Segalanya sudah baik kembali, dan sejak itu kita tidak lagi mendengar tentang anak lembu emas. Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa?

II. Setelah mendapat apa yang dimintanya, Musa selanjutnya memohon agar kemuliaan Allah diperlihatkan kepadanya, dan permohonan ini pun didengar. Amatilah,

1. Permohonan yang diajukan Musa dengan rendah hati: Perlihatkanlah kiranya kemuliaan-Mu kepadaku (ay. 18). Belum lama ini Musa berada di atas gunung bersama Allah, tinggal cukup lama di situ, dan menikmati persekutuan akrab dengan Allah yang belum pernah dialami siapa pun di seberang sorga ini. Namun, ia masih ingin mengenal Dia lebih dekat lagi. Semua orang yang benar-benar mengenal Allah dan bersekutu dengan-Nya, meskipun tidak menginginkan apa pun selain Allah, masih mendambakan lebih banyak lagi dari-Nya, sampai mereka bisa melihat seperti mereka dilihat. Musa telah berhasil membujuk Allah sehingga menerima perkenanan demi perkenanan dari-Nya. Keberhasilan doa-doanya membuat dia berani terus mencari Allah. Semakin banyak yang diterimanya, semakin banyak pula yang dimintanya. Apabila kita sangat diterima di hadapan takhta kasih karunia, kita harus berusaha keras memelihara dan memanfaatkannya, terus berlayar ketika angin masih berembus: “Perlihatkanlah kiranya kemuliaan-Mu kepadaku. Biarkan aku melihatnya”; demikianlah arti kata-kata itu. “Biarlah kemuliaan-Mu itu terlihat, dan mampukanlah aku melihatnya.” Tidak berarti bahwa Musa begitu bodoh karena menyangka bahwa hakikat Allah bisa terlihat dengan mata jasmani. Namun, setelah selama itu ia hanya mendengar suara yang keluar dari dalam tiang awan atau api, ia ingin melihat sekilas gambaran kemuliaan ilahi, sesuai yang dipandang Allah pantas untuk diberikan kepadanya. Sungguh tidak pantas apabila umat melihat perwujudan dalam bentuk apa pun ketika TUHAN sedang berbicara kepada mereka, supaya hal ini tidak mengakibatkan kebinasaan mereka. Namun, ia berharap tidak akan berbahaya baginya apabila ia melihat perwujudan itu. Yang diinginkan Musa adalah sesuatu yang lebih daripada yang pernah dilihatnya. Jika keinginannya ini semata-mata demi membantu meningkatkan iman dan ibadahnya, maka hal ini patut dihargai. Namun, mungkin saja di balik keinginan itu terdapat juga kelemahan manusiawi. Allah ingin kita berjalan di dunia ini dengan iman, bukan dengan penglihatan, dan iman timbul dari pendengaran. Ada yang berpendapat bahwa keinginan Musa melihat kemuliaan Allah adalah untuk meminta tanda perdamaian dari Allah, dan jaminan kehadiran yang telah dijanjikan-Nya kepada mereka, namun hanya saja ia tidak tahu bagaimana harus meminta tanda itu.

2. Jawaban penuh rahmat yang diberikan Allah atas permintaan Musa itu.

(1) Ia menolak memberikan apa yang tidak layak dikabulkan dan yang tidak akan mampu ditanggung oleh Musa: Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku (ay. 20). Dengan keadaannya di dunia ini, semua indra kemampuan manusia tidak cukup mampu untuk tahan memandang kemuliaan Allah, bahkan termasuk Musa sendiri. Manusia terlampau rendah dan tidak pantas melihat wajah-Nya. Ia terlampau lemah sehingga tidak akan mampu menanggungnya. Ia berdosa dan pasti akan takut melihat wajah-Nya. Karena rasa belas kasih terhadap kelemahan kitalah, maka Allah menutupi pemandangan takhta-Nya, melingkupinya dengan awan-Nya (Ayb. 26:9). Allah telah berkata, bahwa di sini, yaitu di dunia ini, wajah-Nya tidak akan kelihatan (ay. 23). Melihat wajah-Nya diperuntukkan bagi keadaan di kemudian hari, untuk menjadi kebahagiaan kekal bagi jiwa-jiwa yang kudus. Seandainya manusia dalam keadaan sekarang ini mengetahui seperti apa wajah-Nya, maka mereka tidak akan merindukannya lagi. Ada hal-hal tentang Allah dan yang bisa dinikmati dari-Nya yang harus dinantikan di dunia lain, ketika kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya (1Yoh. 3:2). Jadi untuk sementara, marilah kita puja keluruhan segala sesuatu yang sudah kita ketahui tentang Allah, dan kedalaman apa yang belum kita ketahui tentang Dia. Jauh sebelum ini, Yakub telah menyatakan dengan takjub bahwa ia telah melihat Allah berhadapan muka, tetapi nyawanya tertolong (Kej. 32:30). Manusia berdosa takut melihat Allah, Hakimnya. Sebaliknya, orang-orang kudus yang mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung, oleh Roh diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya (2Kor. 3:18).

(2) Allah mengabulkan apa yang akan sangat memuaskan hati.

[1] Musa akan mendengar apa yang bisa menyukakan hatinya (ay. 19): Aku akan melewatkan segenap kegemilangan-Ku dari depanmu. Allah telah berbaik hati menunjukkan kepada Musa berbagai contoh kebaikan hati-Nya yang mulia dengan kesediaan-Nya untuk berdamai dengan Israel. Namun, itu barulah kebaikan yang tidak seberapa. Ia akan menunjukkan kepadanya kebaikan langsung dari sumbernya, yaitu segenap kegemilangan-Nya. Ini merupakan jawaban yang cukup terhadap permintaan Musa. “Perlihatkan kemuliaan-Mu kepadaku,” kata Musa. “Aku akan memperlihatkan kegemilangan-Ku kepadamu,” jawab Allah. Perhatikanlah, kegemilangan atau kebaikan Allah merupakan kemuliaan-Nya. Ia ingin agar kita mengenal Dia melalui kemuliaan kasih setia-Nya, lebih dari kemuliaan keagungan-Nya, sebab kita harus gentar kepada TUHAN dan kepada kebaikan-Nya (Hos. 3:5). Terutama yang merupakan kemuliaan kebaikan Allah adalah kedaulatan-Nya, yaitu bahwa Ia akan memberi kasih karunia kepada siapa yang Ia beri kasih karunia. Maksudnya, Allah adalah Sang Pemberi yang berdaulat, Ia memberikan karunia sesuai kehendak-Nya. Ia bukanlah orang yang berutang kepada siapa pun, atau memiliki kewajiban melakukan sesuatu kepada siapa pun. Tidak bolehkah Ia berbuat apa yang dikehendakinya dengan milik-Nya? Selain itu, semua alasan-Nya untuk berbelas kasihan datang dari diri-Nya sendiri, tidak dari jasa baik makhluk ciptaan-Nya. Demikian juga Ia mengasihani siapa yang dikasihani-Nya, karena Ia mau melakukannya. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Tidak pernah disebutkan, “Aku akan marah kepada siapa yang hendak Kumarahi,” sebab murka-Nya senantiasa adil dan kudus. Sebaliknya, Ia berkata, Aku akan mengasihani siapa yang Kukasihani, sebab kasih karunia-Nya senantiasa diberikan dengan cuma-cuma. Ia tidak pernah menghukum dengan sewenang-wenang walaupun Ia memiliki hak sepenuhnya untuk menghukum. Sebaliknya, Ia menyelamatkan karena Ia memiliki hak sepenuhnya untuk menyelamatkan. Rasul Paulus mengutip hal ini (Rm. 9:15) sebagai jawaban kepada orang-orang yang menuduh bahwa Allah bersikap tidak adil karena memberikan suatu kasih karunia dengan murah hati kepada beberapa orang tetapi dengan pantas pula menahannya dari sebagian orang lain.

[2] Musa akan melihat apa yang sanggup ditanggungnya dan apa yang cukup baginya. Perkara itu dirancang begitu rupa agar Musa tetap aman namun juga merasa puas. Pertama, aman di dalam lekuk gunung (ay. 21-22). Melalui cara ini ia akan terlindung dari sinar menyilaukan dan api menghanguskan yang terpancar dari kemuliaan Allah. Inilah batu karang di gunung Horeb tempat air memancar dari dalamnya. Mengenai batu karang itu dikatakan, batu karang itu ialah Kristus (1Kor. 10:4). Di dalam lekuk atau celah batu karang inilah kita aman dari murka Allah yang jika tidak, pasti akan membinasakan kita. Allah sendiri akan melindungi orang-orang yang tersembunyi seperti itu. Dan, hanya melalui Kristus-lah kita memiliki pengetahuan tentang kemuliaan Allah. Tidak seorang pun selain mereka yang berdiri dan berlindung di batu karang ini yang dapat memandang kemuliaan-Nya dan memperoleh ketenteraman di dalamnya. Kedua, Musa harus cukup puas dengan melihat bagian belakang-Nya (ay. 23). Ia akan melihat lebih banyak daripada yang pernah dilihat siapa pun di bumi ini, tetapi tidak sebanyak yang dilihat mereka yang berada di sorga. Pada manusia, wajah merupakan takhta keagungan, dan manusia dikenal dari wajah mereka. Dari wajahlah kita dapat melihat manusia seutuhnya. Tetapi, melihat wajah Allah seperti itu tidak akan mampu dilakukan Musa. Sebaliknya, yang dapat dilihatnya adalah seperti yang kita lihat ketika orang sudah melintas di depan kita, sehingga yang tampak hanyalah punggungnya. Kita hanya bisa melihatnya secara sekilas. Kita tidak bisa disebut melihat Allah. Yang lebih tepat adalah mencari Dia (Kej. 16:13, KJV), sebab kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar. Ketika kita melihat apa yang telah dilakukan Allah melalui karya-karya-Nya, mengamati langkah-langkah Allah kita, Raja kita, maka kita seakan-akan melihat bagian belakang-Nya. Kita hanya mengenal dengan tidak sempurna, dan kita tidak dapat merangkai kata-kata kita tentang Allah karena gambaran yang samar-samar tadi, seperti kita juga tidak dapat menggambarkan orang yang belum pernah kita lihat wajahnya. Sekarang Musa hanya diperkenankan melihat bagian belakang-Nya. Namun jauh sesudah itu, ketika ia menjadi saksi perubahan rupa Kristus di atas bukit, ia melihat wajah-Nya bercahaya seperti matahari. Jika kita setia meningkatkan pengetahuan dan wahyu-wahyu yang diberikan Allah mengenai diri-Nya sendiri sementara kita masih hidup di dunia, maka pemandangan yang lebih cemerlang dan mulia akan segera diperlihatkan kepada kita, karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi.

