Minggu, Januari 04, 2026

IMANUEL

IMANUEL

Keluaran 33:15 (TB)  Berkatalah Musa kepada-Nya: "Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini.

Exodus 33:15 (NET)  And Moses said to him, “If your presence does not go with us, do not take us up from here.

Ayat tersebut, didasari oleh ayat sebelumnya :
Keluaran 33:1-3 (TB) Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Pergilah, berjalanlah dari sini, engkau dan bangsa itu yang telah kaupimpin keluar dari tanah Mesir, ke negeri yang telah Kujanjikan dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub, demikian: Kepada keturunanmulah akan Kuberikan negeri itu — 
Aku akan mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu dan akan menghalau orang Kanaan, orang Amori, orang Het, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus --
yakni ke suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madu. Sebab Aku tidak akan berjalan di tengah-tengahmu, karena engkau ini bangsa yang tegar tengkuk, supaya Aku jangan membinasakan engkau di jalan."

Musa memilih resiko tersebut, memohon agar Tuhan hadir dalam perjalanan mereka.
Setelah kembali ke pintu Kemah Pertemuan, Musa menjadi seorang pemohon yang rendah hati dan mendesak-desak untuk mendapatkan dua karunia besar. Sebagai pemimpin, ia memiliki kuasa bersama Allah, sehingga ia pun berhasil mendapatkan kedua karunia besar itu. Dalam hal ini Ia melambangkan Kristus, Sang Pengantara Agung, yang senantiasa didengar Bapa.

I. Musa sangat bersungguh-sungguh memohon agar Allah mengabulkan permohonannya, yaitu supaya Ia hadir di tengah umat Israel dalam sisa perjalanan mereka menuju Kanaan, walaupun mereka sudah membangkitkan amarah-Nya. Mereka pantas menerima murka Allah akibat dosa yang mereka lakukan dan karena menolak apa yang telah diusahakan oleh Musa (32:14). Karena sebab yang sama mereka juga telah kehilangan hadirat Allah yang penuh rahmat, beserta seluruh kebaikan dan penghiburannya, dan hal inilah yang sekarang sedang diminta kembali oleh Musa. Demikian juga melalui perantaraan Kristus, kita tidak saja terbebas dari kutuk, tetapi juga memperoleh jaminan berkat. Kita tidak saja diselamatkan dari kehancuran, tetapi juga berhak menerima kebahagiaan kekal. Amatilah sekarang betapa mengagumkan cara Musa mengajukan perkara ini di hadapan Allah, dan memenuhi mulutnya dengan kata-kata pembelaan. Betapa ia sangat menghargai perkenan Allah, dan betapa besar perhatiannya terhadap kemuliaan Allah dan kesejahteraan Israel. Betapa gigih ia memohon, dan bagaimana ia berhasil.

1. Betapa gigih ia memohon.

(1) Ia bersikeras perihal tugas yang telah diberikan Allah kepadanya, yaitu untuk menyuruh bangsa ini berangkat (ay. 12). Ia mengawali dengan berkata, “TUHAN, Engkau sendirilah yang menyuruhku, dan tidakkah Engkau mau mengakuiku? Aku sedang melakukan tugasku, jadi bukankah aku harus memperoleh penyertaan-Mu dalam tugasku?” Siapa yang Allah panggil untuk suatu pekerjaan, Ia pasti akan memperlengkapi orang itu dengan bantuan yang diperlukan. “Ya TUHAN, Engkau telah menyuruhku melaksanakan sebuah pekerjaan besar, namun membiarkanku tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana harus menyelesaikannya.” Perhatikanlah, orang-orang yang dengan sungguh berencana dan berusaha keras melaksanakan tugas mereka, dapat dengan iman memohon petunjuk serta kekuatan kepada Allah untuk bisa mengerjakannya.

