Apapun masalahmu,, Tuhan tak pernah terlambat memberi pertolongan...
Rabu, Maret 23, 2016
Sabtu, Maret 12, 2016
DIGARAMI DENGAN API
Markus
9 : 43-50
9:43
Dan jika tanganmu
menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup
dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam
neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan;
9:44 (di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan
apinya tidak akan padam.)
9:45 Dan jika kakimu menyesatkan engkau, penggallah,
karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, dari pada dengan
utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka;
9:46 (di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan
apinya tidak akan padam.)
9:47 Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah,
karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu dari
pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka,
9:48 di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api
tidak padam.
9:49 Karena setiap orang akan digarami dengan api.
9:50 Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi
hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai
garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang
lain."
Konteks
keselurahan ayat 43-50 ini mengenai kesengsaraan dan rasa sakit. Lebih baik
kita menderita menanggung rasa sakit dari pada kita menjadi pendosa. Karena
kalau kita menjadi hambar atau menjadi pendosa konsekuensinya kita akan
“DIGARAMI DENGAN API”
Pertama-tama
mari kita lihat konteks Garam itu sendiri. Mengapa Tuhan Yesus menggunakan
perumpamaan garam pada ayatnya yang ke 50?
Garam
yang kita temui di dapur itu garam yang telah melalui proses kemikal yang
sedemikian rupa, diolah agar Kristal-kristal garamnya tetap terikat dan tidak
terurai, hingga tetap asin sampai kapanpun, selama tidak mengalami proses
pemanasan yang mengakibatkan penguraiaan sat-sat didalamnya. Namun pada jaman
dahulu, Garam itu hanya dikumpulkan dan ditumpuk pada satu tempat, kemudian
diambil saat akan dipakai saja, tapi bila lama kelamaan garam itu tidak dipakai
dia mengalami proses penguraian, hingga menjadi kecil dan tersisa seperti
butiran pasir. Lalu apakah gunanya lagi bila garam itu tidak memiliki rasa?
Lebih baik dibuang karena sudah tidak berguna.
Nah
seperti itulah hidup kekristenan saat ini, ada banyak kekristenan kita
nganggur. Disimpan saja, lama-lama, tidak berbuat apa-apa, hanya KTPnya saja
yang menyebut ia Kristen, garamnya hilang. Lalu apa? Kata Tuhan lebih baik
dibuang saja!
Inilah
mengapa Tuhan Yesus menggunakan istilah Garam atas kehidupan kita. Coba kita
lihat dalam Imamat 2:13 Dan
tiap-tiap persembahanmu yang berupa korban sajian haruslah kaububuhi garam,
janganlah kaulalaikan garam perjanjian Allahmu dari korban sajianmu; beserta
segala persembahanmu haruslah kaupersembahkan garam.
Korban
itu haruslah digarami sebelum dipersembahkan untuk Tuhan. kekristenan kita
harus digarami, karena garam memberi ketahanan, dan menjadikan kita awet. Kekristenan
kita haruslah menjadi contoh bagi yang non Kristen. Kita menjalani hari-hari
kita sehingga kita mampu bertahan, berpegang teguh pada perintah Tuhan &
keimanan pada Tuhan Yesus saja; “penuh kasih, penuh cinta, hidup dengan benar,
jauh dari perbuatan dosa, hingga keluarga yang menghasilkan buah-buah yang
baik”.
Karena
Garam itu tidak pernah dipengaruhi, amin saudara-saudara. Garam itu
mempengaruhi. Kita hidup untuk member dampak kepada orang disekitar kita, entah
dikantor, disekolah, tetangga-tetangga kita, saudara-saudara kita dan seluruh
kehidupan social kita.
Ibu-ibu,
bapak-bapak, juga adik-adik yang pada malam hari ini ada dalam rumah Tuhan ini,
kita semua adalah garam dunia. Kehidupan kita menjadi contoh bagi orang lain.
Tidak ada seorangpun dari kita yang mau meniru kehidupan buruk orang lain. Kita
ingin selalu terlihat baik, bahkan sekedar baik agar terlihat baik walaupun
hanya pura-pura, itu keinginan kita, walaupun hanya untuk image saja, agar jadi
terpandang. Tapi alangkah baiknya hidup baik itu yang benar dihadapan Allah.
