Senin, Maret 09, 2020

PENGANTAR PERJANJIAN BARU


Image result for perjanjian baru 
PENGANTAR PERJANJIAN BARU

Daftar Isi

I. LATAR BELAKANG POLITIK, SOSIAL, DAN EKONOMI DUNIA PB

A. PENDAHULUAN
a. Ilmu Pengetahuan dan Pembimbing Perjanjian Baru
b. Pembagian Ilmu Pengetahuan dan Pembimbing PB
c. Pembagian Kitab-kitab dalam Perjanjian Baru

B. LATAR BELAKANG POLITIK, SOSIAL DAN EKONOMI DUNIA PB
a. LATAR BELAKANG POLITIK
b. Masa Pemerintahan Romawi
C. LATAR BELAKANG SOSIAL
D. LATAR BELAKANG EKONOMI

II. LATAR BELAKANG AGAMA DUNIA PB
1. LATAR BELAKANG DUNIA PB
2. LATAR BELAKANG AGAMA DUNIA PB
A. Agama Primitif
B. Yudaisme

III. KANON DAN KITAB-KITAB PB
A. KANON PB
1. Pengertian Kanon
2. Sejarah Kanon PB
3. Daftar Kanon PB
4. Kanon Injil dan Kisah Para Rasul

B. KITAB-KITAB PERJANJIAN BARU
1. Nama
2. Isi
3. Susunan Kitab-Kitab PB
4. Periode PB

IV. KITAB-KITAB INJIL DAN KEHIDUPAN TUHAN YESUS

1. KITAB-KITAB INJIL
A. Asal-usul Injil
1. Pengertian/Definisi:
2. Isi Kitab-kitab Injil
B. Injil-injil Sinoptik
1. Injil Matius ditulis lebih dahulu.
2. Injil Markus ditulis lebih dahulu.

2. KEHIDUPAN TUHAN YESUS KRISTUS
A. PENDAHULUAN
1. Silsilah Tuhan Yesus
2. Tahun Kelahiran Tuhan Yesus
a. Data Matius 2:1
b. Data Lukas 2:1-2
c. Data Lukas 3:1
3. Masa Muda Tuhan Yesus
4. Tuhan Yesus Dibaptis

B. PELAYANAN TUHAN YESUS
1. Pelayanan di Yudea
2. Pelayanan di Galilea
3. Pelayanan di Daerah Perea
4. Minggu terakhir dan Kematian Yesus
5. Kebangkitan Yesus

C. GELAR-GELAR TUHAN YESUS
1. Anak Manusia
2. Mesias
3. Anak Allah
4. Tuhan

D. JABATAN-JABATAN TUHAN YESUS
1. Sebagai Nabi
2. Sebagai Imam
3. Sebagai Raja

3. PENYUSUNAN INJIL-INJIL SINOPTIK
a. Injil Matius ditulis lebih dahulu?
b. Injil Markus ditulis lebih dahulu?
Pemakaian kata-kata
Urutan
Isi
Gaya bahasa
Gagasan dan teologi

4. SATU BERITA INJIL - EMPAT INJIL
MENGAPA EMPAT INJIL?

V. LATAR BELAKANG RASUL PAULUS DAN SURAT-SURAT RASUL PAULUS
A. LATAR BELAKANG PELAYANAN RASUL PAULUS
1. Kehidupan Paulus Sesudah Pertobatan
2. Perjalanan Misi Paulus yang Pertama
3. Perjalanan Misi Paulus Kedua
4. Perjalanan Misi Paulus Ketiga

B. SURAT-SURAT KIRIMAN RASUL PAULUS
1. Hubungan Kisah Para Rasul dengan Kitab-kitab Injil dan Surat-surat Kiriman
2. Pengantar untuk Surat-surat Kiriman Rasul Paulus

C. PANGGILAN PAULUS UNTUK MENGINJILI ORANG-ORANG NON-YAHUDI

D. STRATEGI PAULUS DALAM MENGABARKAN INJIL
1. Pada pemberitaan yang disertai dengan kuasa Roh Kudus.
2. Paulus adalah pemikir ulung dalam menyusun strategi pelayanannya.
3. Latar Belakang Paulus
4. Latar Belakang Teologia Paulus

VI. SEJARAH GEREJA MULA-MULA

A. LATAR BELAKANG
B. PERMULAAN GEREJA
1. Gereja Di Palestina
2. Gereja di luar Palestina
C. PERTUMBUHAN DAN TANTANGAN
1. Agama Negara
2. Penganiayaan terhadap orang Kristen.
3. Hasil dari penganiayaan.