(2) Musa menekankan kepentingannya sendiri terhadap Allah, dan memohon supaya Allah menyatakan kebaikan-Nya yang penuh rahmat kepadanya: Engkau berfirman: Aku mengenal namamu, sebagai teman istimewa dan orang kepercayaan, dan juga engkau mendapat kasih karunia di hadapan-Ku, melebihi siapa pun. Maka sekarang, kata Musa, jika aku kiranya mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, beritahukanlah kiranya jalan-Mu kepadaku (ay. 13). Allah sudah menyatakan perkenanan-Nya kepada bangsa itu, tetapi mereka telah kehilangan kebaikannya, sehingga Musa tidak dapat mengingatkan Allah akan janji perkenan-Nya itu. Oleh sebab itu Musa menekankan permohonannya pada apa yang telah dikatakan Allah kepadanya saja. Meskipun menurutnya ia tidak pantas menerimanya, namun ia berharap tidak kehilangan kebaikan itu. Karena itulah ia tetap gigih memohon kepada Allah, “TUHAN, jika Engkau memang hendak berbuat sesuatu bagiku, lakukanlah itu bagi bangsa ini.” Demikian juga Yesus Tuhan kita dalam pengantaraan-Nya, datang menghadap Bapa, sebagai Pribadi yang senantiasa mendapat perkenanan-Nya, sehingga dengan demikian memperoleh rahmat bagi kita yang seharusnya layak dimurkai-Nya. Kasih karunia-Nya yang mulia, dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya. Demikian jugalah orang-orang yang mengabdi demi kesejahteraan umum, sangat suka menekankan kepentingan mereka terhadap Allah dan juga manusia demi kebaikan orang banyak. Amatilah untuk apa ia begitu bersungguh-sungguh: Supaya aku tahu jika aku kiranya mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, beritahukanlah kiranya jalan-Mu kepadaku. Perhatikanlah, petunjuk ilahi merupakan salah satu bukti terbaik akan perkenanan ilahi. Melalui hal ini kita bisa tahu bahwa kita telah mendapat kasih karunia di hadapan Allah, yaitu jika kita menemukan kasih karunia di hati kita untuk membimbing dan mendorong kita dalam melaksanakan tugas. Perbuatan baik Allah di dalam diri kita merupakan penemuan paling pasti akan niat baik-Nya kepada kita.

(3) Musa juga mengatakan secara tidak langsung bahwa meskipun sangat tidak layak menerimanya, umat Israel juga mempunyai suatu hubungan dengan Allah: “Ingatlah, bahwa bangsa ini umat-Mu, umat untuk siapa Engkau telah melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, yang Engkau tebus bagi diri-Mu sendiri, dan Engkau bawa untuk mengikat perjanjian dengan diri-Mu sendiri. TUHAN, mereka adalah milik-Mu, janganlah meninggalkan mereka.” Seorang ayah yang terluka hatinya mempertimbangkan, “Anakku memang bodoh dan suka membangkang, tetapi dia anakku juga, dan aku tidak sanggup meninggalkannya.”

(4) Musa mengutarakan betapa ia sangat menghargai kehadiran Allah. Ketika Allah berkata, Aku sendiri hendak membimbing engkau, Musa menangkap perkataan itu, seperti orang yang tidak akan bisa hidup dan bergerak tanpanya: “Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini” (ay. 15). Ia berbicara seperti orang yang takut membayangkan harus berangkat tanpa kehadiran Allah, karena tahu bahwa perjalanan panjang mereka tidak akan aman apabila Allah tidak beserta mereka. “Lebih baik kami berbaring dan mati di padang gurun sini daripada berangkat ke Kanaan tanpa kehadiran Allah.” Perhatikanlah, orang-orang yang tahu menghargai perkenan Allah, akan menyiapkan diri sebaik-baiknya untuk menerimanya. Amatilah betapa bersungguh-sungguhnya Musa dalam perkara ini. Ia memohon seperti orang yang tidak mau menerima penolakan. “Kami akan tetap tinggal di sini sampai kami memperoleh perkenan-Mu. Seperti Yakub, Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku.” Dan amatilah juga bagaimana Musa terus gigih begitu Allah menunjukkan kebaikan-Nya. Isyarat baik yang diberikan kepadanya membuatnya semakin gigih lagi dalam memohon. Begitulah, janji-janji Allah yang penuh rahmat dan belas kasih yang ditunjukkan-Nya kepada kita, tidak hanya mendorong iman kita, tetapi juga membangkitkan kegigihan kita dalam berdoa.

