Minggu, April 03, 2016

Hormatilah Ayahmu & Ibumu



Ibadah Pelprap, Sabtu 02 April 2016
Hormatilah Ayahmu & Ibumu
Ulangan 5 : 16
Hormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu

Seperti kita semua ketahui Hukum Hormatilah ayahmu dan ibumu ini adalah hukum ke 5 dari 10 Hukum Taurat. Baca Keluaran 20 : 1 – 17 yang diberi judul Kesepuluh Firman. Kesepuluh hukum ini dibagi atas 2 bagian, yang pertama itu hukum kepada Manusia kepada Allah, dan kedua hukum dari manusia satu terhadap manusia yang lain.

Pada jaman dahulu, jaman dimana raja dan kepala-kepala suku yang memerintah. Hukum yang dijalankan adalah hukum dari raja dan kepala suku. Apa yang diucapkan raja-raja pada saat itu adalah hukum. Jadi kalau rajanya waras, maka hukumnya waras, kalau rajanya adil hukumnya adil, kalau rajanya bijaksana maka hukumnya bijaksana, oleh karena itu seperti yang sering kita dengar dalam film-film kerajaan, rakyat-rakyat selalu berkata ‘hidup raja-panjang umur raja’. Itu karena mereka mau mendoakan rajanya hidup lama agar mereka tetap hidup dalam keadilan, sebab belum tentu raja yang menggantikan raja yang lama itu lebih baik dari yang sebelumnya, bisa jadi rajanya itu suka berfoya-foya berpesta pora, hingga harus menyusahkan rakyatnya, karna secara otomatis pajaknya dinaikkan, agar penghasilan kerajaan bisa banyak. Atau bila rajanya tidak berhikmat, maka jangan harap keadilan bisa didapatkan rakyatnya.
Dengan melihat itu, hukum sebelum Kesepuluh Perintah Allah ini ada, maka hukum-hukum kerajaan atau suku-suku adalah hukum yang labil. Sangatlah luar biasa Hikmat Allah dengan memberikan manusia dasar hidup berbudaya. Mengajarkan bagaimana Mengasihi Allah dan bagaimana Mengasihi Manusia lain.
Kesepuluh Firman Allah :
1.     Jangan ada padamu allah lain dihadapanKu
2.     Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada dilangit diatas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. dan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya.
3.     Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.
4.     Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat
5.     Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.
6.     Jangan membunuh.
7.     Jangan berzinah.
8.     Jangan mencuri.
9.     Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.
10.                      Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apa pun yang dipunyai sesamamu

    Tuhan menempatkan hukum yang pertama dalam hukum terhadap sesama manusia adalah  Hormatilah ayahmu dan ibumu. Bukankah menurut kita membunuh itu lebih utama bila ditempatkan sebagai perbuatan dosa yang lebih besar dari pada menghormati orang tua. Bukankah ada orang yang dipenjara karena membunuh, mencuri, menipu dsb. Tetapi tidak pernah ada yang dihukum karena tidak menghormati orang tua.