Ternyata berkat Tuhan tidak sama dengan IA BESERTA KITA. Tidak semua yang berjalan Lancar, Tuhan ada di dalamnya. Sebaliknya, bukan berarti keadaan dengan banyak masalah dan Tuhan tidak ada di dalamnya.

Mana yang lebih berarti bagi kita? Mukjizat Tuhan ataukah Kehadiran Tuhan?

Jadi, bagaimana memastikan bahwa Allah Imanuel itu terjadi dan dialami oleh kita?
1. Keluaran 33:7-17 (TB) Sesudah itu Musa mengambil kemah dan membentangkannya di luar perkemahan, jauh dari perkemahan, dan menamainya Kemah Pertemuan. Setiap orang yang mencari TUHAN, keluarlah ia pergi ke Kemah Pertemuan yang di luar perkemahan. 
Apabila Musa keluar pergi ke kemah itu, bangunlah seluruh bangsa itu dan berdirilah mereka, masing-masing di pintu kemahnya, dan mereka mengikuti Musa dengan matanya, sampai ia masuk ke dalam kemah.
Apabila Musa masuk ke dalam kemah itu, turunlah tiang awan dan berhenti di pintu kemah dan berbicaralah TUHAN dengan Musa di sana. 
Setelah seluruh bangsa itu melihat, bahwa tiang awan berhenti di pintu kemah, maka mereka bangun dan sujud menyembah, masing-masing di pintu kemahnya.
Dan TUHAN berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya; kemudian kembalilah ia ke perkemahan. Tetapi abdinya, Yosua bin Nun, seorang yang masih muda, tidaklah meninggalkan kemah itu. 
Lalu berkatalah Musa kepada TUHAN: "Memang Engkau berfirman kepadaku: Suruhlah bangsa ini berangkat, tetapi Engkau tidak memberitahukan kepadaku, siapa yang akan Kauutus bersama-sama dengan aku. Namun demikian Engkau berfirman: Aku mengenal namamu dan juga engkau mendapat kasih karunia di hadapan-Ku. 
Maka sekarang, jika aku kiranya mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, beritahukanlah kiranya jalan-Mu kepadaku, sehingga aku mengenal Engkau, supaya aku tetap mendapat kasih karunia di hadapan-Mu. Ingatlah, bahwa bangsa ini umat-Mu." 
Lalu Ia berfirman: "Aku sendiri hendak membimbing engkau dan memberikan ketenteraman kepadamu." 
Berkatalah Musa kepada-Nya: "Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini.
Dari manakah gerangan akan diketahui, bahwa aku telah mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, yakni aku dengan umat-Mu ini? Bukankah karena Engkau berjalan bersama-sama dengan kami, sehingga kami, aku dengan umat-Mu ini, dibedakan dari segala bangsa yang ada di muka bumi ini?" 
Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Juga hal yang telah kaukatakan ini akan Kulakukan, karena engkau telah mendapat kasih karunia di hadapan-Ku dan Aku mengenal engkau."
• Datang mencari Tuhan


2. Keluaran 34:1 (TB) Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Pahatlah dua loh batu sama dengan yang mula-mula, maka Aku akan menulis pada loh itu segala firman yang ada pada loh yang mula-mula, yang telah kaupecahkan.
• Kembali pada Kebenaran dan Ikut Kehendak Tuhan

3. Keluaran 34:2 Bersiaplah menjelang pagi dan naiklah pada waktu pagi ke atas gunung Sinai; berdirilah di sana menghadap Aku di puncak gunung itu.
Tetapi janganlah ada seorang pun yang naik bersama-sama dengan engkau dan juga seorang pun tidak boleh kelihatan di seluruh gunung itu, bahkan kambing domba dan lembu sapi pun tidak boleh makan rumput di sekitar gunung itu." 
Lalu Musa memahat dua loh batu sama dengan yang mula-mula; bangunlah ia pagi-pagi dan naiklah ia ke atas gunung Sinai, seperti yang diperintahkan TUHAN kepadanya, dan membawa kedua loh batu itu di tangannya. 
Turunlah TUHAN dalam awan, lalu berdiri di sana dekat Musa serta menyerukan nama TUHAN. 
Berjalanlah TUHAN lewat dari depannya dan berseru: "TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya,  
yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat." 
Segeralah Musa berlutut ke tanah, lalu sujud menyembah 
serta berkata: "Jika aku telah mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, ya Tuhan, berjalanlah kiranya Tuhan di tengah-tengah kami; sekalipun bangsa ini suatu bangsa yang tegar tengkuk, tetapi ampunilah kesalahan dan dosa kami; ambillah kami menjadi milik-Mu." 
Firman-Nya: "Sungguh, Aku mengadakan suatu perjanjian. Di depan seluruh bangsamu ini akan Kulakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib, seperti yang belum pernah dijadikan di seluruh bumi di antara segala bangsa; seluruh bangsa, yang di tengah-tengahnya engkau diam, akan melihat perbuatan TUHAN, sebab apa yang akan Kulakukan dengan engkau, sungguh-sungguh dahsyat.
Cari Tuhan di Pagi Hari

4. Keluaran 34:11 Tetapi engkau, berpeganglah pada yang Kuperintahkan kepadamu pada hari ini. Lihat, Aku akan menghalau dari depanmu orang Amori, orang Kanaan, orang Het, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus.
Pegang Firman Tuhan 

Aplikasi dalam kehidupan ~ Menjadi Murid Kristus
1. Komitmen Beribadah 
     Yosua 24:15 (TB) ...... Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!" 

     Yohanes 6:37 (TB) Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.

     Keluaran 23:25 (TB) Tetapi kamu harus beribadah kepada TUHAN, Allahmu; maka Ia akan memberkati roti makananmu dan air minumanmu dan Aku akan menjauhkan penyakit dari tengah-tengahmu.

     1 Timotius 4:8 (TB) Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.

Mazmur 119:105 (TB) Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku. 

2. Komitmen Menara Doa
     Markus 1:35 (TB) Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.

Di tiap pagi, Tuhan menyediakan berkat bagi kita.

Ratapan 3:22-23 (TB) Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, 
selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! 


Minggu, Desember 21, 2025

Bagaimana Merayakan Natal?

Lukas 2:11 (TB)  Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. 

Luke 2:11 (NET)  Today your Savior is born in the city of David. He is Christ the Lord.

Mengapa Kita Merayakan Natal?
Sebab Kisah Natal ini Pernah Terjadi dan Benar Adanya, Supernatural, dan Bermanfaat
Kisah Natal kelahiran Yesus tercatat alam sejarah dunia, tempat- tempatnya benar-benar ada, dan juga tokoh-tokoh yang benar-benar ada juga. Terlebih silsilahnya, benar2 ada, tercatat.
Tuhan Yesus lahir dengan NubuatanNya : perayaan bukan sembarang, tetapi diNubuatlan mulai dari Ribuan tahun sebelumnya, dikabarkan oleh Malaikat.
Kelahirannya menggerakkan sorga, menuntun orang Majus. Kelahirannya Supranatural dan yang terutama kelahiranNya menentukan nasib umat Manusia.

John 3:16 (NET) For this is the way God loved the world: He gave his one and only Son, so that everyone who believes in him will not perish but have eternal life.

Bagaimana Kita Merayakan Natal?
1. Rayakan dengan yakin jangan Iko rame.
2. Rayakan dengan benar
3. Rayakan dengan Rohani, ibadah Bukan mabo-mabo atau pesta pora
4. Rayakan dengan hormat, worshipbukannhanya hadir di gereja.
5. Rayakan dengan Instrospeksi. Ada evaluasi diri, apakah Yesus lahir dihatiku?

Tantangan hidup banyak, pergumulan banyak, namun jangan sampai merampas Damai Sejahtera di hidup kita. Sebab, Tuhan tau bagaimana menghibur kita, Tuhan tau bagaimana memulihkan hidup kita, dan Tuhan tau Rancangannya Indah untuk anak-anak Nya, di waktu yang tepat, dan tepat untuk kita

Minggu, Desember 07, 2025

Khotbah Minggu, 7 Desember 2025

Efesus 2:14 (TB) Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan,

Ephesians 2:14 (NET) For he is our peace, the one who made both groups into one and who destroyed the middle wall of partition, the hostility,

Ada dua kelompok yaitu ;
1. Kelompok yang dekat (orang Yahudi). Garis keturunan Abraham - Ishak - Yakub
2. Kelompok yang jauh (orang Non Yahudi). Bukan garis keturunan Abraham - Ishak - Yakub

Kelompok yang jauh, malang sekali nasibnya
Efesus 2:12 (TB) bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia.