(5) Musa mengakhiri permohonannya dengan mengaitkannya dengan kemuliaan Allah (ay. 16): “Dari manakah gerangan akan diketahui bangsa-bangsa yang memperhatikan kita, bahwa aku telah mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, yakni aku dengan umat-Mu ini bersama siapa seluruh kepentinganku menyatu? Bagaimanakah mereka tahu perkenan khusus yang membuat kami dibedakan dari segala bangsa yang ada di muka bumi ini? Bagaimana bisa terlihat bahwa kami ini benar-benar memperoleh kehormatan seperti itu? Bukankah karena Engkau berjalan bersama-sama dengan kami? Tidak ada hal lagi selain kehadiran-Nya ini yang bisa menjawab semua pertanyaan tadi. Jangan pernah ada yang mengatakan bahwa kami adalah suatu bangsa istimewa yang sangat Engkau kasihi, yang yang berdiri sederajat dengan bangsa-bangsa lain, kecuali Engkau pergi bersama kami. Mengutus malaikat untuk menyertai kami tidaklah berguna bagi kami.” Musa memberikan penekanan pada tempat, yaitu “di sini (KJV), di padang gurun ini, ke mana Engkau telah memimpin kami, tempat kami pasti akan tersesat apabila Engkau meninggalkan kami.” Perhatikanlah, penyertaan khusus Allah bersama kita di tengah padang belantara ini, melalui Roh dan kasih karunia-Nya, untuk mengarahkan, membela, dan menghibur kita, merupakan jaminan paling pasti akan kasih-Nya yang istimewa kepada kita, dan hal ini akan mendatangkan puji-pujian bagi kemuliaan-Nya dan membawa kebaikan kepada kita.

2. Amatilah bagaimana ia berhasil. Ia memperoleh jaminan perkenan Allah,

(1) Bagi dirinya sendiri (ay. 14): “Aku sendiri hendak memberikan ketenteraman kepadamu. Aku akan membantumu mengurus perkara ini. Seperti apa pun jadinya nanti, engkau akan dihiburkan.” Musa memang tidak pernah memasuki Kanaan, tetapi Allah menggenapi firman-Nya bahwa Ia akan memberinya istirahat (Dan. 12:13).

(2) Bagi umat Israel demi kepentingannya. Musa tidak puas dengan jawaban yang memperlihatkan perkenan Allah bagi dirinya semata. Ia harus mendapatkan sebuah janji, janji yang khusus bagi bangsa itu juga. Jika tidak, ia tidak akan merasa tenang. Orang-orang berjiwa pemurah dan pengasih merasa tidak cukup apabila mereka sendiri saja yang masuk ke sorga. Mereka ingin agar semua sahabat mereka bisa pergi ke sana juga. Di dalam hal ini juga Musa berhasil: Juga hal yang telah kaukatakan ini akan Kulakukan (ay. 17). Musa tidak ditegur sebagai seorang peminta-minta yang tidak tahu diri, yang percuma saja jika diberi tahu, sebaliknya ia malah dibesarkan hatinya untuk terus meminta. Allah mengabulkan permohonannya selama ia meminta. Ia memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit. Lihatlah kuasa doa, dan oleh sebab itu besarkan hatimu untuk meminta, mencari, dan mengetuk, dan bertekun dalam doa, serta selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. Lihatlah betapa berlimpahnya kebaikan Allah itu. Ketika Allah telah berbuat banyak, Ia bersedia melakukan lebih banyak lagi: Juga hal yang telah kaukatakan ini akan Kulakukan, jauh melebihi apa yang kita doakan atau pikirkan. Lihatlah, semua ini menggambarkan kegigihan kepengantaraan Kristus yang terus diadakan-Nya bagi semua orang yang datang kepada Allah melalui Dia. Demi kitalah Ia gigih mengantarai kita dengan Allah. Semuanya itu dilakukan-Nya oleh karena diri-Nya sendiri, bukan karena apa pun dalam diri orang-orang untuk siapa Ia menjadi perantara. Itu karena engkau telah mendapat kasih karunia di hadapan-Ku. Sekarang perkara itu sudah diselesaikan, dan Allah diperdamaikan kembali dengan mereka. Hadirat-Nya di dalam tiang awan telah kembali kepada mereka dan akan terus menyertai mereka. Segalanya sudah baik kembali, dan sejak itu kita tidak lagi mendengar tentang anak lembu emas. Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa?