Sehingga kita tidak menjadi duri dalam keluarga dan mendatangkan malu. Namun
bila ada yang telah jatuh kedalam dosa, ketika Tuhan menjamah hati kita mari
kita berbalik dan hidup menurut kehendakNya. Jangan memberi jeda atau pause
kalau difilm-film, kita berhenti menggosipkan orang hanya karena pernah
ditempeleng orang, begitu rasa sakit dan takut hilang, kita buat lagi dosa
menggosipkan dan memfitnah orang. Kita pernah masuk bui karena pernah mencuri
atau membunuh, dosa itu berhenti sesaat, karena ada dalam bui, begitu bebas,
buat lagi dosa yang sama. Kita berzinah hanya karena gk ketahuan orang lain
ataupun orang tua, tapi begitu punya kesempatan malah buat lagi. Jika kita
pernah berbuat salah, ketika Firman Tuhan diperdengarkan marilah berbalik pada
Tuhan. Karena inilah jalan yang Tuhan mau, berbalik dan berjalan bersamaNya dan
menjadi garam bagi dunia kita.
Hidup
kita haruslah menurut kehendak Tuhan, menjauhi dosa, punya hati yang penuh belas
kasihan, baik kepada seorang terhadap yang lain, tau memberi kepada yang
berkekurangan, tau mengampuni kepada saudara kita atau orang lain yang berbuat
salah kepada kita, tau berfikir dan berkata dengan penuh Hikmat, dan tau
bertindak dengan bijaksana.
Sehingga
kehidupan kita menjadi kesaksian bagi orang lain, yang secara tidak langsung
kita telah memperkenalkan Yesus Kristus kepada mereka yang tidak mengenal
Tuhan. Bukan tidak mungkin orang-orang itu berkata “Begini dang kehidupan orang
Kristen! Apa so yang dorang pe Tuhan Yesus ajarkan pa dorang? Kyapa dorang pe
hidop diberkati? Walo berkekurangan dorang hidop dengan bersukacita?” Nah
disini bisa jadi orang-orang itu punya keinginan mengenal ajaran Tuhan Yesus, karena
hidup Kristen itu sempurna. Walau berkekurangan namun hati bersukacita, hidup
berkelimpahanpun tetap lurus dan berbuah-buah baik dalam keluarga, walau dalam
pergumulan namun memiliki iman dalam Yesus, malah mengaminkan segala dukacita
adalah rancangan Tuhan yang terindah dalam hidup.
Inilah
maksud Tuhan sebagai Garam. Lebih baik menjadi Garam semasa Hidup kita, dari
pada kita tawar dan nantinya akan “digarami dengan api” ketika kita selesai
dengan kehidupan ini.
Dalam
ayat ke 43-47, lebih baik bagi kita kehilangan tangan, kaki, bahkan mata kita,
dari pada kita dengan tubuh lengkap kita masuk ke dalam jurang maut. Lebih baik
kita menderita hati, mengalah, bersabar kepada orang lain, lebih baik kita
kelaparan, kita hidup kekurangan, atau cukup saja dari pada ingin lebih tapi
hidup berujung MAUT.
Saudara-saudara
yang dikasihi Tuhan kita Yesus Kristus. Saya ingin bersaksi sedikit mengenai
penglihatan saya. Pernah 1x Tuhan Yesus menunjukkan pada saya mengenai Hari
Penghakiman. Waktu pertama kali saya bersaksi, saya pernah memberitahu mengenai
penglihatan-penglihatan dan mimpi-mimpi saya yang terjadi sejak berumur 7 atau delapan
tahun bahkan sampai sekarang. Tapi mengenai hari penghakiman ini, terjadi
ketika saya masih di SMP. Waktu itu saya melihat Tuhan bertahta diatas awan,
penuh kemegahan, kuasa dan semesta ada di TanganNya. Kemudian terlihat 2 orang
malaikat. Seorang malaikat berkata kepada Tuhan “ayunkanlah sabitMu &
tuailah sebab sudah tiba saatnya untuk menuai. Lalu Tuhan menganyunkan
sabitnya. Bumipun dituaiNya. Lalu malaikat yang memegang sabit panjang
diperintahkan oleh malaikat yang lain untuk mengayunkan sabitnya,namun hasil
tuaian malaikat yang memegang sabit besar itu dimasukkan dalam murka Allah.