I. LATAR BELAKANG POLITIK, SOSIAL, DAN EKONOMI DUNIA PB

A. PENDAHULUAN


a. Ilmu Pengetahuan dan Pembimbing Perjanjian Baru

Ilmu Pengetahuan dan Pembimbing PB, yang kadang disebut juga Ilmu Pengantar PB, adalah bagian dalam Ilmu Teologia Biblika yang baru dikenal secara umum pada abad ke 19. Sumbangsih ilmu ini sangat besar khususnya dalam penyediaan bahan-bahan penting yang dapat menolong kita menyelidiki dan menafsirkan Alkitab secara bertanggung jawab.

1. Latar Belakang

Mengapa diperlukan pengetahuan khusus untuk dapat menginterpretasikan Alkitab dengan tepat? Orang Kristen sering mendapati bahwa mengerti isi Alkitab tidaklah mudah, karena ada jurang pemisah yang cukup besar baik dalam hal waktu penulisan maupun dalam latar belakang dan budaya antara jaman PB dan pembaca sekarang. Oleh karena itu dengan mengetahui informasi yang cukup tentang segala sesuatu sekitar latar belakang penulis dan penulisannya, maka hal ini akan dapat membantu kita menjembatani jurang pemisah itu.

2. Definisi

Secara umum dapat disimpulkan bahwa Ilmu Pembimbing dan Pengetahuan PB adalah ilmu yang menyelidiki dan mempelajari latar belakang sejarah dan budaya sekitar jaman Perjanjian Baru, yaitu jaman ketika Tuhan Yesus dan rasul-rasul masih hidup. Secara khusus akan dipelajari pula latar belakang penulisan kitab-kitab Perjanjian Baru, yaitu tentang penulis, penerima, tahun dan tempat penulisan, dan hal-hal yang penting sehubungan dengan tema dan tujuan penulis menuliskan kitab-kitab PB.

3. Tujuan

Tujuan mempelajari Ilmu Pengetahuan dan Pembimbing PB adalah untuk mendapatkan informasi tentang latar belakang dunia PB dan penulisan kitab-kitab PB sehingga dapat memperkaya wawasan kita dalam memberikan interpretasi (penafsiran) yang tepat terhadap isi dan pengertian Firman Tuhan yang diinspirasikan dalam kitab-kitab PB.

b. Pembagian Ilmu Pengetahuan dan Pembimbing PB

Drs. M.E. Duyverman, dalam bukunya Pembimbing ke Dalam Perjanjian Baru, membagi ilmu ini menjadi 2 bagian, yaitu:

1. Ilmu Pembimbing Khusus

Ilmu yang memeriksa seluk beluk kitab-kitab PB satu persatu, dengan mengajukan serentetan pertanyaan-pertanyaan seperti di bawah ini:
- Siapakah penulis kitab tsb.?
- Kapankah dan di manakah kitab tsb. ditulis?
- Kepada siapakah dan dengan maksud apakah kitab tsb. ditulis?

2. Ilmu Pembimbing Umum

Ilmu yang memeriksa kitab-kitab Perjanjian Baru secara keseluruhan, termasuk didalamnya adalah Ilmu Salinan (textual criticism) dan Kanonisasi.

c. Pembagian Kitab-kitab dalam Perjanjian Baru

Seluruh jumlah kitab kanon Perjanjian Baru adalah 27 kitab dan biasanya digolongkan menjadi 3 bagian, yaitu:
1. Kitab-kitab Sejarah: 4 Kitab-kitab Injil dan 1 Kisah Para Rasul
2. Kitab Surat-surat:
a. 13 Surat-surat Paulus dan 1 Surat Ibrani
b. 7 Surat-surat Am (Umum)
3. Kitab Eskatologi: Kitab Wahyu




B. LATAR BELAKANG POLITIK, SOSIAL DAN EKONOMI DUNIA PB

a. LATAR BELAKANG POLITIK

1. Masa Peralihan: Masa Sesudah PL dan Sebelum PB

Masa-masa sesudah PL dan sebelum PB sering dikatakan sebagai masa-masa gelap karena Allah tidak mengirim nabi-nabi-Nya untuk berbicara kepada umat Israel. Namun demikian masa ini justru menjadi masa yang sangat penting karena sekalipun kelihatan-nya diam Allah bekerja dibalik sejarah umat manusia untuk mempersiapkan mereka menerima pelaksanaan rencana Agung-Nya.