II. Setelah mendapat apa yang dimintanya, Musa selanjutnya memohon agar kemuliaan Allah diperlihatkan kepadanya, dan permohonan ini pun didengar. Amatilah,

1. Permohonan yang diajukan Musa dengan rendah hati: Perlihatkanlah kiranya kemuliaan-Mu kepadaku (ay. 18). Belum lama ini Musa berada di atas gunung bersama Allah, tinggal cukup lama di situ, dan menikmati persekutuan akrab dengan Allah yang belum pernah dialami siapa pun di seberang sorga ini. Namun, ia masih ingin mengenal Dia lebih dekat lagi. Semua orang yang benar-benar mengenal Allah dan bersekutu dengan-Nya, meskipun tidak menginginkan apa pun selain Allah, masih mendambakan lebih banyak lagi dari-Nya, sampai mereka bisa melihat seperti mereka dilihat. Musa telah berhasil membujuk Allah sehingga menerima perkenanan demi perkenanan dari-Nya. Keberhasilan doa-doanya membuat dia berani terus mencari Allah. Semakin banyak yang diterimanya, semakin banyak pula yang dimintanya. Apabila kita sangat diterima di hadapan takhta kasih karunia, kita harus berusaha keras memelihara dan memanfaatkannya, terus berlayar ketika angin masih berembus: “Perlihatkanlah kiranya kemuliaan-Mu kepadaku. Biarkan aku melihatnya”; demikianlah arti kata-kata itu. “Biarlah kemuliaan-Mu itu terlihat, dan mampukanlah aku melihatnya.” Tidak berarti bahwa Musa begitu bodoh karena menyangka bahwa hakikat Allah bisa terlihat dengan mata jasmani. Namun, setelah selama itu ia hanya mendengar suara yang keluar dari dalam tiang awan atau api, ia ingin melihat sekilas gambaran kemuliaan ilahi, sesuai yang dipandang Allah pantas untuk diberikan kepadanya. Sungguh tidak pantas apabila umat melihat perwujudan dalam bentuk apa pun ketika TUHAN sedang berbicara kepada mereka, supaya hal ini tidak mengakibatkan kebinasaan mereka. Namun, ia berharap tidak akan berbahaya baginya apabila ia melihat perwujudan itu. Yang diinginkan Musa adalah sesuatu yang lebih daripada yang pernah dilihatnya. Jika keinginannya ini semata-mata demi membantu meningkatkan iman dan ibadahnya, maka hal ini patut dihargai. Namun, mungkin saja di balik keinginan itu terdapat juga kelemahan manusiawi. Allah ingin kita berjalan di dunia ini dengan iman, bukan dengan penglihatan, dan iman timbul dari pendengaran. Ada yang berpendapat bahwa keinginan Musa melihat kemuliaan Allah adalah untuk meminta tanda perdamaian dari Allah, dan jaminan kehadiran yang telah dijanjikan-Nya kepada mereka, namun hanya saja ia tidak tahu bagaimana harus meminta tanda itu.

2. Jawaban penuh rahmat yang diberikan Allah atas permintaan Musa itu.

(1) Ia menolak memberikan apa yang tidak layak dikabulkan dan yang tidak akan mampu ditanggung oleh Musa: Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku (ay. 20). Dengan keadaannya di dunia ini, semua indra kemampuan manusia tidak cukup mampu untuk tahan memandang kemuliaan Allah, bahkan termasuk Musa sendiri. Manusia terlampau rendah dan tidak pantas melihat wajah-Nya. Ia terlampau lemah sehingga tidak akan mampu menanggungnya. Ia berdosa dan pasti akan takut melihat wajah-Nya. Karena rasa belas kasih terhadap kelemahan kitalah, maka Allah menutupi pemandangan takhta-Nya, melingkupinya dengan awan-Nya (Ayb. 26:9). Allah telah berkata, bahwa di sini, yaitu di dunia ini, wajah-Nya tidak akan kelihatan (ay. 23). Melihat wajah-Nya diperuntukkan bagi keadaan di kemudian hari, untuk menjadi kebahagiaan kekal bagi jiwa-jiwa yang kudus. Seandainya manusia dalam keadaan sekarang ini mengetahui seperti apa wajah-Nya, maka mereka tidak akan merindukannya lagi. Ada hal-hal tentang Allah dan yang bisa dinikmati dari-Nya yang harus dinantikan di dunia lain, ketika kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya (1Yoh. 3:2). Jadi untuk sementara, marilah kita puja keluruhan segala sesuatu yang sudah kita ketahui tentang Allah, dan kedalaman apa yang belum kita ketahui tentang Dia. Jauh sebelum ini, Yakub telah menyatakan dengan takjub bahwa ia telah melihat Allah berhadapan muka, tetapi nyawanya tertolong (Kej. 32:30). Manusia berdosa takut melihat Allah, Hakimnya. Sebaliknya, orang-orang kudus yang mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung, oleh Roh diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya (2Kor. 3:18).