Kenapa demikian penting? Karena :
1.         Allah melihat ini penting sehingga menjadikannya sebagai HUKUM. Sebagaimana sebuah hukum bila dilanggar maka akan mendatangkan sanksi. Seperti halnya Hukum yang ada didunia ini, ada hukum perdata ada hukum pidana. Namun itu sanksinya ada pada aparat hukum. Tapi ada hukum seperti hukum boyle, hukum hukum pascal, hukum Archimedes, hukum grafitasi, dll sebagainya. Hukum-hukum yang seperti ini hakekatnya mirip dengan Hukum Menghormati Orang Tua. Semua itu hakekatnya Mutlak. Karena bila dilanggar langsung terjadi. Misalnya saya mbil contoh Hukum Grafitasi. Bila kita melanggar hukum grafitasi meloncat dari Kantor Pelni Bitung misalnya, bumi tidak melihat mau dia kaya, walikota sekalipun, atau penyapu jalanan, hakekatnya adalah sama. Karena bumi memperlakukan semuanya secara sama, kalo nggak sekarat pasti mati.
Begitu pula dengan kita melanggar Hukum Menghormati Orang Tua. Dalam Keluaran  21:15 Siapa yang memukul ayahnya atau ibunya, pastilah ia dihukum mati.17 Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya, ia pasti dihukum mati.
Cobalah cermati hidup teman kita yang tidak menghormati orang tua. Orang Tua kita memang kadang kita berfikir, terlalu cerewet, banyak aturan. Tapi itu untuk siapa? Semua untuk kebaikan kita, walau kadang itu terlalu mengekang, over protektif.
2.         Allah menjadikan orang tua sebagai wakil Allah dalam dunia ini.
Bukankah sebagai wakil Allah di dunia, ini adalah hadiah terindah bagi anak-anak yang masih memiliki orang tua sampai saat ini. Orang tua adalah Hadiah terindah dari Tuhan yang masih bisa kita lihat, hingga kita masih disayangi.
Orang tua wujud kasih Allah pada kita, anak-anakNya. Dalam Yehezkiel  18:4 Tuhan berkata “Sungguh, semua jiwa Aku punya! Baik jiwa ayah maupun jiwa anak Aku punya! Dan orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati.
Tuhan mencintai ciptaanNya, Dia mengasihi kita, namun Dia tidak mungkin akan ada dengan wujudNya terus di dunia ini, maka karena itu ia mengirimkan orang tua, supaya melalui orang tua Kasih Tuhan sampai pada kita. Kita dicintai, dimanjakan, diberi apa yang kita mau.
Karena itulah Hukum yang pertama yang dibuat Tuhan untuk mengatur kehidupan manusia satu terhadap yang lain. Tuhan mengetahui tanggung jawab besar dari orang tua, karena Iapun memiliki jiwa sebagai seorang ayah, Dia adalah Bapa, dan Dia juga mengerti hati seorang anak.

Maka itu Tuhan mau kita Menghormati ayah dan ibu bukan hanya sekedar seperti menghormati sesama kita, tetapi menghormati mereka sebagai wakil dari Allah. Orang tua adalah wakil dari Allah. Sebagaimana kita melayani Allah dengan hormat dan takut, maka wakil Allah yakni ayah dan ibu kita pun harus dihormati. Bagaimana mau menghormati Allah, sedangkan ayah dan ibu yang terlihat menakutkan kalau marah itu tidak kita hormati dan takuti, apalagi Allah yang kita tahu itu baik namun tidak kelihatan.

Orang tua kita tidak pernah memilih kita untuk jadi anaknya. Mereka mengganggap kita adalah hadiah terindah dari Tuhan. Hadiah terindah yang pernah Tuhan beri dihidup mereka. Karena itu hidup dan mati seorang ibu dipertaruhkan demi anaknya. Jerih lelah seorang ayah demi anaknya.

Cobalah kita renungkan, saat orang tua kita tidur pernahkah kita melihat mereka? Kalau belum pernah, cobalah kita perhatikan sebentar malam. Saat mereka tertidur cobalah adik-adik renungkan. Seharian mereka bekerja, tak pernah mengeluh lelah, demi siapa? Demi saya, demi kakak, demi adik, lalu apa yang sudah saya perbuat? Saya menyakiti mereka, saya banyak membantah perkataan mereka, padahal maksud mereka adalah baik. Hanya saja saya akan dianggap kolot oleh teman-teman, tidak gaul, ketinggalan jaman. Namun lihatlah tubuh mereka, kulit yang makin kendor, semakin kusam bahkan ada bagian-bagian tubuh luar yang mulai berubah, mereka sakit bahkan kita tidak pernah tahu apa yang mereka rasakan. Sakit bagaimanakah yang mereka rasakan.