Tanpa Tuhan yang berdaulat dan kita menjalani Kehidupan ini, kita bisa salah arah, salah ambil keputusan, tidak memiliki pengharapan, tidak selamat, tidak memiliki jaminan, maka malang sekali nasib kita.

Kelompok yang dekat sebenarnya untung sekali nasibnya (Mereka mendapatkan pemberian, pemeliharaan, bantuan, dan pembelaan Tuhan). Namun demikian, kedekatan mereka harus dijaga dengan ketaatan terhadap Torat. Dan mereka gagal memenuhi standar yang ditetapkan Tuhan (Taryag Mitxvot:248 perintah;365 larangan); Efesus 2:15 (TB) sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera,  

Karena itu, Kristus harus jadi Damai Sejahtera, baik bagi kelompok yang jauh maupun yang dekat.
Efesus 2:16 (TB) dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu. 

Ephesians 2:16 (NET) and to reconcile them both in one body to God through the cross, by which the hostility has been killed.
• Salib membuka kesempatan semua orang bisa datang kepada Yesus. Tidak lagi berdasarkan ikatan Darang Abraham, Ishak, dan Yakub, tapi berdasarkan darah Yesus.
• Salib memberi kesempatan bagi semua orang untuk menang bersama Yesus. Bukan dengan usaha sendiri, tapi dengan bersandar pada anugerah Allah.
• Salib memberi jaminan bagi semua orang untuk menikmati berkat Tuhan di dalam Yesus. Semua orang bisa. Perempuan Sidon, perwira Roma, orang Kusta, dll.
Mazmur 133:1-2 (TB) Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! 
Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. 

Psalms 133:1-2 (NET) A song of ascents, by David. Look! How good and how pleasant it is when brothers live together!
It is like fine oil poured on the head which flows down the beard – Aaron’s beard, and then flows down his garments.



Minggu, November 30, 2025

Khotbah, 30 November 2025

Matius 16:1-3 (TB) Kemudian datanglah orang-orang Farisi dan Saduki hendak mencobai Yesus. Mereka meminta supaya Ia memperlihatkan suatu tanda dari sorga kepada mereka.
Tetapi jawab Yesus: "Pada petang hari karena langit merah, kamu berkata: Hari akan cerah, 
dan pada pagi hari, karena langit merah dan redup, kamu berkata: Hari buruk. Rupa langit kamu tahu membedakannya tetapi tanda-tanda zaman tidak.

Matthew 16:1-3 (NET) Now when the Pharisees and Sadducees came to test Jesus, they asked him to show them a sign from heaven.
He said, “When evening comes you say, ‘It will be fair weather, because the sky is red,’
and in the morning, ‘It will be stormy today, because the sky is red and darkening.’ You know how to judge correctly the appearance of the sky, but you cannot evaluate the signs of the times.

Tuhan rindu kita mengerti apa yang sedang dialami dunia ini, alam ini, dan segala yang terjadi disekitar kita, secara pandangan rohani.

1. Kesadaran untuk Menjaga Lingkungan 
Kejadian 2:15 (TB) TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.

Genesis 2:15 (NET) The Lord God took the man and placed him in the orchard in Eden to care for it and to maintain it.

2. Kesadaran bahwa Bumi Bukan Tempat Tinggal Kekal
Matius 24:35 (TB) Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.

Matthew 24:35 (NET) Heaven and earth will pass away, but my words will never pass away.

Mazmur 102:26-27 (TB) (102-27) Semuanya itu akan binasa, tetapi Engkau tetap ada, dan semuanya itu akan menjadi usang seperti pakaian, seperti jubah Engkau akan mengubah mereka, dan mereka berubah; 
(102-28) tetapi Engkau tetap sama, dan tahun-tahun-Mu tidak berkesudahan. 

Psalms 102:26-27 (NET) They will perish, but you will endure. They will wear out like a garment; like clothes you will remove them and they will disappear.
But you remain; your years do not come to an end.

Yesaya 51:6 (TB) Arahkanlah matamu ke langit dan lihatlah ke bumi di bawah; sebab langit lenyap seperti asap, bumi memburuk seperti pakaian yang sudah usang dan penduduknya akan mati seperti nyamuk; tetapi kelepasan yang Kuberikan akan tetap untuk selama-lamanya, dan keselamatan yang dari pada-Ku tidak akan berakhir. 

Isaiah 51:6 (NET) Look up at the sky! Look at the earth below! For the sky will dissipate like smoke, and the earth will wear out like clothes; its residents will die like gnats. But the deliverance I give is permanent; the vindication I provide will not disappear.

Dua ayat ini adalah nubuatan, bahwa bumi akan lenyap. Dosa membuat bumi semakin Tua.
Kita tidak selamanya tinggal di bumi, dan kita harus siap menghadapi kekekalan. Mengapa masuk gereja bukan hanya untuk org susah, namun juga bagi mereka yang berlimpah. Mengapa masuk gereja bukan hanya untuk mereka yang berpendidikan tinggi, profersor, tapi juga bagi orang yang tidak mengenal pendidikan. Sebab, semuanya kita tanpa terkecuali akan menghadapi Kekekalan.

Yohanes 6:27 (TB) Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya."

John 6:27 (NET) Do not work for the food that disappears, but for the food that remains to eternal life – the food which the Son of Man will give to you. For God the Father has put his seal of approval on him.”

Pernyataan ini diberikan Tuhan Yesus setelah Ia memberi makan 5rb orang. Jadi bukan memberi arti bahwa Tuhan hanya menginginkan kita bekerja untuk Tuhan saja, Namun Ia memberi Teladan, bahwa Ia peduli dengan hal hal jasmani, dan Jasmani serta Rohani harus berjalan searah. Sama2 diperjuangkan, diusahakan, diperhatikan, agar makanan kita pun bertahan Sampai Hidup yang Kekal.

KESADARAN UNTUK SELALU MENGANDALKAN TUHAN

Keluaran 33:15-16 (TB) Berkatalah Musa kepada-Nya: "Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini.
Dari manakah gerangan akan diketahui, bahwa aku telah mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, yakni aku dengan umat-Mu ini? Bukankah karena Engkau berjalan bersama-sama dengan kami, sehingga kami, aku dengan umat-Mu ini, dibedakan dari segala bangsa yang ada di muka bumi ini?" 

Mengandalkan Tuhan tidak hanya saat Susah, dalam keadaan Aman sekalipun kita harus mengandalkan Tuhan.

SELALU ANDALKAN TUHAN

Minggu, November 02, 2025

Yohanes 11 : 25-26

Yohanes 11:25-26 (TB)  Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati,
dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?"

John 11:25-26 (NET)  Jesus said to her, “I am the resurrection and the life. The one who believes in me will live even if he dies,
and the one who lives and believes in me will never die. Do you believe this?”

Ketika Yesus sampai ke dekat Betania, yang dikatakan berjarak kira-kira dua mil jauhnya dari Yerusalem (ay. 18). Hal itu dicatat di sini supaya nyata bahwa mujizat yang hendak dilakukan-Nya itu terjadi masih di sekitar Yerusalem dan dianggap terjadi di sana. Mujizat Kristus di Galilea memang lebih banyak, tetapi mujizat yang dilakukan-Nya di dalam dan sekitar kota Yerusalem lebih gemilang. Di sanalah Ia menyembuhkan seorang yang telah menderita penyakit selama tiga puluh delapan tahun, lalu seorang lagi yang terlahir buta, dan membangkitkan seorang yang telah mati selama empat hari. Maka datanglah Kristus ke Betania, dan perhatikanlah: 

I. Keadaaan yang tengah dialami kawan-kawan-Nya di sana. Saat Ia meninggalkan mereka sebelumnya, kemungkinan besar mereka dalam keadaan yang baik, sehat dan penuh sukacita. Akan tetapi, saat kita berpisah dengan kawan-kawan kita, kita tidak tahu (sekalipun Kristus tahu) perubahan apa yang akan menimpa diri kita atau mereka sebelum kita bertemu lagi dengan mereka.

. Ia mendapati Lazarus sahabat-Nya itu telah terbaring di dalam kubur (ay. 17). Saat Ia sampai di dekat kota, kemungkinan dekat area pemakaman di kota itu, Ia diberi tahu oleh para tetangga atau orang-orang yang berpapasan dengan-Nya, bahwa Lazarus telah dikubur selama empat hari. Beberapa pihak berpendapat bahwa Lazarus mati pada hari yang sama ketika utusan itu datang kepada Yesus dengan kabar sakit penyakit yang menimpanya, dan karena itu diperhitungkan bahwa Ia tetap tinggal di tempat itu dua hari dan dua hari lainnya lagi untuk perjalanan-Nya ke Betania. Saya lebih cenderung berpendapat bahwa Lazarus mati tepat saat Yesus berkata, "Saudara kita itu telah tertidur, ia kini sudah jatuh tertidur," dan bahwa waktu antara kematian dan penguburan Lazarus (yang biasanya berlangsung dengan singkat di antara orang-orang Yahudi), termasuk empat hari terbaringnya ia di dalam kubur, dihabiskan Yesus dalam perjalanan-Nya itu. Kristus bepergian secara terang-terangan, seperti yang terlihat ketika Ia melalui Yerikho dan juga ketika Ia singgah di rumah Zakheus, yang pasti menyita waktu. Meskipun pasti akan terjadi, datangnya keselamatan yang telah dijanjikan sering lambat.

. Ia mendapati kawan-kawan lainnya yang masih hidup sedang dalam kedukaan. Marta dan Maria begitu tenggelam dalam kesedihan akibat kematian saudara mereka, yang terlihat dari pernyataan bahwa banyak orang Yahudi telah datang untuk menghibur mereka.