Seperti sebuah lubang api besar yang menganga. Semua jiwa yang mendukakan hati
Tuhan masuk kedalam perapian yang menyala-nyala. Mereka berteriak memohon
ampun. Tapi satu hal yang sangat mengiris hati saya, saya melihat Tuhan Yesus
menangis, tangisannya penuh dengan kesedihan. Tuhan berkata “sudah terlambat
anak-anakKu. Bukankah Aku telah memberimu kesempatan selama engkau hidup? Kau
tidak mengikuti perintahKu” Tuhan menangis
sambil berucap seperti itu.
Saudara
– saudara sekalian Tuhan penuh dengan belas kasihan. Sekalipun tinggal 1 detik
saja kehidupan kita ditanganNya. 1 detik itu Ia beri untuk kita bertobat.
Bukankah Allah penuh belas kasihan.
Sekalipun
kita jatuh demikian dalam, bahkan kita berlari demikian jauh dari Tuhan. adakah
Tuhan hanya duduk diam dan menunggu? Sekali-kali tidak saudara-saudara. Tuhan
akan mencari bahkan dengan berlari Ia untuk mendapati kita. Tapi begitu kita
kembali Tangis Sukacita Tuhan akan terukir diwajahNya, bahkan sorgapun akan
bersorak-sorai hanya untuk kita.
Maka
jika Firman Allah sampai kepada kita malam hari ini, janganlah keraskan hati
kita lagi.
Marilah
menjadi garam dunia. Janganlah tawar, namun juga jangan keasinan. Jadilah sajian
korban yang rasanya enak dan menyukakan hati Bapa. Karena Tubuh dan Jiwa kita
adalah milik Tuhan, kembalikanlah ini untuk hormat kemuliaan namaNya. Karena
ada janji Tuhan, selain keselamatan menjadi milik kita, anak cucu kitapun akan
hidup dalam berkat rohani & jasmani. Keturunan orang yang dibenarkan Allah
tidak akan meminta-minta roti, karena roti sorgawi telah hadir dihidup kita.
Amin ~dian vivian~
Senin, Maret 07, 2016
Dengan Ketaatan Kita Dapat Mendengar Suara Tuhan
Dengan Ketaatan Kita Dapat
Mendengar Suara Tuhan
by Dian Vivian Manumpil
Pelprap, 20 Februari
2016
Firman Tuhan : Ulangan
28 : 1
“Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu,
dan melakukan dengan setia segala perintahNya yang kusampaikan kepadamu pada
hari ini, maka TUHAN Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di
bumi.
Pertama-tama saya mau memberikan sedikit
ilustrasi cerita yang saya lihat di salah satu blog.
Seorang pemuda yang baru saja kehilangan
pekerjaan datang ke rumah seorang pendeta tua. Sang pemuda bersahabat baik
dengan pendeta tua tersebut.
Pemuda itu berteriak-teriak memanggil
pendeta sambil mengeluh mengenai masalah yang menimpanya,"Pendeta...Pendeta
aku banyak mengalami masalah dalam hidupku dan sekarang aku hehilangan
pekerjaan. Mengapa bisa begini?"
Karna pendeta yang sedang belajar di
dalam ruangan tidak mendengar suaranya, maka si pemuda menjadi kalap. Ia
mengepalkan tinjunya sambil berteriak, "Pendeta bilang Tuhan akan selalu
menolong, tetapi mengapa aku seperti ini ?"
Mendengar ada suara ribut-ribut di luar,
pendeta tua pun berjalan keluar. Ia mengucapkan sesuatu dan menanti tanggapan
si pemuda. Tetapi si pemuda itu tidak mendengar apa yang dikatakan oleh pendeta
tua.
Masih diam di tempatnya, si pemuda
bertanya, "Pendeta bilang apa?"
Sambil duduk di sebuah bangku kayu,
pendeta itu mengucapkan sesuatu, tetapi si pemuda masih belum bisa mendengar
apa yang dikatakannya. Akhirnya ia pun mendekati pendeta dan duduk di sampingnya.