Adik-adik janganlah pernah kita membandingkan orang tua kita dengan orang tua teman kita. Mungkin saja ada adik-adik disini yang berfikir saya tidak mau hidup dikeluarga yang berkekurangan, saya menyesal memiliki orang tua seperti ini. Janganlah berlaku demikian adik-adik, karena hembusan nafas terakhir orang tua kita adalah kita. Mereka bahkan memikirkan anak-anak mereka saat akhir hidup mereka. Pergumulan orang tua kita bahkan akan sampai saat kita berumah tangga. Doa mereka hanyalah untuk kebahagiaan kita.

Kita kembali pada bacaan Firman kita tadi Hormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.

Ada 2 janji Tuhan disini. Jika kita menghormati maka pertama supaya lanjut umur kita, Tuhan memberikan kita umur yang panjang. Kedua, baik keadaanmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu. Baik keadaan kita, dapat kita artikan sesuatu yang baik yang membuat kita bersukacita. Benar bukan? ^_^
Maka adakah sesuatu yang lebih yang kita ingini di dunia ini selain kebahagiaan kita? 

Kita telah bersusah payah melakukan kehendak Tuhan, sampai menuruti orang tua, menghormati Tuhan ,dan juga melakukan kehendak Tuhan untuk  menyayangi ayah dan ibu, hingga ada yang bilang kita kolot, sok alim, kalo laki-laki sampai dikatai “banci” oleh teman-teman yang mengajaknya melakukan kehendak dunia/kehendak iblis. 

Biarlah dunia menilai kita seperti itu, karena sesuai janji Tuhan  Ulangan 31:6 Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau

Tuhan sendirilah yang berjanji akan menyertai kita selama kita berjalan dijalan yang Tuhan kehendaki. Karena tidak sekalipun kita akan ditinggalkanNya. Ada berkat Tuhan yang besar dibaliknya. Walaupun kita melihat teman kita yang lain yang tidak mengasihi orang tua mereka namun mereka kaya, berlimpah, bisa hura-hura, kelihatan bahagia. Namun lihatlah kehidupan mereka? Adakah mereka tidak mengalami kejatuhan? Mungkin saat ini mereka ada di atas kita. Di tempat yang kita inginkan, banyak uang, punya hp mahal, setiap ada keluaran gadget terbaru mereka ada. Tapi jika hidup mereka menyusahkan orang tua, tidak menghormati, bahkan membangkang terhadap orang tua, perhatikanlah ada saatnya mereka akan jatuh terhempas, mereka bisa saja bangun dan jaya lagi, namun hukum Tuhan itu pasti. Selama mereka tidak menyadari dan mengakui kesalahan di hadapan Tuhan, maka selamanya dosa akan terus mengikuti mereka. Kata Tuhan Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!

Kasih Karunia Tuhan yang dicurahkan di kayu salib, memang mengampuni segala jenis pelanggaran manusia. Namun ada syaratnya, Hiduplah menurut Firman Allah.

Sebab Kasih Karunia Allah yaitu Tuhan Yesus hadir bukan untuk meniadakan Hukum Taurat, tapi untuk menggenapinya.  
Matius 5: 17 "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.
5:18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.

Jika Tuhan berkata Hormatilah ayahmu dan ibumu, maka takutlah dan tunduklah pada FirmanNya.


Karena itu adik-adik, seperti kita menyayangi Bapa kita yang tidak kelihatan itu. Sayangilah juga orang tua kita. Selama orang-tua kita itu masih merupakan orang-tua kita, titah itu mengikat kita. Sampai saya mati pun, ayah saya, tetaplah ayah saya. Dan ibu saya, tetaplah ibu saya.Saya tetap berhutang hormat kepada mereka.
 
Hormatilah orang tuamu selama mereka masih hidup. Kita tak pernah tahu apa yang disediakan hari esok. Ketika ayah-ibu kita sudah berhenti bernafas, semuanya itu sudah terlambat. Tidak ada gunanya kita menangisi jasad mereka, karena mereka takkan pernah bisa melihat lagi kasih kita yang besar terhadap mereka.