Percakapan antara Kristus dan Marta.

(1) Diceritakan bahwa ia pergi mendapatkan-Nya (ay. 20).

[1] Kelihatannya Marta benar-benar menunggu dan mengharap-harapkan kedatangan Kristus. Mungkin saja dia telah mengutus orang untuk memberitahukannya jika Kristus telah datang, atau mungkin dia sering kali bertanya, "Apakah kamu melihat jantung hatiku?", sehingga orang pertama yang melihat Kristus datang segera berlari menemui Marta untuk memberitahukan kabar baik itu. Apa pun itu, Marta sudah mendengar tentang kedatangan Kristus bahkan sebelum Dia benar-benar sampai ke sana. Marta telah menunggu begitu lama dan sering kali bertanya, "Sudahkah Ia datang?" tetapi tidak kunjung mendengar kabar berita tentang Dia. Namun akhirnya, yang telah lama dinanti-nantikan itu datang juga. Pada akhirnya, penglihatan pun akan berbicara, tanpa berdusta.

[2] Begitu mendengar kabar baik bahwa Yesus akan segera datang, Marta pun meninggalkan segalanya dan pergi mendapatkan-Nya, untuk menyambut Dia dengan sungguh hati. Dia mengabaikan semua tata krama dan sikap hormat terhadap orang-orang Yahudi yang sedang melayat ke rumahnya, dan bergegas pergi untuk menemui Yesus. Perhatikan, saat Allah melawat kita melalui anugerah atau pemeliharaan-Nya untuk menunjukkan belas kasihan dan menghibur kita, kita pun harus maju dalam iman, pengharapan dan doa untuk menemui-Nya. Beberapa orang berpendapat bahwa Marta pergi ke luar kota untuk menemui Yesus supaya ia dapat memberitahukan-Nya bahwa di rumah mereka kini ada beberapa orang Yahudi yang mungkin tidak menyukai Yesus, sehingga kalau Yesus mau, Ia pun bisa menghindar untuk datang ke sana.

[3] Saat Marta pergi untuk menemui Yesus, Maria tinggal di rumah. Beberapa orang berpendapat bahwa mungkin Maria tidak mendengar kabar itu sebab ia menarik diri ke dalam kamarnya, sambil menerima kunjungan belasungkawa orang-orang, sementara Marta yang menyibukkan diri dalam urusan rumah tangga mendengar kabar itu dengan segera. Mungkin saja Marta tidak mau memberi tahu saudarinya bahwa Kristus hampir tiba, sebab ia ingin mendapat kehormatan sebagai orang pertama yang menyambut-Nya. Sancta est prudentia clam fratribus clam parentibus ad Christum esse conferre -- Kesigapan yang kudus membimbing kita kepada Kristus, sementara saudara dan orangtua bahkan tidak mengetahui apa yang kita lakukan. -- Maldonat. in locum. Ada beberapa pihak lain juga berpendapat bahwa Maria mendengar kabar bahwa Kristus datang, tetapi terlalu tenggelam dalam kesedihannya sehingga dia tidak mau bergerak sedikit pun, dan memilih untuk terus larut dalam kesedihannya itu, dengan duduk diam sambil terus memikirkan dukacitanya, sambil berkata, "Selayaknyalah aku berkabung." Dengan membandingkan kisah ini dengan kisah yang dicatat dalam Lukas 10:38 dan seterusnya, kita dapat melihat perbedaan sifat di antara kedua saudari itu, beserta dengan kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Sifat temperamen Marta adalah giat dan selalu sibuk. Dia senang mondar-mandir untuk membereskan segala sesuatu. Sifatnya ini telah menjadi perangkap baginya, karena bukan saja membuatnya menjadi cemas dan khawatir mengenai segala sesuatu, tetapi juga menghalanginya untuk menjalankan ibadahnya. Tetapi kini, di masa sulit seperti ini, sifat giatnya itu justru membawa kebaikan baginya, karena dapat menghalau kedukaan dalam hatinya dan membuatnya begitu bersemangat untuk bertemu dengan Kristus. Dan ia pun lebih cepat memperoleh penghiburan dari-Nya. Sebaliknya, sifat Maria adalah lebih pemikir dan menahan diri. Sifat ini merupakan keuntungan baginya sebelum ini, karena membuatnya duduk di bawah kaki Kristus untuk mendengar firman-Nya, dan memungkinkannya lebih memperhatikan Kristus tanpa harus terganggu oleh tetek bengek yang merisaukan Marta. Tetapi kini di saat yang sulit ini, sifatnya itu menjadi suatu perangkap baginya, membuatnya sulit untuk melepaskan diri dari kesedihannya sehingga ia pun terus menerus terlarut di dalamnya: Tetapi Maria tinggal di rumah. Lihatlah di sini bagaimana kita benar-benar harus berhikmat dalam berjaga-jaga terhadap berbagai godaan, dan memanfaatkan sebaik-baiknya sifat temperamen kita untuk keuntungan kita.

(2) Di sini terdapat cerita lengkap mengenai percakapan yang terjadi antara Kristus dan Marta.

[1] Perkataan Marta terhadap Kristus (ay. 21-22).

Pertama, ia mengeluhkan lamanya ketidakhadiran Kristus dan kedatangan-Nya yang tertunda. Dia mengatakan hal itu bukan saja dengan kepedihan karena kematian kakaknya, tetapi juga menyiratkan sedikit sakit hati karena tindakan Guru yang kelihatannya tidak baik itu: Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. 

Di sini terdapat: 

. Suatu bukti imannya. Marta percaya kepada kuasa Kristus, yaitu, meskipun penyakit kakaknya itu sungguh berat, Dia pasti sanggup menyembuhkannya dan mencegah kematiannya. Marta juga memercayai belas kasih-Nya, yaitu, jika saja Ia melihat Lazarus dalam kesakitannya yang luar biasa itu, dan bagaimana semua kenalan Lazarus menangis melihat penderitaannya itu, Kristus pasti akan merasa iba dan mencegah terjadinya kesedihan itu, sebab belas kasihan-Nya tidak sia-sia. Tetapi,

. Di sini ada gambaran ketidakpercayaannya. Iman Marta memang tulus, tetapi lemah seperti sebatang buluh yang terkulai, sebab ia membatasi kuasa Kristus dengan berkata, sekiranya Engkau ada di sini. Padahal dia seharusnya tahu bahwa Kristus sanggup menyembuhkan orang dari jarak jauh, dan bahwa cara kerja-Nya yang penuh anugerah itu tidak terbatas oleh kehadiran tubuh jasmani-Nya. Dia juga berpikiran serupa mengenai hikmat dan kebaikan Kristus, yaitu bahwa Dia tidak bergegas mendapati mereka saat mereka memanggil-Nya, seolah-olah Ia tidak mengatur kegiatan-Nya dengan baik, dan malah tetap tinggal di tempat-Nya semula dan tidak segera datang, dan sekarang kedatangan-Nya sudah terlambat. Marta juga sudah tidak terpikir lagi untuk meminta pertolongan apa pun saat itu.

Kedua, Marta kemudian meralat dan menghibur dirinya sendiri dengan memikirkan kebaikan yang Kristus sediakan di sorga. Setidaknya, kini dia menyalahkan dirinya sendiri karena tadi telah mempersalahkan Gurunya dan menyiratkan bahwa kedatangan-Nya itu sudah terlambat: Tetapi sekarang pun aku tahu, separah apa pun keadaannya, Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya. 

Betapa berserahnya pengharapannya itu. Meski ia tidak punya nyali untuk meminta Yesus membangkitkan Lazarus, sebab pada waktu itu belum pernah ada orang yang telah lama mati dibangkitkan lagi, namun, layaknya seorang pemohon yang rendah hati, Marta bersedia menaruh perkara tersebut dalam kehendak Tuhan Yesus, sesuai dengan belas kasihan dan hikmat-Nya. Saat kita tidak tahu hal apa yang seharusnya kita minta atau harapkan, biarlah kita berserah diri kepada Allah dan membiarkan-Nya melakukan yang terbaik. Judicii tui est, non præsumptionis meæ -- Aku menyerahkan hal itu pada keputusan-Mu, dan bukan pada pertimbanganku -- Aug. in locum. Saat kita tidak tahu apa yang harus kita doakan, kita bisa merasa terhibur karena Sang Perantara Agung selalu tahu apa yang harus Ia mintakan bagi kita, dan doa-Nya itu selalu didengar.

. Betapa lemahnya iman Marta itu. Seharusnya dia berkata, "Tuhan, Engkau dapat melakukan apa saja yang Engkau mau;" tetapi dia hanya berkata, "Engkau bisa mendapatkan apa saja yang Kau minta dalam doa-Mu." Dia sudah lupa bahwa Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, bahwa Ia melakukan mujizat-mujizat dengan kuasa-Nya sendiri. Akan tetapi, dua pertimbangan berikut harus diingat dalam mendorong iman dan pengharapan kita, dan satu pun tidak boleh diabaikan: Kuasa Kristus atas seluruh bumi dan hak serta pengantaraan-Nya di sorga. Dia memegang tongkat emas di satu tangan-Nya, sementara tangan yang satunya lagi memegang ukupan emas. Kuasa-Nya selalu unggul, pengantaraan-Nya selalu berhasil.