(2) Allah mengabulkan apa yang akan sangat memuaskan hati.

[1] Musa akan mendengar apa yang bisa menyukakan hatinya (ay. 19): Aku akan melewatkan segenap kegemilangan-Ku dari depanmu. Allah telah berbaik hati menunjukkan kepada Musa berbagai contoh kebaikan hati-Nya yang mulia dengan kesediaan-Nya untuk berdamai dengan Israel. Namun, itu barulah kebaikan yang tidak seberapa. Ia akan menunjukkan kepadanya kebaikan langsung dari sumbernya, yaitu segenap kegemilangan-Nya. Ini merupakan jawaban yang cukup terhadap permintaan Musa. “Perlihatkan kemuliaan-Mu kepadaku,” kata Musa. “Aku akan memperlihatkan kegemilangan-Ku kepadamu,” jawab Allah. Perhatikanlah, kegemilangan atau kebaikan Allah merupakan kemuliaan-Nya. Ia ingin agar kita mengenal Dia melalui kemuliaan kasih setia-Nya, lebih dari kemuliaan keagungan-Nya, sebab kita harus gentar kepada TUHAN dan kepada kebaikan-Nya (Hos. 3:5). Terutama yang merupakan kemuliaan kebaikan Allah adalah kedaulatan-Nya, yaitu bahwa Ia akan memberi kasih karunia kepada siapa yang Ia beri kasih karunia. Maksudnya, Allah adalah Sang Pemberi yang berdaulat, Ia memberikan karunia sesuai kehendak-Nya. Ia bukanlah orang yang berutang kepada siapa pun, atau memiliki kewajiban melakukan sesuatu kepada siapa pun. Tidak bolehkah Ia berbuat apa yang dikehendakinya dengan milik-Nya? Selain itu, semua alasan-Nya untuk berbelas kasihan datang dari diri-Nya sendiri, tidak dari jasa baik makhluk ciptaan-Nya. Demikian juga Ia mengasihani siapa yang dikasihani-Nya, karena Ia mau melakukannya. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Tidak pernah disebutkan, “Aku akan marah kepada siapa yang hendak Kumarahi,” sebab murka-Nya senantiasa adil dan kudus. Sebaliknya, Ia berkata, Aku akan mengasihani siapa yang Kukasihani, sebab kasih karunia-Nya senantiasa diberikan dengan cuma-cuma. Ia tidak pernah menghukum dengan sewenang-wenang walaupun Ia memiliki hak sepenuhnya untuk menghukum. Sebaliknya, Ia menyelamatkan karena Ia memiliki hak sepenuhnya untuk menyelamatkan. Rasul Paulus mengutip hal ini (Rm. 9:15) sebagai jawaban kepada orang-orang yang menuduh bahwa Allah bersikap tidak adil karena memberikan suatu kasih karunia dengan murah hati kepada beberapa orang tetapi dengan pantas pula menahannya dari sebagian orang lain.