Adik-adik yang Tuhan Yesus kasihi…Kasihilah Tuhanmu dengan segenap hatimu dan taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan. karena sesuatu yang terlihat indah bagi Tuhan berarti menyenangkan hati Tuhan, dan ketika Tuhan senang dengan hidup kita. Maka diberkatilah kita semua karena kasihNya. Amin…..

Sabtu, Maret 12, 2016

DIGARAMI DENGAN API




Pembacaan Firman Tuhan pada Ibadah Umum Malam hari ini, diambil dalam
Markus 9 : 43-50

9:43 Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan;
9:44 (di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.)
9:45 Dan jika kakimu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, dari pada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka;
9:46 (di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.)
9:47 Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka,
9:48 di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam.
9:49 Karena setiap orang akan digarami dengan api.
9:50 Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain."

Konteks keselurahan ayat 43-50 ini mengenai kesengsaraan dan rasa sakit. Lebih baik kita menderita menanggung rasa sakit dari pada kita menjadi pendosa. Karena kalau kita menjadi hambar atau menjadi pendosa konsekuensinya kita akan “DIGARAMI DENGAN API”
Pertama-tama mari kita lihat konteks Garam itu sendiri. Mengapa Tuhan Yesus menggunakan perumpamaan garam pada ayatnya yang ke 50?
Garam yang kita temui di dapur itu garam yang telah melalui proses kemikal yang sedemikian rupa, diolah agar Kristal-kristal garamnya tetap terikat dan tidak terurai, hingga tetap asin sampai kapanpun, selama tidak mengalami proses pemanasan yang mengakibatkan penguraiaan sat-sat didalamnya. Namun pada jaman dahulu, Garam itu hanya dikumpulkan dan ditumpuk pada satu tempat, kemudian diambil saat akan dipakai saja, tapi bila lama kelamaan garam itu tidak dipakai dia mengalami proses penguraian, hingga menjadi kecil dan tersisa seperti butiran pasir. Lalu apakah gunanya lagi bila garam itu tidak memiliki rasa? Lebih baik dibuang karena sudah tidak berguna.
Nah seperti itulah hidup kekristenan saat ini, ada banyak kekristenan kita nganggur. Disimpan saja, lama-lama, tidak berbuat apa-apa, hanya KTPnya saja yang menyebut ia Kristen, garamnya hilang. Lalu apa? Kata Tuhan lebih baik dibuang saja!
Inilah mengapa Tuhan Yesus menggunakan istilah Garam atas kehidupan kita. Coba kita lihat dalam Imamat 2:13 Dan tiap-tiap persembahanmu yang berupa korban sajian haruslah kaububuhi garam, janganlah kaulalaikan garam perjanjian Allahmu dari korban sajianmu; beserta segala persembahanmu haruslah kaupersembahkan garam.
Korban itu haruslah digarami sebelum dipersembahkan untuk Tuhan. kekristenan kita harus digarami, karena garam memberi ketahanan, dan menjadikan kita awet. Kekristenan kita haruslah menjadi contoh bagi yang non Kristen. Kita menjalani hari-hari kita sehingga kita mampu bertahan, berpegang teguh pada perintah Tuhan & keimanan pada Tuhan Yesus saja; “penuh kasih, penuh cinta, hidup dengan benar, jauh dari perbuatan dosa, hingga keluarga yang menghasilkan buah-buah yang baik”.
Karena Garam itu tidak pernah dipengaruhi, amin saudara-saudara. Garam itu mempengaruhi. Kita hidup untuk member dampak kepada orang disekitar kita, entah dikantor, disekolah, tetangga-tetangga kita, saudara-saudara kita dan seluruh kehidupan social kita.
Ibu-ibu, bapak-bapak, juga adik-adik yang pada malam hari ini ada dalam rumah Tuhan ini, kita semua adalah garam dunia. Kehidupan kita menjadi contoh bagi orang lain. Tidak ada seorangpun dari kita yang mau meniru kehidupan buruk orang lain. Kita ingin selalu terlihat baik, bahkan sekedar baik agar terlihat baik walaupun hanya pura-pura, itu keinginan kita, walaupun hanya untuk image saja, agar jadi terpandang. Tapi alangkah baiknya hidup baik itu yang benar dihadapan Allah. Sehingga kita tidak menjadi duri dalam keluarga dan mendatangkan malu. Namun bila ada yang telah jatuh kedalam dosa, ketika Tuhan menjamah hati kita mari kita berbalik dan hidup menurut kehendakNya. Jangan memberi jeda atau pause kalau difilm-film, kita berhenti menggosipkan orang hanya karena pernah ditempeleng orang, begitu rasa sakit dan takut hilang, kita buat lagi dosa menggosipkan dan memfitnah orang. Kita pernah masuk bui karena pernah mencuri atau membunuh, dosa itu berhenti sesaat, karena ada dalam bui, begitu bebas, buat lagi dosa yang sama. Kita berzinah hanya karena gk ketahuan orang lain ataupun orang tua, tapi begitu punya kesempatan malah buat lagi. Jika kita pernah berbuat salah, ketika Firman Tuhan diperdengarkan marilah berbalik pada Tuhan. Karena inilah jalan yang Tuhan mau, berbalik dan berjalan bersamaNya dan menjadi garam bagi dunia kita.