[2] Kata-kata penghiburan yang diucapkan Kristus kepada Marta, sebagai jawaban terhadap pernyataannya yang menyedihkan tadi (ay. 23): Kata Yesus kepada Marta: "Saudaramu akan bangkit." Dalam keluhannya, Marta menoleh ke belakang dan merenung dengan rasa sesal bahwa Kristus tidak ada di sana waktu itu, sebab pikirnya, "kalau saja Ia ada, pastilah saudaraku masih hidup sekarang." Dalam keadaan seperti itu, kita memang sering kali tergoda untuk menambah kesengsaraan kita sendiri dengan mengandai-andaikan hal berbeda yang mungkin bisa terjadi. "Jika saja cara yang itu yang diterapkan, atau tabib itu yang dipanggil, pasti temanku tidak mati." Kalimat-kalimat seperti ini sebenarnya adalah sesuatu yang ada di luar jangkauan pengetahuan kita, jadi apa gunanya berkata seperti itu? Saat kehendak Allah telah terjadi, tugas kita hanyalah berserah kepada-Nya saja. Kristus membimbing Marta (dan melalui itu juga membimbing kita), untuk memandang ke depan dan memikirkan apa yang akan terjadi, sebab di sanalah terletak kepastian dan penghiburan: "Saudaramu akan bangkit."

Pertama, perkataan ini benar bagi Lazarus dalam arti khusus, bahwa sebentar lagi ia akan dibangkitkan. Tetapi Kristus menyatakan hal itu dalam arti yang lebih umum, yaitu sebagai sesuatu yang nanti akan terjadi, yang bukan akan dilakukan-Nya sendiri. Begitulah, betapa rendah hatinya Kristus ketika berbicara mengenai apa yang dilakukan-Nya. Kristus juga mengucapkan perkataan itu dengan makna ganda, yang membuat Marta pada mulanya merasa tidak yakin dengan maksud-Nya, apakah Ia hendak membangkitkan Lazarus sebentar lagi atau menunggu sampai akhir zaman, supaya dengan demikian Ia dapat menguji iman dan kesabarannya. 

Kedua, perkataan Kristus itu berlaku bagi semua orang kudus dan kebangkitan mereka pada akhir zaman. Perhatikan, merupakan penghiburan bagi kita bila saat kita menguburkan teman dan kenalan kita yang saleh, kita tahu bahwa mereka akan bangkit lagi. Sebagaimana jiwa tidak hilang saat kematian, melainkan hanya pergi, begitu juga tubuh tidak lenyap, melainkan hanya dibaringkan saja. Bayangkanlah dirimu mendengar Kristus berkata, "Orangtuamu, anakmu, teman sepenanggunganmu, akan bangkit lagi, tulang-tulang yang kering itu akan hidup lagi." 

[3] Iman Marta yang bercampur dengan perkataan Kristus itu, dan ketidakpercayaan yang bercampur dengan imannya itu (ay. 24).

Pertama, Marta menganggapnya sebagai perkataan yang harus diimani, yaitu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman. Meski ajaran mengenai kebangkitan itu baru benar-benar terbukti penuh dengan terjadinya kebangkitan Kristus, tetapi sebagaimana terlihat di sini, Marta telah mempercayainya dengan teguh (Kis. 24:15), yaitu: 

. Bahwa akan ada akhir zaman, saat seluruh hari dan waktu akan dihitung dan dihentikan.

. Bahwa akan terjadi kebangkitan besar pada saat itu, yaitu ketika bumi dan laut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya.

. Bahwa akan ada kebangkitan pribadi bagi setiap orang: "Aku tahu bahwa aku akan bangkit lagi, begitu pula semua orang-orang yang kukasihi." Sebagaimana tulang-tulang akan kembali bertemu satu sama lain pada hari itu, begitu pula seorang teman dengan temannya yang lain.

Kedua, Meski begitu, kelihatannya Marta masih berpikir bahwa perkataan itu tidaklah seberharga kenyataannya: "Aku tahu ia akan bangkit pada akhir zaman, tetapi kami sekarang tidak merasa lebih baik karenanya," seolah-olah penghiburan yang ada dalam kebangkitan menuju hidup yang kekal itu tidak ada gunanya diperbincangkan pada saat itu, atau tidak membantunya meringankan kesedihannya. Lihatlah kelemahan dan kebodohan kita. Kita membiarkan hal-hal indrawi sekarang ini terpatri dalam-dalam pada diri kita, baik itu duka maupun suka, dibandingkan dengan hal-hal yang menjadi sasaran iman kita. Aku tahu ia akan bangkit pada akhir zaman, apakah itu belum cukup? Sepertinya, memang belum cukup bagi Marta. Dengan demikian, ketidakpuasan kita akan salib yang harus kita pikul sekarang dapat membuat kita meremehkan pengharapan kita akan masa depan, seolah-olah pengharapan itu tidak layak untuk diindahkan. 

[4] Arahan dan peneguhan lebih lanjut yang diberikan Kristus kepada Marta, sebab Ia tidak akan memadamkan batang pohon yang terbakar ataupun mematahkan buluh yang terkulai. Kata Yesus kepadanya, Akulah kebangkitan dan hidup (ay. 25-26). Ada dua hal yang Kristus tekankan supaya Marta percaya, berkenaan dengan kesulitan yang sedang dialaminya. Kedua hal itu juga merupakan sesuatu yang harus kita imani saat menghadapi perkara serupa.

Pertama, Kuasa Kristus, kuasa-Nya yang berdaulat: Akulah kebangkitan dan hidup, sumber kehidupan, pemimpin dan pelaku kebangkitan. Marta percaya bahwa melalui doa-Nya, Allah akan memberikan apa saja, tetapi Kristus hendak memberitahukannya bahwa melalui perkataan-Nya, Ia dapat melakukan apa saja. Marta mengimani kebangkitan di akhir zaman, tetapi Kristus memberitahukannya bahwa Ia memiliki kuasa di tangan-Nya, sehingga orang-orang mati pun akan mendengar suara-Nya (5:25). Dengan demikian, mudah saja untuk menyimpulkan bahwa Dia yang dapat membangkitkan seisi dunia orang yang telah mati berabad-abad lamanya di dunia ini, pasti dapat pula melakukan hal yang sama terhadap satu orang yang telah mati selama empat hari saja. Perhatikan, kebenaran mengenai Yesus Kristus sebagai kebangkitan dan hidup merupakan penghiburan yang tidak terucapkan bagi seluruh orang Kristen yang saleh. Kebangkitan adalah kembali kepada kehidupan. Kristus adalah pencipta kebangkitan dan kehidupan dari kembalinya orang kepada hidup itu. Kita menanti-nantikan kebangkitan orang mati dan kehidupan dunia yang akan datang. Kristus adalah keduanya, yaitu pencipta dan dasar dari kedua hal tersebut, dan juga dasar pengharapan kita akan keduanya. 

Kedua, janji-janji yang terkandung dalam kovenan yang baru itu, yang memperdalam pengharapan kita bahwa kita akan hidup. 

Perhatikanlah: 

a. Untuk siapa janji-janji tersebut dibuat, yaitu bagi semua orang yang percaya kepada Yesus Kristus, bagi semua orang yang mengakui dan percaya Yesus Kristus sebagai satu-satunya Perantara dalam pendamaian dan persekutuan antara Allah dan manusia, yang menerima pernyataan yang telah diberikan Allah melalui firman-Nya mengenai Anak-Nya, dan secara tulus menaatinya dan berlaku sesuai dengan maksud-maksud agung yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian, syarat dari janji yang terakhir itu dapat diungkapkan demikian: Setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, yang bisa saja diartikan sebagai:

(a) Kehidupan jasmani: Setiap orang yang hidup di dunia ini, tidak masalah apakah dia orang Yahudi atau bukan-Yahudi, di mana pun dia tinggal, jika ia percaya kepada Kristus, maka ia akan hidup karena-Nya. Akan tetapi, pengertian ini memiliki keterbatasan waktu: Setiap orang selama ia hidup, selama dia ada di dalam masa ujian di dunia ini, percaya kepada-Ku, akan berbahagia di dalam-Ku, namun setelah kematian, segalanya sudah terlambat. Setiap orang yang hidup dan percaya, yaitu, yang hidup oleh iman (Gal. 2:20), memiliki iman yang mempengaruhi perilakunya. Atau juga,

(b) Kehidupan rohani: Orang yang hidup dan yang percaya adalah orang yang dilahirkan kembali melalui iman ke dalam kehidupan sorgawi dan ilahi. Bagi orang demikian, hidup adalah Kristus, yaitu menjadikan Kristus sebagai kehidupan jiwanya.

b. Hal-hal yang dijanjikan adalah (ay. 25): Ia akan hidup walaupun ia sudah mati, bahkan, tidak akan mati selama-lamanya (ay. 26). Manusia terdiri atas raga dan jiwa, dan kebahagiaan telah disediakan bagi keduanya.

(a) Bagi raga: Inilah janji kebangkitan yang membahagiakan itu. Meskipun tubuh akan mati karena dosa (dan tidak ada obat yang bisa mencegah kematian itu), namun tubuh itu akan hidup lagi. Di sini, seluruh kesulitan yang menyertai kematian tidak dipersoalkan, dan dianggap tidak ada apa-apanya. Meskipun hukuman mati itu adil, meskipun akibat kematian itu menakutkan, meskipun belenggu kematian begitu kencang, meskipun orang akan mati dan dikuburkan, mati dan membusuk, dan meskipun abu jasadnya akan bercampur dengan debu lainnya sampai tidak ada seorang pun yang dapat membedakannya lagi, apalagi memisahkannya, dan Anda bisa saja memikirkan hal-hal terburuk lainnya dari sisi gelap seperti itu, tetapi kita bisa yakin bahwa ia akan hidup lagi: ia akan dibangkitkan lagi sebagai tubuh yang penuh kemuliaan.