Pendeta menepuk pundaknya dengan lembut
sembari berkata, "Anakku, di dalam kekalapan karena masalah hidup,
terkadang kita tidak bisa mendengar suara Tuhan, seolah-olah Dia tidak peduli
terhadap kita, tetapi sebenarnya tidaklah demikian. Tuhan kadang berbisik,
sehingga kita perlu mendekat kepadaNya untuk bisa mendengarkan suaraNya."
Pemuda
itu tertegun mendengar kata-kata pendeta dan akhirnya ia pun mengerti.
Nah, inilah adik-adik yang sering
terjadi dalam hidup kita. Kita jarang bahkan tidak pernah mendengar suara
Tuhan.
Mari kita belajar lebih jauh lagi,
cobalah renungi pertanyaan ini, dan jawablah di hati adik-adik : Sering
atau tidak kita bersekutu dengan Tuhan? dan Mudah atau sulit untuk kita
mendengarkan suara Tuhan?
Di zaman Bapa, dalam Perjanjian Lama
sering melihat bahwa Tuhan datang dan berbicara langsung dengan manusia. Zaman
Bapa ini, Allah sendirilah yang datang, dan Allah sendirilah Firman itu. Jaman
Henokh sampai Musa saja belum ada Firman Tertulis seperti saat ini, juga belum
ada kebaktian-kebaktian sebagai komunikasi kita dengan Allah. Namun mengapa kita dijaman sekarang malah
jauh dari Tuhan Allah. Padahal setiap hari kita beribadah, memuji memuliakan
Tuhan, doa bahkan gk putus-putus, puasa setiap minggu, bahasa Rohpun sering
kita dengar. Tapi adakah kita mendengar suara Tuhan?
Malah sering kali yang kita dengar
adalah suara iblis. Iblis yang bisa berwujud teman kita, tetangga kita, dan
siapa saja. Yang kadang kala terdengar manis dan indah, dan menarik untuk
dilakukan. Hal sederhana, misalnya malam minggu ini jadwal buat pelprap, tapi
yang hadir hanya sebagian, yang lainnya lebih memilih jalan-jalan dengan
temannya, karena diajak bermalam mingguan. Nah temannya inilah yang dipakai
iblis, bukankah suara iblis lebih dapat kita turuti dari pada suara Tuhan.
Dalam Perjanjian Lama Tuhan datang
menyampaikan FirmanNya, namun hal lebih besar yakni dalam Perjanjian Baru,
Tuhan sendirilah yang datang kedunia dengan wujud raga yang bisa kita jamah. Bahkan
jaman sekarang jamannya Roh Kudus. Roh Allah sendirilah yang tinggal di diri
kita. Tapi sekali lagi mengapa kita tak bisa merasakanNya?
Sesungguhnya muda-mudi sekarang sudah
jauh dari kekudusan. Kita tidak taat kepada Tuhan. Bagaimana Tuhan mau tinggal
di diri kita, kalau kita saja tidak mau mendengarnya. Malah melakukan apa yang
iblis mau. Malas bersekolah, pergi-pergi karokean, malamnya dugem, nongkrong di
café, ucapan orang tua sering dibantah bahkan dengan nada tinggi dan lebih
besar dari suara orang tua kita sendiri. Kepada manusia yang kelihatan saja
kita tidak taat, apalagi kepada Tuhan yang tidak kelihatan?
Suara teman berbulan-bulan yang lalu diucapkan,
kita mengingatnya. Tapi Firman Tuhan yang dikotbahkan minggu lalu, adakah
adik-adik mengingatnya?
Coba kita buka dalam I Samuel 3, tentang
Tuhan memanggil Samuel. Ada 4 kali Tuhan memanggil Samuel. Panggilan pertama,
kedua, dan ketiga, Samuel dengan ketaatannya kepada Imam Eli, ia berlari-lari
ketika mendengar suara yang memanggilnya. Berulang-ulang, bahkan sampai tiga
kali. Coba kita yang dipanggil seperti itu, pasti jengkel, ketus menjawabnya,
karena sudah berulang-ulang. Nanti barulah ke empat kalinya ia menjawab suara
Tuhan.