Hidup kita haruslah menurut kehendak Tuhan, menjauhi dosa, punya hati yang penuh belas kasihan, baik kepada seorang terhadap yang lain, tau memberi kepada yang berkekurangan, tau mengampuni kepada saudara kita atau orang lain yang berbuat salah kepada kita, tau berfikir dan berkata dengan penuh Hikmat, dan tau bertindak dengan bijaksana.
Sehingga kehidupan kita menjadi kesaksian bagi orang lain, yang secara tidak langsung kita telah memperkenalkan Yesus Kristus kepada mereka yang tidak mengenal Tuhan. Bukan tidak mungkin orang-orang itu berkata “Begini dang kehidupan orang Kristen! Apa so yang dorang pe Tuhan Yesus ajarkan pa dorang? Kyapa dorang pe hidop diberkati? Walo berkekurangan dorang hidop dengan bersukacita?” Nah disini bisa jadi orang-orang itu punya keinginan mengenal ajaran Tuhan Yesus, karena hidup Kristen itu sempurna. Walau berkekurangan namun hati bersukacita, hidup berkelimpahanpun tetap lurus dan berbuah-buah baik dalam keluarga, walau dalam pergumulan namun memiliki iman dalam Yesus, malah mengaminkan segala dukacita adalah rancangan Tuhan yang terindah dalam hidup.
Inilah maksud Tuhan sebagai Garam. Lebih baik menjadi Garam semasa Hidup kita, dari pada kita tawar dan nantinya akan “digarami dengan api” ketika kita selesai dengan kehidupan ini.
Dalam ayat ke 43-47, lebih baik bagi kita kehilangan tangan, kaki, bahkan mata kita, dari pada kita dengan tubuh lengkap kita masuk ke dalam jurang maut. Lebih baik kita menderita hati, mengalah, bersabar kepada orang lain, lebih baik kita kelaparan, kita hidup kekurangan, atau cukup saja dari pada ingin lebih tapi hidup berujung MAUT.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan kita Yesus Kristus. Saya ingin bersaksi sedikit mengenai penglihatan saya. Pernah 1x Tuhan Yesus menunjukkan pada saya mengenai Hari Penghakiman. Waktu pertama kali saya bersaksi, saya pernah memberitahu mengenai penglihatan-penglihatan dan mimpi-mimpi saya yang terjadi sejak berumur 7 atau delapan tahun bahkan sampai sekarang. Tapi mengenai hari penghakiman ini, terjadi ketika saya masih di SMP. Waktu itu saya melihat Tuhan bertahta diatas awan, penuh kemegahan, kuasa dan semesta ada di TanganNya. Kemudian terlihat 2 orang malaikat. Seorang malaikat berkata kepada Tuhan “ayunkanlah sabitMu & tuailah sebab sudah tiba saatnya untuk menuai. Lalu Tuhan menganyunkan sabitnya. Bumipun dituaiNya. Lalu malaikat yang memegang sabit panjang diperintahkan oleh malaikat yang lain untuk mengayunkan sabitnya,namun hasil tuaian malaikat yang memegang sabit besar itu dimasukkan dalam murka Allah. Seperti sebuah lubang api besar yang menganga. Semua jiwa yang mendukakan hati Tuhan masuk kedalam perapian yang menyala-nyala. Mereka berteriak memohon ampun. Tapi satu hal yang sangat mengiris hati saya, saya melihat Tuhan Yesus menangis, tangisannya penuh dengan kesedihan. Tuhan berkata “sudah terlambat anak-anakKu. Bukankah Aku telah memberimu kesempatan selama engkau hidup? Kau tidak mengikuti perintahKu”  Tuhan menangis sambil berucap seperti itu.
Saudara – saudara sekalian Tuhan penuh dengan belas kasihan. Sekalipun tinggal 1 detik saja kehidupan kita ditanganNya. 1 detik itu Ia beri untuk kita bertobat. Bukankah Allah penuh belas kasihan.
Sekalipun kita jatuh demikian dalam, bahkan kita berlari demikian jauh dari Tuhan. adakah Tuhan hanya duduk diam dan menunggu? Sekali-kali tidak saudara-saudara. Tuhan akan mencari bahkan dengan berlari Ia untuk mendapati kita. Tapi begitu kita kembali Tangis Sukacita Tuhan akan terukir diwajahNya, bahkan sorgapun akan bersorak-sorai hanya untuk kita.
Maka jika Firman Allah sampai kepada kita malam hari ini, janganlah keraskan hati kita lagi.
Marilah menjadi garam dunia. Janganlah tawar, namun juga jangan keasinan. Jadilah sajian korban yang rasanya enak dan menyukakan hati Bapa. Karena Tubuh dan Jiwa kita adalah milik Tuhan, kembalikanlah ini untuk hormat kemuliaan namaNya. Karena ada janji Tuhan, selain keselamatan menjadi milik kita, anak cucu kitapun akan hidup dalam berkat rohani & jasmani. Keturunan orang yang dibenarkan Allah tidak akan meminta-minta roti, karena roti sorgawi telah hadir dihidup kita. Amin  ~dian vivian~