(b) Bagi jiwa: Inilah janji dari kekekalan yang membahagiakan. Orang yang hidup dan percaya, yang, setelah bersatu dengan Kristus melalui iman, kehidupan rohaninya disokong oleh persekutuan itu, ia tidak akan mati selama-lamanya. Kehidupan rohani itu tidak akan pernah memudar, melainkan disempurnakan dalam kehidupan yang kekal. Menurut sifat rohaninya sendiri, jiwa itu tidak bisa mati. Karena itu, jika dengan iman jiwa itu menjalankan kehidupan yang rohani, sejalan dengan sifatnya tadi, maka kebahagiaannya juga akan abadi. Jiwa seperti itu tidak akan pernah mati, tidak akan merasakan apa pun lagi selain kenyamanan dan kebahagiaan, dan kehidupannya tidak akan terganggu ataupun terhenti sebagaimana kehidupan tubuh jasmani. Tubuh yang fana itu akhirnya akan ditelan oleh hidup, tetapi kehidupan jiwa yang percaya akan segera ditelan oleh kekekalan setelah dia mati. Dia tidak akan mati, eis ton aiōna, selama-lamanya -- Non morietur in æternum, seperti yang dikutip oleh Cyprianus (seorang martir abad ketiga Masehi -- pen.). Tubuh tidak akan selamanya mati di dalam kubur, tetapi hanya mati (seperti kedua saksi itu) untuk sesaat saja, untuk sementara waktu, dan bila waktu itu sudah tidak ada lagi dan semua pembagiannya dihitung dan diakhiri, maka masuklah roh kehidupan dari Allah ke dalamnya. Tetapi bukan itu saja, jiwa-jiwa itu tidak akan menderita kematian yang kekal, tidak akan mati selama-lamanya. Berbahagia dan kuduslah, artinya, terberkati dan berbahagialah ia yang melalui imannya mendapat bagian dalam kebangkitan pertama, mendapat bagian dalam Kristus yang merupakan kebangkitan itu sendiri, sebab kematian kedua, yang merupakan kematian kekal, tidak berkuasa lagi atas mereka (6:40). Kristus pun bertanya kepada Marta, "Percayakah engkau akan hal ini? Dapatkah engkau mengimaninya dan berlaku seturut imanmu itu? Percayakah engkau akan perkataan-Ku tadi?" Perhatikan, setelah kita membaca atau mendengarkan firman Kristus mengenai hal-hal besar di dunia yang akan datang, hendaknya kita bersungguh-sungguh menanyakannya kepada diri kita sendiri, "Percayakah kita akan hal ini, khususnya kebenaran ini, kebenaran ini yang disertai dengan begitu banyak kesukaran, yang sesuai dengan perkara yang sedang kuhadapi ini? Apakah imanku akan kebenaran itu nyata bagiku sehingga jiwaku pun diyakinkan mengenainya, sehingga aku tidak hanya dapat berkata, aku percaya akan hal itu, tetapi juga, karena itulah aku percaya akan hal itu?" Marta ingin sekali saudaranya dibangkitkan di dunia ini. Sebelum Kristus memberinya harapan akan hal itu, Ia sudah mengarahkan pikirannya ke kehidupan lain di dunia yang lain: "Lupakanlah dulu yang satu itu, tetapi percayakah engkau akan hal yang Kukatakan padamu tentang kehidupan di masa yang akan datang ini?" Salib yang kita pikul dan kenyamanan yang kita nikmati pada masa kini sebenarnya tidak akan begitu tertanam kuat dalam diri kita jika saja kita mempercayai hal-hal kekekalan sebagaimana yang seharusnya kita perbuat.

Minggu, Agustus 03, 2025

Khotbah Ibadah 3 Agustus 2025

Efesus 6:10-13 (TB)  Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. 
Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; 
karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.
Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu.

Ephesians 6:10-13 (NET)  Finally, be strengthened in the Lord and in the strength of his power.
Clothe yourselves with the full armor of God so that you may be able to stand against the schemes of the devil.
For our struggle is not against flesh and blood, but against the rulers, against the powers, against the world rulers of this darkness, against the spiritual forces of evil in the heavens.
For this reason, take up the full armor of God so that you may be able to stand your ground on the evil day, and having done everything, to stand.

Spiritual strength and courage are needed for our spiritual warfare and suffering. Those who would prove themselves to have true grace, must aim at all grace; and put on the whole armour of God, which he prepares and bestows. The Christian armour is made to be worn; and there is no putting off our armour till we have done our warfare, and finished our course. The combat is not against human enemies, nor against our own corrupt nature only; we have to do with an enemy who has a thousand ways of beguiling unstable souls. The devils assault us in the things that belong to our souls, and labour to deface the heavenly image in our hearts. We must resolve by God's grace, not to yield to Satan. Resist him, and he will flee. If we give way, he will get ground. If we distrust either our cause, or our Leader, or our armour, we give him advantage. The different parts of the armour of heavy-armed soldiers, who had to sustain the fiercest assaults of the enemy, are here described. There is none for the back; nothing to defend those who turn back in the Christian warfare. Truth, or sincerity, is the girdle. This girds on all the other pieces of our armour, and is first mentioned. There can be no religion without sincerity. The righteousness of Christ, imputed to us, is a breastplate against the arrows of Divine wrath. The righteousness of Christ implanted in us, fortifies the heart against the attacks of Satan. Resolution must be as greaves, or armour to our legs; and to stand their ground or to march forward in rugged paths, the feet must be shod with the preparation of the gospel of peace. Motives to obedience, amidst trials, must be drawn from a clear knowledge of the gospel. Faith is all in all in an hour of temptation. Faith, as relying on unseen objects, receiving Christ and the benefits of redemption, and so deriving grace from him, is like a shield, a defence every way. The devil is the wicked one. Violent temptations, by which the soul is set on fire of hell, are darts Satan shoots at us. Also, hard thoughts of God, and as to ourselves. Faith applying the word of God and the grace of Christ, quenches the darts of temptation. Salvation must be our helmet. A good hope of salvation, a Scriptural expectation of victory, will purify the soul, and keep it from being defiled by Satan. To the Christian armed for defense in battle, the apostle recommends only one weapon of attack; but it is enough, the sword of the Spirit, which is the word of God. It subdues and mortifies evil desires and blasphemous thoughts as they rise within; and answers unbelief and error as they assault from without. A single text, well understood, and rightly applied, at once destroys a temptation or an objection, and subdues the most formidable adversary. Prayer must fasten all the other parts of our Christian armour. There are other duties of religion, and of our stations in the world, but we must keep up times of prayer. Though set and solemn prayer may not be seasonable when other duties are to be done, yet short pious prayers darted out, always are so. We must use holy thoughts in our ordinary course. A vain heart will be vain in prayer. We must pray with all kinds of prayer, public, private, and secret; social and solitary; solemn and sudden: with all the parts of prayer; confession of sin, petition for mercy, and thanksgiving for favours received. And we must do it by the grace of God the Holy Spirit, in dependence on, and according to, his teaching. We must preserve in particular requests, notwithstanding discouragements. We must pray, not for ourselves only, but for all saints. Our enemies are mighty, and we are without strength, but our Redeemer is almighty, and in the power of his mighty we may overcome. Wherefore we must stir up ourselves. Have not we, when God has called, often neglected to answer? Let us think upon these things, and continue our prayers with patience.



Inilah nasihat umum untuk tetap teguh dalam perjalanan kristiani kita, dan untuk memberi semangat dalam peperangan kristiani kita. Bukankah kehidupan kita merupakan suatu peperangan? Memang demikian, karena kita bergumul dengan malapetaka-malapetaka yang banyak terjadi dalam hidup manusia. Bukankah agama kita merupakan suatu peperangan yang biasa-biasa saja? Memang demikian, karena kita bergumul dengan lawan-lawan yang memiliki kuasa gelap, dan dengan banyak musuh yang hendak menjauhkan kita dari Allah dan sorga. Kita memiliki musuh-musuh yang harus kita perangi, seorang pemimpin yang untuk-Nya kita berperang, panji yang di bawahnya kita berperang, dan aturan-aturan perang khusus yang harus kita gunakan untuk mengatur diri kita sendiri. “Akhirnya (ay. 10), abdikanlah dirimu untuk mengerjakan pekerjaan dan kewajibanmu sebagai prajurit-prajurit Kristen.“ Nah, seorang prajurit diharuskan berhati kuat dan dipersenjatai dengan baik. Jika orang-orang Kristen menjadi prajurit Yesus Kristus,

I. Mereka harus mengerti bahwa mereka harus berhati kuat. Hal ini ditentukan di sini: Hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, dan seterusnya. Orang-orang yang harus berjuang dalam banyak sekali pertempuran, dan yang, dalam perjalanan mereka ke sorga, harus menerobos setiap penghalang, dengan kekuatan pedang, memerlukan banyak keberanian. Oleh karena itu hendaklah kamu kuat, kuat dalam melayani, kuat dalam menanggung penderitaan, kuat dalam bertempur. Sekalipun seorang prajurit dipersenjatai dengan sangat baik secara jasmani, tetapi jika di dalam batinnya dia tidak memiliki hati yang baik, maka perlengkapan senjatanya hanya akan sedikit bermanfaat baginya. Perhatikanlah, kekuatan rohani dan keberanian sangat perlu untuk peperangan rohani kita. Kuatlah di dalam Tuhan, dalam perkara-Nya dan untuk kepentingan-Nya, atau lebih tepatnya dalam kekuatan-Nya. Kita tidak memiliki cukup kekuatan dari diri kita sendiri. Keberanian alamiah kita benar-benar pengecut, dan kekuatan alamiah kita benar-benar lemah, namun seluruh kecukupan kita berasal dari Allah. Dalam kekuatan-Nya kita harus maju dan terus maju. Dengan tindakan-tindakan iman, kita harus menimba anugerah dan pertolongan dari sorga untuk memampukan kita melakukan hal yang kita sendiri tidak dapat melakukannya, dalam pekerjaan dan peperangan kristiani kita. Kita harus bangkit untuk menolak godaan dengan bergantung kepada kecukupan Allah yang sempurna dan kekuatan-Nya yang mahakuasa.