Ini salah satu contoh orang yang taat. Karena
ketaatannya, ia mendapat hak special dihadapan Tuhan. padahal pada ayat 3
dikatakan bahwa, Samuel telah tidur di dalam Bait suci Tuhan, tempat Tabut
Allah. Bukankah yang kita tahu bahwa tabut Allah tidak bisa dipegang oleh
sembarangan orang, atau bahkan tidak boleh orang biasa saja yang berada dekat
tabut itu, siapapun bisa mati seketika. Di Perjanjian Lama orang hanya bisa
bertemu satu kali dalam setahun dengan Tuhan. dalam perayaan Grafirat/Pendamaian,
itupun hanya Imam Kepala saja yang dapat melihat Tabut Allah.
Tetapi Tuhan Yesus dengan penebusannya
di kayu salib, kita melihat satu-satunya pembatas antara Allah dan manusia
telah dibuka. Setiap manusia mendapat anugerah dari Allah. Satu-satunya peristiwa
dalam alkitab yaitu : Tabir Bait
Allah Terbelah Dua. Tabir yang memisahkan Ruang Kudus dan Ruang Maha
Kudus. Tabir ini terdiri dari 4 lapis kain dengan 4 warna berbeda. Tapi Tuhan
membuka hadiratNya kepada manusia Ruang Kudus dan Ruang Maha Kudus tempat tabut
Allah telah menyatu. Tuhan telah mengangkat kutuk atas manusia, menjadi berkat
oleh karena darah Anak Manusia. Tuhan harus turun ke dunia orang mati, hanya
untuk membawa Kasih KaruniaNya kepada segala bangsa.
Tuhan sudah turun ke dunia sebagai
penggenapan nubutan para nabi terdahulu, bahkan Roh Allah sendirilah yang
bersama kita, namun kita tidak peka dengan suaraNya. Tuhan tidak butuh kita
untuk menjadi sepertinya. Ia hanya butuh untuk kita dengar. Dengarkan FirmanNya,
jauhi dosa yang mendatangkan maut, kasihilah Ia, senangkan hatiNya, penuhi hati
dengan kelemah lembutan danpenuh kasih. Hanya itu keinginan Tuhan, namun
bukankah ini juga baik bagi kita? Menjadi baik dihadapan Tuhan, maka secara
otomatis kita jadi baik dipandangan orang lain. Kita tidak akan direndahkan,
tetapi ditinggikan juga. Tak hanya orang tua yang bangga memiliki kita, bahkan
Tuhanpun bangga menjadikan kita anak-anakNya. Kalau ketika orang tua senang
dengan diri kita, mereka akan memeluk dan menciumi kita. Begitupun Bapa
disorga, cintaNya akan Ia curahkan untuk kita.
Kita perlu mendekat padanya, menjadi taat
kepada Tuhan, maka suara Tuhan akan selalu kita dengar. Agar berkat Damai
Sejahtera tetap tinggal bersama kita dan keluarga kita. Amin.
Ibadah Pemuda GPdI Mutiara Siloam
Jumat, Februari 19, 2016
Renungan Firman
Renungkanlah.....
Keselamatan yang cuma-cuma itu sudah tersedia... akankah kita meraihnya atau melepaskannya...
keselamatan yang dicari-cari seluruh manusia,, namun ditutupi oleh hikmat manusia juga... Maka yang semulanya adalah Temuan Gratis yang tidak perlu diusahakan, akhirnya menjadi sebuah Temuan Gratis namun Mahal dan sukar diraih ^_^
Keselamatan yang cuma-cuma itu sudah tersedia... akankah kita meraihnya atau melepaskannya...
keselamatan yang dicari-cari seluruh manusia,, namun ditutupi oleh hikmat manusia juga... Maka yang semulanya adalah Temuan Gratis yang tidak perlu diusahakan, akhirnya menjadi sebuah Temuan Gratis namun Mahal dan sukar diraih ^_^
Datanglah Sebagaimana Adanya
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dalam ketidakpercayaan. Tidak mungkin ini tempatnya. Sebenarnya, tidak mungkin aku diterima di sini. Aku sudah diberi undangan beberapa kali, oleh beberapa orang yang berbeda, dan baru akhirnya memutuskan untuk melihat tempatnya seperti apa sih. Tapi, tidak mungkin ini tempatnya. Dengan cepat, aku melihat pada undangan yang ada di genggamanku. Aku memeriksa dengan teliti kata-katanya, "Datanglah sebagaimana adanya kamu. Tidak perlu ditutup-tutupi," dan menemukan lokasinya.