Senin, Maret 07, 2016

Dengan Ketaatan Kita Dapat Mendengar Suara Tuhan



Dengan Ketaatan Kita Dapat Mendengar Suara Tuhan
by Dian Vivian Manumpil
Pelprap, 20 Februari 2016
Firman Tuhan : Ulangan 28 : 1
“Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintahNya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi.

Pertama-tama saya mau memberikan sedikit ilustrasi cerita yang saya lihat di salah satu blog.
Seorang pemuda yang baru saja kehilangan pekerjaan datang ke rumah seorang pendeta tua. Sang pemuda bersahabat baik dengan pendeta tua tersebut. 
Pemuda itu berteriak-teriak memanggil pendeta sambil mengeluh mengenai masalah yang menimpanya,"Pendeta...Pendeta aku banyak mengalami masalah dalam hidupku dan sekarang aku hehilangan pekerjaan. Mengapa bisa begini?"
Karna pendeta yang sedang belajar di dalam ruangan tidak mendengar suaranya, maka si pemuda menjadi kalap. Ia mengepalkan tinjunya sambil berteriak, "Pendeta bilang Tuhan akan selalu menolong, tetapi mengapa aku seperti ini ?"
Mendengar ada suara ribut-ribut di luar, pendeta tua pun berjalan keluar. Ia mengucapkan sesuatu dan menanti tanggapan si pemuda. Tetapi si pemuda itu tidak mendengar apa yang dikatakan oleh pendeta tua. 
Masih diam di tempatnya, si pemuda bertanya, "Pendeta bilang apa?" 
Sambil duduk di sebuah bangku kayu, pendeta itu mengucapkan sesuatu, tetapi si pemuda masih belum bisa mendengar apa yang dikatakannya. Akhirnya ia pun mendekati pendeta  dan duduk di sampingnya. 
Pendeta menepuk pundaknya dengan lembut sembari berkata, "Anakku, di dalam kekalapan karena masalah hidup, terkadang kita tidak bisa mendengar suara Tuhan, seolah-olah Dia tidak peduli terhadap kita, tetapi sebenarnya tidaklah demikian. Tuhan kadang berbisik, sehingga kita perlu mendekat kepadaNya untuk bisa mendengarkan suaraNya." 
Pemuda itu tertegun mendengar kata-kata pendeta dan akhirnya ia pun mengerti.