II. Mereka harus dipersenjatai dengan baik: “Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah (ay. 11), pergunakanlah seluruh perlengkapan pertahanan dan persenjataan yang layak untuk memukul mundur godaan dan tipu muslihat Iblis. Dapatkan dan terapkan seluruh anugerah kristiani, seluruh perlengkapan senjata, sehingga tidak ada bagian yang telanjang dan terbuka bagi musuh.“ Perhatikanlah, orang-orang yang ingin dapat memiliki anugerah sejati harus bertujuan mendapatkan semua anugerah, seluruh perlengkapan senjata. Ini disebut perlengkapan senjata Allah, karena Dia-lah yang mempersiapkan dan melimpahkannya. Kita tidak memiliki perlengkapan senjata sendiri yang akan menjadi senjata ampuh dalam masa pencobaan. Tidak ada yang akan membuat kita berdiri teguh selain perlengkapan senjata Allah. Perlengkapan senjata ini dipersiapkan untuk kita, namun kita harus mengenakannya. Artinya, kita harus berdoa meminta anugerah, kita harus menggunakan anugerah yang diberikan kepada kita, dan mengeluarkannya dalam bentuk tindakan dan pelaksanaan pada saat diperlukan. Alasan yang diberikan mengapa orang Kristen harus seluruhnya dipersenjatai adalah supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis. Supaya kita dapat menahan, dan menanggulangi, meskipun Iblis menyerang dengan segala usaha, baik dengan kekuatan maupun tipu daya, segala kebohongan yang dia sajikan kepada kita, semua perangkap yang dia pasang untuk kita, dan seluruh akal bulusnya terhadap kita. Rasul Paulus menguraikan hal ini dengan panjang lebar di sini, dan menunjukkan,

1. Apa bahaya yang kita hadapi, dan apa gunanya kita harus mengenakan seluruh perlengkapan senjata, mengingat musuh seperti apa yang harus kita hadapi, yaitu Iblis dan seluruh kuasa kegelapan. Karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, dan seterusnya (ay. 12). Pertempuran yang untuknya kita harus mempersiapkan diri bukanlah melawan musuh dalam bentuk manusia biasa, bukan sekadar melawan manusia yang terdiri dari darah dan daging, atau melawan sifat cemar kita sendiri saja, melainkan melawan beberapa tingkatan roh-roh jahat, yang memiliki sebuah pemerintahan yang mereka jalankan di dunia ini.

(1) Kita harus berhadapan dengan musuh yang licik, musuh yang menggunakan tipu daya dan muslihat, seperti pada ayat 11. Dia memiliki seribu cara untuk memperdayai jiwa yang goyah. Karena itu dia disebut seekor ular karena kelicikannya, seekor ular tua, berpengalaman dalam keahlian dan keterampilan menggoda.

(2) Dia adalah musuh yang kuat: Pemerintah-pemerintah, dan penguasa-penguasa, dan penghulu-penghulu. Mereka banyak, mereka kuat, dan berkuasa dalam bangsa-bangsa kafir yang masih dalam kegelapan. Bagian-bagian dunia yang gelap adalah tempat kerajaan Iblis. Ya, mereka merampas kekuasaan penguasa-penguasa atas seluruh manusia yang masih dalam keadaan berdosa dan tidak mengerti. Kerajaan Iblis adalah kerajaan kegelapan, sedangkan kerajaan Kristus adalah kerajaan terang.

(3) Mereka adalah musuh-musuh rohani. Kejahatan rohani di tempat-tempat tinggi (KJV), atau roh-roh jahat, seperti terjemahan sebagian orang (termasuk terjemahan LAI). Iblis adalah roh, roh yang jahat, dan bahaya yang kita hadapi lebih besar dari musuh-musuh kita karena mereka tidak terlihat, dan menyerang kita sebelum kita sadar tentang mereka. Setan-setan adalah roh-roh jahat, dan mereka terutama menggganggu orang-orang kudus dengan, dan menghasut mereka supaya melakukan, kejahatan-kejahatan rohani, kesombongan, kedengkian, kebencian, dan sebagainya. Musuh-musuh ini dikatakan ada di udara (KJV: di tempat-tempat tinggi), atau di angkasa, demikianlah kata yang dipakai, menduduki langit (seperti yang dikatakan orang) seluruhnya, atau menyebar di udara antara bumi dan bintang-bintang, udara sebagai tempat asal setan-setan menyerang kita. Atau artinya bisa juga, “Perjuangan kita mengenai tempat-tempat sorgawi atau hal-hal sorgawi,“ demikianlah tafsiran kuno. Musuh-musuh kita berjuang untuk mencegah kenaikan kita ke sorga, untuk menjauhkan kita dari berkat-berkat sorgawi dan untuk menghalangi persekutuan kita dengan sorga. Mereka menyerang kita dalam hal-hal yang merupakan milik jiwa kita, dan berusaha merusak gambaran sorgawi di dalam hati kita. Oleh karena itu kita harus berjaga-jaga terhadap mereka. Kita memerlukan iman dalam peperangan kristiani kita, karena kita memiliki musuh-musuh rohani yang harus dihadapi, dan iman dalam pekerjaan kristiani kita, karena kita memiliki kekuatan rohani yang harus diperoleh. Jadi, itulah bahaya yang kamu hadapi.

2. Kewajiban kita adalah mengambil dan mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah, dan lalu berdiri teguh, dan melawan musuh-musuh kita.

(1) Kita harus mengadakan perlawanan (ay. 13). Kita tidak boleh menyerah kepada daya pikat dan serangan Iblis, melainkan melawannya. Iblis dikatakan bangkit melawan kita (1Taw. 21:1). Jika dia bangkit melawan kita, kita harus bangkit melawan dia. Tetapkan hati, dan jalan terus, untuk melawan Iblis. Iblis adalah si jahat, dan kerajaannya adalah kerajaan dosa. Bangkit melawan Iblis berarti berjuang melawan dosa. Supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu, pada hari pencobaan, atau penderitaan menyakitkan apa pun.

(2) Kita harus berdiri teguh. Dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Kita harus bertekad, dengan anugerah Allah, tidak akan menyerah kepada Iblis. Lawanlah dia, maka dia akan lari. Jika kita tidak mempercayai perkara kita, atau pemimpin kita, atau perlengkapan senjata kita, maka kita memberi dia keuntungan. Urusan kita saat ini adalah melawan serangan Iblis, dan bertahan terhadap serangan itu. Dan kemudian, setelah menyelesaikan segala sesuatu yang wajib dilakukan oleh prajurit-prajurit Yesus Kristus yang baik, peperangan kita akan selesai, dan kita akhirnya akan menang.

(3) Kita harus berdiri dengan dipersenjatai, dan hal inilah yang paling banyak dibahas di sini. Inilah orang Kristen dengan perlengkapan senjata yang lengkap, dan perlengkapan senjatanya bersifat ilahi: Perlengkapan senjata Allah, perlengkapan senjata terang (Rm. 13:12). Senjata-senjata keadilan (2Kor. 6:7). Rasul Paulus memerincikan perlengkapan senjata ini, baik untuk menyerang maupun bertahan. Ikat pinggang atau sabuk militer, baju zirah (KJV: penutup dada), penutup kaki (atau sepatu prajurit), perisai, ketopong, dan pedang. Tampak bahwa, di antara semua itu, tidak ada yang untuk punggung. Jika kita membelakangi musuh, kita tidak terlindung.

[1] Kebenaran atau ketulusan adalah ikat pinggang kita (ay. 14). Dinubuatkan tentang Kristus (Yes. 11:5) bahwa Ia tidak akan menyimpang dari kebenaran dan kesetiaan, seperti ikat pinggang tetap terikat pada pinggang. Apa yang menjadi ikat pinggang Kristus harus menjadi ikat pinggang semua orang Kristen juga. Allah menginginkan kebenaran, yaitu, ketulusan, di dalam batin. Ini adalah kekuatan di pinggang kita, yang mengikat semua perlengkapan senjata lainnya, dan oleh karena itu disebutkan pertama. Saya tidak tahu bahwa ada agama tanpa ketulusan. Sebagian orang memahaminya sebagai ajaran kebenaran-kebenaran Injil. Kebenaran-kebenaran itu harus melekat kepada kita seperti ikat pinggang melekat pada pinggang (Yer. 13:11). Ini akan mengendalikan diri kita dari kebebasan tanpa agama dan tanpa moral, seperti ikat pinggang mengendalikan dan menahan tubuh. Ini adalah ikat pinggang prajurit Kristen. Tanpa mengenakan ikat pinggang ini, dia tidak mendapatkan berkat.

[2] Keadilan harus menjadi baju zirah kita. Baju zirah mengamankan organ-organ tubuh yang penting, melindungi jantung atau hati. Keadilan Kristus yang dilekatkan kepada kita merupakan baju zirah kita terhadap panah-panah murka ilahi. Keadilan Kristus yang tertanam di dalam diri kita adalah baju zirah kita untuk membentengi hati terhadap serangan-serangan yang dilancarkan Iblis terhadap kita. Rasul Paulus menjelaskan hal ini dalam 1 Tesalonika 5:8, Berbajuzirahkan iman dan kasih. Iman dan kasih merangkum seluruh anugerah kristiani, karena dengan iman kita dipersatukan dengan Kristus dan dengan kasih dipersatukan dengan saudara-saudara kita. Hal-hal ini akan menunjukkan ketaatan yang tekun dalam melakukan kewajiban kita kepada Allah, dan berperilaku yang baik terhadap manusia, dalam segala tugas keadilan, kebenaran, dan kebaikan kepada sesama.