Ya.. aku berada di tempat yang benar. Aku mengintip lewat jendelanya sekali lagi dan melihat sebuah ruangan yang penuh dengan orang-orang yang dari wajahnya terpancar sukacita. Semuanya berpakaian rapi, diperindah dengan pakaian yang bagus dan terlihat bersih seperti kalau mereka makan di restoran yang bagus. Dengan perasaan malu, aku memandang pada pakaianku yang buruk dan compang camping, penuh dengan noda. Aku kotor, bahkan menjijikan.
Bau yang busuk ada padaku dan aku tidak dapat membuang kotoran yang melekat pada tubuhku. Ketika aku akan berputar untuk meninggalkan tempat itu, kata-kata dari undangan tersebut seakan-akan meloncat keluar, "Datanglah sebagaimana kamu adanya. Tidak perlu ditutup-tutupi."
Aku memutuskan untuk mencobanya. Dengan mengerahkan semua keberanianku, aku membuka pintu restoran dan berjalan ke arah laki-laki yang berdiri di belakang panggung.
"Nama Anda, Tuan ?" ia bertanya kepadaku dengan senyuman.
"Daniel F. Renken," kataku bergumam tanpa berani melihat ke atas. Aku memasukkan tanganku ke kantongku dalam-dalam, berharap untuk dapat menyembunyikan noda-nodanya.
Ia sepertinya tidak menyadari kotoran yang berusaha aku sembunyikan dan ia melanjutkan, "Baik, Tuan. Sebuah meja sudah dipesan atas nama Anda. Anda mau duduk ?"
Aku tidak percaya atas apa yang aku dengar! Aku tersenyum dan berkata,"Ya, tentu saja!"
Ia mengantarkanku ke sebuah meja dan, cukup yakin, ada plakat dengan namaku tertera dengan tulisan tebal merah tua.
Ketika aku membaca-baca menunya, aku melihat berbagai macam hal-hal yang menyenangkan tertera di sana. Hal-hal tersebut seperti "damai", "sukacita","berkat", "kepercayaan diri","keyakinan", "pengharapan", "cinta kasih", "kesetiaan", dan "pengampunan".
Aku sadar bahwa ini bukan restoran biasa! Aku mengembalikan menunya ke depan untuk melihat tempat di mana aku berada. "Kemurahan Tuhan," adalah nama dari tempat ini!
Laki-laki tadi kembali dan berkata, "Aku merekomendasikan sajian spesial hari ini. Dengan memilih spesial menu hari ini, Anda berhak untuk mendapatkan semua yang ada di menu ini."
Kamu pasti bercanda! pikirku dalam hati. Maksudmu, aku bisa mendapat SEMUA yang ada dalam menu ini?
"Apa menu spesial hari ini?" aku bertanya dengan penuh kegembiraan.
"Keselamatan," jawabnya.
"Aku ambil," jawabku spontan.
Kemudian, secepat aku membuat keputusan itu, kegembiraan meninggalkan tubuhku. Sakit dan penderitaan merenggut lewat perutku dan air mata memenuhi mataku.
Dengan menangis tersedu sedan, aku berkata, "Tuan, lihatlah diriku. Aku ini kotor dan hina. Aku tidak bersih dan tidak berharga. Aku ingin mendapat semuanya ini, tapi aku tidak dapat membelinya."
Dengan berani, laki-laki itu tersenyum lagi.
"Tuan, Anda sudah dibayar oleh laki-laki di sebelah sana," katanya sambil menunjuk pintu masuk ruangan. "Namanya Yesus."
Aku berbalik, aku melihat seorang laki-laki yang kehadirannya membuat terang seluruh ruangan itu.
Aku melangkah maju ke arah laki-laki itu, dan dengan suara gemetar aku berbisik, "Tuan, aku akan mencuci piring-piring atau membersihkan lantai atau mengeluarkan sampah. Aku akan melakukan apa pun yang bisa aku lakukan untuk membayar-Mu kembali atas semuanya ini."
Ia membuka tangannya dan berkata dengan senyuman, "Anakku, semuanya ini akan menjadi milikmu, cukup hanya bila kamu datang kepadaKu. Mintalah pada-Ku untuk membersihkanmu dan Aku akan melakukannya. Mintalah pada-Ku untuk membuang noda-noda itu dan itu terlaksana. Mintalah padaKu untuk mengijinkanmu makan di meja-Ku dan kamu akan makan. Ingat, meja ini dipesan atas namamu. Yang bisa kamu lakukan hanyalah MENERIMA pemberian yang sudah Aku tawarkan kepadamu."