Nah, inilah adik-adik yang sering terjadi dalam hidup kita. Kita jarang bahkan tidak pernah mendengar suara Tuhan.
Mari kita belajar lebih jauh lagi, cobalah renungi pertanyaan ini, dan jawablah di hati adik-adik : Sering atau tidak kita bersekutu dengan Tuhan? dan Mudah atau sulit untuk kita mendengarkan suara Tuhan?
Di zaman Bapa, dalam Perjanjian Lama sering melihat bahwa Tuhan datang dan berbicara langsung dengan manusia. Zaman Bapa ini, Allah sendirilah yang datang, dan Allah sendirilah Firman itu. Jaman Henokh sampai Musa saja belum ada Firman Tertulis seperti saat ini, juga belum ada kebaktian-kebaktian sebagai komunikasi kita dengan Allah.  Namun mengapa kita dijaman sekarang malah jauh dari Tuhan Allah. Padahal setiap hari kita beribadah, memuji memuliakan Tuhan, doa bahkan gk putus-putus, puasa setiap minggu, bahasa Rohpun sering kita dengar. Tapi adakah kita mendengar suara Tuhan?
Malah sering kali yang kita dengar adalah suara iblis. Iblis yang bisa berwujud teman kita, tetangga kita, dan siapa saja. Yang kadang kala terdengar manis dan indah, dan menarik untuk dilakukan. Hal sederhana, misalnya malam minggu ini jadwal buat pelprap, tapi yang hadir hanya sebagian, yang lainnya lebih memilih jalan-jalan dengan temannya, karena diajak bermalam mingguan. Nah temannya inilah yang dipakai iblis, bukankah suara iblis lebih dapat kita turuti dari pada suara Tuhan.
Dalam Perjanjian Lama Tuhan datang menyampaikan FirmanNya, namun hal lebih besar yakni dalam Perjanjian Baru, Tuhan sendirilah yang datang kedunia dengan wujud raga yang bisa kita jamah. Bahkan jaman sekarang jamannya Roh Kudus. Roh Allah sendirilah yang tinggal di diri kita. Tapi sekali lagi mengapa kita tak bisa merasakanNya?
Sesungguhnya muda-mudi sekarang sudah jauh dari kekudusan. Kita tidak taat kepada Tuhan. Bagaimana Tuhan mau tinggal di diri kita, kalau kita saja tidak mau mendengarnya. Malah melakukan apa yang iblis mau. Malas bersekolah, pergi-pergi karokean, malamnya dugem, nongkrong di café, ucapan orang tua sering dibantah bahkan dengan nada tinggi dan lebih besar dari suara orang tua kita sendiri. Kepada manusia yang kelihatan saja kita tidak taat, apalagi kepada Tuhan yang tidak kelihatan?
Suara teman berbulan-bulan yang lalu diucapkan, kita mengingatnya. Tapi Firman Tuhan yang dikotbahkan minggu lalu, adakah adik-adik mengingatnya?
Coba kita buka dalam I Samuel 3, tentang Tuhan memanggil Samuel. Ada 4 kali Tuhan memanggil Samuel. Panggilan pertama, kedua, dan ketiga, Samuel dengan ketaatannya kepada Imam Eli, ia berlari-lari ketika mendengar suara yang memanggilnya. Berulang-ulang, bahkan sampai tiga kali. Coba kita yang dipanggil seperti itu, pasti jengkel, ketus menjawabnya, karena sudah berulang-ulang. Nanti barulah ke empat kalinya ia menjawab suara Tuhan.