[2] Musa akan melihat apa yang sanggup ditanggungnya dan apa yang cukup baginya. Perkara itu dirancang begitu rupa agar Musa tetap aman namun juga merasa puas. Pertama, aman di dalam lekuk gunung (ay. 21-22). Melalui cara ini ia akan terlindung dari sinar menyilaukan dan api menghanguskan yang terpancar dari kemuliaan Allah. Inilah batu karang di gunung Horeb tempat air memancar dari dalamnya. Mengenai batu karang itu dikatakan, batu karang itu ialah Kristus (1Kor. 10:4). Di dalam lekuk atau celah batu karang inilah kita aman dari murka Allah yang jika tidak, pasti akan membinasakan kita. Allah sendiri akan melindungi orang-orang yang tersembunyi seperti itu. Dan, hanya melalui Kristus-lah kita memiliki pengetahuan tentang kemuliaan Allah. Tidak seorang pun selain mereka yang berdiri dan berlindung di batu karang ini yang dapat memandang kemuliaan-Nya dan memperoleh ketenteraman di dalamnya. Kedua, Musa harus cukup puas dengan melihat bagian belakang-Nya (ay. 23). Ia akan melihat lebih banyak daripada yang pernah dilihat siapa pun di bumi ini, tetapi tidak sebanyak yang dilihat mereka yang berada di sorga. Pada manusia, wajah merupakan takhta keagungan, dan manusia dikenal dari wajah mereka. Dari wajahlah kita dapat melihat manusia seutuhnya. Tetapi, melihat wajah Allah seperti itu tidak akan mampu dilakukan Musa. Sebaliknya, yang dapat dilihatnya adalah seperti yang kita lihat ketika orang sudah melintas di depan kita, sehingga yang tampak hanyalah punggungnya. Kita hanya bisa melihatnya secara sekilas. Kita tidak bisa disebut melihat Allah. Yang lebih tepat adalah mencari Dia (Kej. 16:13, KJV), sebab kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar. Ketika kita melihat apa yang telah dilakukan Allah melalui karya-karya-Nya, mengamati langkah-langkah Allah kita, Raja kita, maka kita seakan-akan melihat bagian belakang-Nya. Kita hanya mengenal dengan tidak sempurna, dan kita tidak dapat merangkai kata-kata kita tentang Allah karena gambaran yang samar-samar tadi, seperti kita juga tidak dapat menggambarkan orang yang belum pernah kita lihat wajahnya. Sekarang Musa hanya diperkenankan melihat bagian belakang-Nya. Namun jauh sesudah itu, ketika ia menjadi saksi perubahan rupa Kristus di atas bukit, ia melihat wajah-Nya bercahaya seperti matahari. Jika kita setia meningkatkan pengetahuan dan wahyu-wahyu yang diberikan Allah mengenai diri-Nya sendiri sementara kita masih hidup di dunia, maka pemandangan yang lebih cemerlang dan mulia akan segera diperlihatkan kepada kita, karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi.

Ternyata berkat Tuhan tidak sama dengan IA BESERTA KITA. Tidak semua yang berjalan Lancar, Tuhan ada di dalamnya. Sebaliknya, bukan berarti keadaan dengan banyak masalah dan Tuhan tidak ada di dalamnya.

Mana yang lebih berarti bagi kita? Mukjizat Tuhan ataukah Kehadiran Tuhan?

Jadi, bagaimana memastikan bahwa Allah Imanuel itu terjadi dan dialami oleh kita?
1. Keluaran 33:7-17 (TB) Sesudah itu Musa mengambil kemah dan membentangkannya di luar perkemahan, jauh dari perkemahan, dan menamainya Kemah Pertemuan. Setiap orang yang mencari TUHAN, keluarlah ia pergi ke Kemah Pertemuan yang di luar perkemahan. 
Apabila Musa keluar pergi ke kemah itu, bangunlah seluruh bangsa itu dan berdirilah mereka, masing-masing di pintu kemahnya, dan mereka mengikuti Musa dengan matanya, sampai ia masuk ke dalam kemah.
Apabila Musa masuk ke dalam kemah itu, turunlah tiang awan dan berhenti di pintu kemah dan berbicaralah TUHAN dengan Musa di sana. 
Setelah seluruh bangsa itu melihat, bahwa tiang awan berhenti di pintu kemah, maka mereka bangun dan sujud menyembah, masing-masing di pintu kemahnya.
Dan TUHAN berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya; kemudian kembalilah ia ke perkemahan. Tetapi abdinya, Yosua bin Nun, seorang yang masih muda, tidaklah meninggalkan kemah itu. 
Lalu berkatalah Musa kepada TUHAN: "Memang Engkau berfirman kepadaku: Suruhlah bangsa ini berangkat, tetapi Engkau tidak memberitahukan kepadaku, siapa yang akan Kauutus bersama-sama dengan aku. Namun demikian Engkau berfirman: Aku mengenal namamu dan juga engkau mendapat kasih karunia di hadapan-Ku. 
Maka sekarang, jika aku kiranya mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, beritahukanlah kiranya jalan-Mu kepadaku, sehingga aku mengenal Engkau, supaya aku tetap mendapat kasih karunia di hadapan-Mu. Ingatlah, bahwa bangsa ini umat-Mu." 
Lalu Ia berfirman: "Aku sendiri hendak membimbing engkau dan memberikan ketenteraman kepadamu." 
Berkatalah Musa kepada-Nya: "Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini.
Dari manakah gerangan akan diketahui, bahwa aku telah mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, yakni aku dengan umat-Mu ini? Bukankah karena Engkau berjalan bersama-sama dengan kami, sehingga kami, aku dengan umat-Mu ini, dibedakan dari segala bangsa yang ada di muka bumi ini?" 
Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Juga hal yang telah kaukatakan ini akan Kulakukan, karena engkau telah mendapat kasih karunia di hadapan-Ku dan Aku mengenal engkau."
• Datang mencari Tuhan