Dengan kagum dan takjub, aku terjatuh di kakiNya dan berkata, "Tolong, Yesus. Tolong bersihkan hidupku. Tolong ubahkan aku, ijinkan aku duduk di meja-Mu dan berikan padaku sebuah hidup yang baru."
Dengan segera aku mendengar, "Sudah terlaksana."
Aku melihat pakaian putih menghiasi tubuhku yang sudah bersih. Sesuatu yang aneh dan indah terjadi. Aku merasa seperti baru, seperti sebuah beban sudah terangkat dan aku mendapatkan diriku duduk di mejaNya.
"Menu spesial hari ini sudah dipesan," kata Tuhan kepadaku. "Keselamatan menjadi milikmu."
Kami duduk dan bercakap-cakap untuk beberapa waktu lamanya dan aku sangat menikmati waktu yang kuluangkan denganNya. Ia berkata kepadaku, kepadaku dan kepada semua orang, bahwa Ia ingin aku kembali sesering aku ingin bantuan lain dari kemurahan Tuhan. Dengan jelas Ia ingin aku meluangkan waktuku sebanyak mungkin denganNya.
Ketika waktu sudah dekat bagiku untuk kembali ke 'dunia nyata', Ia berbisik padaku dengan lembut, "Dan Daniel, AKU MENYERTAI KAMU SELALU."
Dan kemudian, Ia berkata sesuatu yang tidak akan pernah aku lupakan.
Ia berkata, "Anakku, lihatkah kamu beberapa meja yang kosong di seluruh ruangan ini?"
"Ya, Tuhan. Aku melihatnya. Apa artinya?" jawabku.
"Ini adalah meja-meja yang dipesan, tapi tiap-tiap individu yang namanya tertera di tiap plakat ini belum menerima undangan untuk makan. Maukah kamu membagikan undangan-undangan ini untuk mereka yang belum bergabung dengan kita?" Yesus bertanya.
"Tentu saja," kataku dengan kegembiraan dan memungut undangan tersebut.
"Pergilah ke seluruh bangsa," Ia berkata ketika aku pergi meninggalkan restoran tersebut.
Aku berjalan masuk ke "Kemurahan Tuhan" dalam keadaan kotor dan lapar. Ternoda oleh dosa. Asalku bagai kain tua yang kotor. Dan Yesus membersihkanku. Aku berjalan keluar seperti orang yang baru.. berbaju putih, seperti Dia. Dan, aku menepati janjiku pada Tuhanku.
Aku akan pergi.
Aku akan menyebarkan luaskan perkataanNya.
Aku akan memberitakan Injil ...
Aku akan membagikan undangan-undangannya.
Dan aku akan memulainya dengan kamu.
Pernahkah kamu pergi ke restoran "Kemurahan Tuhan?" Ada sebuah meja yang dipesan atas namamu, dan inilah undangan untukmu... "DATANGLAH SEBAGAIMANA KAMU ADANYA. TIDAK PERLU DITUTUP-TUTUPI."
source:
http://www.klinikrohani.com/2009/07/datanglah-sebagaimana-adanya.html
Langganan:
Postingan (Atom)
Entri yang Diunggulkan
Prayer In The Morning
Prayer To God in the Morning Psalm 143:8 New International Version (NIV) 8 Let the morning bring me word of your unfailin...
-
Allah yang Kekal Pujian dan hormat, k'mulyaan dan kuasa Bagi Allah yang kekal Dan segala bangsa, s'gala ciptaan Sujud di...
-
Bila Kuingat Cinta Tuhan Bila kuingat cinta Tuhanku Ku tidak akan mundur lagi Bila kuingat cinta Tuhanku Ku tidak akan mundur...
-
Ibadah Raya Perjamuan Kudus GPdI Mutiara Siloam Gembala Pdt. Jonathan Daud WL : Pdt. Mais Singer : Vivi Manumpil ...









