Ini salah satu contoh orang yang taat. Karena ketaatannya, ia mendapat hak special dihadapan Tuhan. padahal pada ayat 3 dikatakan bahwa, Samuel telah tidur di dalam Bait suci Tuhan, tempat Tabut Allah. Bukankah yang kita tahu bahwa tabut Allah tidak bisa dipegang oleh sembarangan orang, atau bahkan tidak boleh orang biasa saja yang berada dekat tabut itu, siapapun bisa mati seketika. Di Perjanjian Lama orang hanya bisa bertemu satu kali dalam setahun dengan Tuhan. dalam perayaan Grafirat/Pendamaian, itupun hanya Imam Kepala saja yang dapat melihat Tabut Allah.
Tetapi Tuhan Yesus dengan penebusannya di kayu salib, kita melihat satu-satunya pembatas antara Allah dan manusia telah dibuka. Setiap manusia mendapat anugerah dari Allah. Satu-satunya peristiwa dalam alkitab yaitu : Tabir Bait Allah Terbelah Dua. Tabir yang memisahkan Ruang Kudus dan Ruang Maha Kudus. Tabir ini terdiri dari 4 lapis kain dengan 4 warna berbeda. Tapi Tuhan membuka hadiratNya kepada manusia Ruang Kudus dan Ruang Maha Kudus tempat tabut Allah telah menyatu. Tuhan telah mengangkat kutuk atas manusia, menjadi berkat oleh karena darah Anak Manusia. Tuhan harus turun ke dunia orang mati, hanya untuk membawa Kasih KaruniaNya kepada segala bangsa.
Tuhan sudah turun ke dunia sebagai penggenapan nubutan para nabi terdahulu, bahkan Roh Allah sendirilah yang bersama kita, namun kita tidak peka dengan suaraNya. Tuhan tidak butuh kita untuk menjadi sepertinya. Ia hanya butuh untuk kita dengar. Dengarkan FirmanNya, jauhi dosa yang mendatangkan maut, kasihilah Ia, senangkan hatiNya, penuhi hati dengan kelemah lembutan danpenuh kasih. Hanya itu keinginan Tuhan, namun bukankah ini juga baik bagi kita? Menjadi baik dihadapan Tuhan, maka secara otomatis kita jadi baik dipandangan orang lain. Kita tidak akan direndahkan, tetapi ditinggikan juga. Tak hanya orang tua yang bangga memiliki kita, bahkan Tuhanpun bangga menjadikan kita anak-anakNya. Kalau ketika orang tua senang dengan diri kita, mereka akan memeluk dan menciumi kita. Begitupun Bapa disorga, cintaNya akan Ia curahkan untuk kita.

Kita perlu mendekat padanya, menjadi taat kepada Tuhan, maka suara Tuhan akan selalu kita dengar. Agar berkat Damai Sejahtera tetap tinggal bersama kita dan keluarga kita. Amin.

Ibadah Pemuda GPdI Mutiara Siloam 






Entri yang Diunggulkan

Prayer In The Morning

  Prayer To God in the Morning Psalm 143:8 New International Version (NIV) 8  Let the morning bring me word of your unfailin...