2. Keluaran 34:1 (TB) Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Pahatlah dua loh batu sama dengan yang mula-mula, maka Aku akan menulis pada loh itu segala firman yang ada pada loh yang mula-mula, yang telah kaupecahkan.
• Kembali pada Kebenaran dan Ikut Kehendak Tuhan

3. Keluaran 34:2 Bersiaplah menjelang pagi dan naiklah pada waktu pagi ke atas gunung Sinai; berdirilah di sana menghadap Aku di puncak gunung itu.
Tetapi janganlah ada seorang pun yang naik bersama-sama dengan engkau dan juga seorang pun tidak boleh kelihatan di seluruh gunung itu, bahkan kambing domba dan lembu sapi pun tidak boleh makan rumput di sekitar gunung itu." 
Lalu Musa memahat dua loh batu sama dengan yang mula-mula; bangunlah ia pagi-pagi dan naiklah ia ke atas gunung Sinai, seperti yang diperintahkan TUHAN kepadanya, dan membawa kedua loh batu itu di tangannya. 
Turunlah TUHAN dalam awan, lalu berdiri di sana dekat Musa serta menyerukan nama TUHAN. 
Berjalanlah TUHAN lewat dari depannya dan berseru: "TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya,  
yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat." 
Segeralah Musa berlutut ke tanah, lalu sujud menyembah 
serta berkata: "Jika aku telah mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, ya Tuhan, berjalanlah kiranya Tuhan di tengah-tengah kami; sekalipun bangsa ini suatu bangsa yang tegar tengkuk, tetapi ampunilah kesalahan dan dosa kami; ambillah kami menjadi milik-Mu." 
Firman-Nya: "Sungguh, Aku mengadakan suatu perjanjian. Di depan seluruh bangsamu ini akan Kulakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib, seperti yang belum pernah dijadikan di seluruh bumi di antara segala bangsa; seluruh bangsa, yang di tengah-tengahnya engkau diam, akan melihat perbuatan TUHAN, sebab apa yang akan Kulakukan dengan engkau, sungguh-sungguh dahsyat.
Cari Tuhan di Pagi Hari

4. Keluaran 34:11 Tetapi engkau, berpeganglah pada yang Kuperintahkan kepadamu pada hari ini. Lihat, Aku akan menghalau dari depanmu orang Amori, orang Kanaan, orang Het, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus.
Pegang Firman Tuhan 

Aplikasi dalam kehidupan ~ Menjadi Murid Kristus
1. Komitmen Beribadah 
     Yosua 24:15 (TB) ...... Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!" 

     Yohanes 6:37 (TB) Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.

     Keluaran 23:25 (TB) Tetapi kamu harus beribadah kepada TUHAN, Allahmu; maka Ia akan memberkati roti makananmu dan air minumanmu dan Aku akan menjauhkan penyakit dari tengah-tengahmu.

     1 Timotius 4:8 (TB) Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.

Mazmur 119:105 (TB) Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku. 

2. Komitmen Menara Doa
     Markus 1:35 (TB) Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.

Di tiap pagi, Tuhan menyediakan berkat bagi kita.

Ratapan 3:22-23 (TB) Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, 
selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri yang Diunggulkan

Prayer In The Morning

  Prayer To God in the Morning Psalm 143:8 New International Version (NIV) 8  Let the morning bring me word of your unfailin...