[3] Ketetapan hati harus menjadi seperti penutup bagi kaki kita. Kakimu berkasutkan kerelaan (KJV: kesiapan) untuk memberitakan Injil damai sejahtera (ay. 15). Sepatu, atau penutup kaki dari tembaga, atau yang seperti itu, dahulu merupakan bagian dari perlengkapan senjata militer (1Sam. 17:6). Penggunaannya adalah untuk melindungi kaki dari perangkap, dan kayu-kayu tajam, yang biasa diletakkan tersembunyi di jalan, untuk menghalangi barisan musuh, karena orang-orang yang jatuh di atasnya tidak dapat berbaris. Kerelaan (KJV: kesiapan) untuk memberitakan Injil damai sejahtera menyiratkan keadaan hati yang siap dan memiliki tekad, untuk setia kepada Injil dan tunduk kepadanya. Ini akan memampukan kita untuk berjalan dengan langkah yang tetap dalam jalan agama, biarpun ada kesulitan-kesulitan dan bahaya-bahaya di dalamnya. Disebut Injil damai sejahtera karena membawa segala macam perdamaian, perdamaian dengan Allah, dengan diri kita sendiri, dan dengan satu sama lain. Ini juga bisa berarti menyiapkan jalan bagi penyambutan Injil, yaitu pertobatan. Inilah yang harus menjadi kasut bagi kaki kita, karena dengan hidup dalam pertobatan kita dipersenjatai terhadap godaan untuk berbuat dosa, dan rancangan-rancangan musuh besar kita. Dr. Whitby berpikir ini mungkin adalah pengertian kata-kata tersebut: “Supaya kamu siap bertempur, kenakanlah kasut Injil damai sejahtera, berusaha keras memiliki pikiran yang suka damai dan tenang seperti yang diminta dalam Injil. Janganlah mudah dihasut, atau mudah bertengkar, melainkan tunjukkanlah segala kelembutan dan segala kesabaran kepada semua orang. Dan ini pasti akan melindungi kamu dari banyak godaan dan penganiayaan hebat, seperti sepatu tembaga yang melindungi prajurit-prajurit dari perangkap-perangkap itu,“ dan sebagainya.

[4] Iman harus menjadi perisai kita. Dalam segala keadaan (KJV: di atas segalanya), atau yang paling utama, pergunakanlah perisai iman (ay. 16). Ini lebih perlu daripada yang mana pun di antara hal-hal tersebut. Iman adalah segala-galanya bagi kita dalam masa pencobaan. Baju zirah melindungi organ-organ penting, namun dengan perisai kita berputar ke segala arah. Inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita. Kita harus sepenuhnya yakin pada kebenaran seluruh janji dan ancaman Allah, karena iman yang demikianlah yang sangat berguna melawan godaan. Pertimbangkanlah iman sebagai dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat, dan iman akan tampak memiliki manfaat yang mengagumkan untuk tujuan ini. Iman, seperti halnya menerima Kristus dan manfaat-manfaat penebusan, juga memperoleh anugerah dari-Nya, dan iman adalah seperti sebuah perisai, sejenis pertahanan yang berlaku untuk apa saja. Musuh kita Iblis di sini disebut si jahat. Dia jahat dari dalam dirinya sendiri, dan dia berusaha keras membuat kita menjadi jahat. Godaan-godaannya disebut panah, karena melaju dengan sangat cepat dan tidak terlihat, dan menimbulkan luka yang dalam pada jiwa. Disebut panah api, dengan mengibaratkan panah beracun yang biasanya membuat panas bagian-bagian yang dilukainya, dan oleh karena itu disebut demikian, seperti ular dengan sengatan beracun disebut ular api. Godaan-godaan hebat yang membuat jiwa terbakar api neraka, adalah panah-panah yang Iblis tembakkan ke arah kita. Iman adalah perisai yang dengannya kita harus memadamkan panah-panah api ini, ketika kita akan menerima panah-panah tersebut, dan dengan demikian melumpuhkan panah-panah itu, supaya tidak bisa mengenai kita, atau setidaknya tidak bisa melukai kita. Perhatikanlah, iman, yang bertindak berdasarkan firman Allah dan menerapkannya, yang bertindak berdasarkan anugerah Kristus dan mendayagunakannya, memadamkan panah-panah godaan.

[5] Keselamatan harus menjadi ketopong kita (ay. 17), yaitu pengharapan yang tertuju kepada keselamatan, demikian menurut 8. Ketopong melindungi kepala. Pengharapan yang baik akan keselamatan, yang memiliki dasar yang baik dan dibangun dengan baik, akan menyucikan jiwa dan menjaganya supaya tidak dicemarkan oleh Iblis, dan akan menenangkan jiwa dan menjaganya supaya tidak diganggu dan disiksa oleh Iblis. Iblis hendak menggoda kita supaya putus asa, tetapi pengharapan yang baik membuat kita tetap percaya di dalam Allah, dan bersukacita di dalam Dia.

[6] Firman Allah adalah pedang Roh. Pedang adalah bagian yang sangat penting dan berguna dari perlengkapan seorang prajurit. Firman Allah sangat penting, dan memiliki manfaat yang sangat besar bagi orang Kristen, untuk bertahan dalam peperangan rohani dan berhasil di dalamnya. Firman Allah disebut pedang Roh, karena didiktekan oleh Roh dan Dia membuatnya berhasil dan sangat kuat, dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua. Seperti pedang Goliat, tidak ada tandingannya. Dengan pedang ini kita menyerang si penyerang. Pernyataan-pernyataan Alkitab adalah pernyataan-pernyataan yang paling penuh kuasa untuk menolak godaan. Kristus sendiri menolak godaan Iblis dengan “Ada tertulis“ (Mat. 4:4, 6-7, 10). Firman Allah, yang tersimpan di dalam hati, akan melindungi dari dosa (Mzm. 119:11), dan akan melumpuhkan dan mematikan hawa nafsu dan kebejatan yang tersembunyi di situ.

[7] Doa harus mengaitkan semua bagian lain dari perlengkapan senjata kristiani kita (ay. 18). Kita harus menggabungkan doa dengan semua anugerah ini, supaya bisa bertahan melawan musuh-musuh rohani, yaitu dengan sungguh-sungguh memohon pertolongan dan bantuan Allah, saat diperlukan. Dan kita harus senantiasa berdoa. Bukan seolah-olah kita tidak perlu lagi melakukan apa pun yang lain kecuali berdoa, karena kita juga mempunyai tugas-tugas keagamaan lainnya dan tugas-tugas sesuai kedudukan kita masing-masing di dunia, yang harus dilakukan pada tempat dan waktunya. Sebaliknya, kita harus memelihara waktu-waktu doa yang tetap, dan terus-menerus melakukannya. Kita harus berdoa pada segala kesempatan, dan sesering keperluan kita dan orang lain membutuhkan kita untuk berdoa. Kita harus selalu memelihara kecondongan untuk berdoa, dan harus memadukan doa seruan permohonan yang singkat, tiba-tiba, dan langsung dari hati dengan tugas-tugas lain, dan dengan urusan biasa. Walaupun doa yang tetap dan khidmat terkadang mungkin tidak dapat dilakukan (seperti ketika ada tugas-tugas lain yang harus dikerjakan), namun seruan spontan yang saleh tidak pernah demikian. Kita harus berdoa dalam segala doa dan permohonan. Dengan segala macam doa: di depan umum, pribadi, dan rahasia, bersama-sama dan sendiri, khidmat dan tiba-tiba. Dengan seluruh bagian doa: pengakuan dosa, permohonan belas kasihan, dan pengucapan syukur untuk anugerah-anugerah yang telah diterima. Kita harus berdoa di dalam Roh. Roh kita harus digunakan dalam tugas tersebut, dan kita harus melakukannya dengan anugerah dari Roh Allah yang baik. Kita harus berjaga-jaga di dalam doa, berusaha keras mempertahankan hati kita dalam sikap doa, dan mengambil semua kesempatan, dan memanfaatkan segala kesempatan, untuk tugas tersebut. Kita harus berjaga-jaga terhadap segala dorongan hati kita sendiri terhadap tugas tersebut. Ketika Allah mengatakan: “Carilah wajah-Ku,“ hati kita harus tunduk (Mzm. 27:8). Ini harus kita lakukan dengan tak putus-putusnya. Kita harus mematuhi kewajiban untuk berdoa, apa pun perubahan yang mungkin terjadi pada keadaan lahiriah kita. Dan kita harus tetap demikian selama kita hidup di dunia. Kita harus tekun dalam doa yang khusus, tidak mempersingkatnya, ketika hati kita ingin berpanjang lebar, dan ada waktu yang tepat untuk itu, dan kita membutuhkannya. Kita harus tekun juga dalam permintaan-permintaan khusus, walaupun kita sedang mengalami kekecewaan dan penolakan. Dan kita harus berdoa dengan permohonan, bukan hanya untuk diri kita sendiri saja, melainkan untuk segala orang kudus, karena kita adalah sesama anggota. Perhatikanlah, tidak ada orang yang betul-betul kudus dan ada dalam keadaan yang sangat baik di dunia ini, dan karena itu mereka membutuhkan doa kita, dan mereka harus memperolehnya. Rasul Paulus melanjutkan dari sini untuk menyimpulkan isi surat ini.


Entri yang Diunggulkan

Prayer In The Morning

  Prayer To God in the Morning Psalm 143:8 New International Version (NIV) 8  Let the morning bring me word of your unfailin...