Masa "sesudah PL dan sebelum PB" ini disebut sebagai Masa Peralihan atau Jaman Intertestamental yang berlangsung kurang lebih 400 tahun. Dalam masa ini Allah memakai 3 bangsa yang mengambil peranan utama dalam mempersiapkan masa Perjanjian Baru. Dari catatan kitab-kitab Makabe dan tulisan-tulisan Yosefus, kita mengetahui fakta-fakta berikut ini:

Bangsa Yahudi/Ibrani :

Bangsa pilihan Allah ini tidak selalu berhasil dalam mentaati dan mengemban tugasnya sebagai umat pilihan Allah, sehingga Allah sering harus menghukum mereka dengan membuang mereka menjadi tawanan bangsa-bangsa lain. Namun justru dengan cara itu Allah menggunakannya untuk maksud baik-Nya. Pada waktu bangsa Israel dibuang ke tanah Babilonia, mereka tercerai berai ke seluruh dunia. Ketika bangsa ini hidup di tengah-tengah bangsa kafir yang tidak mengenal Tuhan, bangsa Israel disadarkan akan pentingnya mempertahankan iman, menyembah Allah yang monotheisme dan mentaati Hukum Taurat. Melalui bangsa inilah Allah menyediakan jalan yang sangat baik untuk melihara kelangsungan sejarah keselamatan yang dijanjikan-Nya bagi umat manusia.

Bangsa Yunani :

Bangsa Yunani melalui Aleksander memberikan sumbangan yang besar dalam mempersatukan seluruh dunia dalam satu bahasa, yaitu bahasa Yunani. Hal ini memberikan pengaruh yang besar, karena bahasa Yunani akhirnya dipakai menjadi bahasa internasional pada masa itu. Ini memberikan keuntungan yang sangat besar karena bahasa Yunani adalah bahasa berpikir, bahasa yang sangat dibutuhkan oleh penulis-penulis kitab-kitab PB dalam mengungkapkan istilah-istilah teologia dengan benar dan akurat.

Bangsa Romawi :

Penguasa Romawi yang menduduki tanah Israel (Palestina) menciptakan suasana yang relatif damai sehingga pembangunan jalan-jalan dan keamanan menjadi prioritas negara. Keadaan ini sangat diperlukan dalam mempersiapkan kedatangan Kristus dan juga ketika Injil disebarkan. Selain itu ada banyak kontribusi yang diberikan oleh orang-orang Romawi, baik dalam bidang hukum maupun filsafat yang sangat berguna bagi persiapan penulisan kitab-kitab PB.

b. Masa Pemerintahan Romawi

Latar belakang politik dalam dunia Perjanjian Baru adalah kekaisaran Romawi. Merrill C. Tenney dalam bukunya Survei Perjanjian Baru telah memberikan uraian terperinci tentang hal ini. Negara Romawi berdiri tahun 753 SM, yang sebelumnya hanya terdiri dari beberapa kelompok masyarakat di beberapa desa yang akhirnya merebut banyak kota dan menjadi kerajaan yang besar tahun 265 SM.

Berikut ini adalah kaisar-kaisar Romawi yang memerintah pada masa Perjanjian Baru:

1. Agustus (27 sM - 14 M). Ketika Tuhan Yesus lahir, pemerintahan sedang dipegang oleh Kaisar Agustus. Dialah yang memerintahkan sensus penduduk di Palestina.
2. Tiberius (14-37 M). Ia memerintah semasa Tuhan Yesus dewasa - mati.
3. Caligula (37-41 M). Kaisar yang menganggap dirinya dewa untuk disembah. Banyak orang Kristen mula-mula yang mati karena melawan perintah untuk menyembah kepada kaisar.
4. Nero (54-68 M). Kaisar yang kejam dan semena-mena menganiaya orang Kristen. Paulus dan Petrus mati syahid pada masa pemerintahannya.
5. Vespasian (69-79 M). Pada masa pemerintahannya kota Yerusalem dihancurkan, termasuk bangunan Bait Allah.
6. Domitianus (81-96 M). Melakukan penindasan yang sangat kejam terhadap orang-orang Kristen. Memerintah pada masa tua Rasul Yohanes.

Palestina menjadi salah satu negara jajahan Kerajaan Romawi diperkirakan sejak tahun 63 sM. Kisah dalam PB diawali dari masa pemerintahan Herodes (37sM - 4M) yang ditunjuk oleh pemerintah Romawi sebagai raja Yahudi. Sebutan provinsi diberikan kepada daerah-daerah baru yang ditaklukkan Romawi. Untuk provinsi yang relatif damai dan setia pada Roma, pemerintahan dipimpin oleh seorang gubernur. Sedangkan wilayah yang rawan dipimpin oleh seorang wali negeri. [Lihat: Kis. 13:7; 18:12; Mat. 27:11]

Daerah-daerah jajahan (provinsi) ini biasanya mendapat kebebasan (otonomi) untuk berdiri sendiri. Kebebasan agama pun juga diberikan kepada mereka (religio licita). Penarikan pajak juga diserahkan kepada pemerintahan setempat, tetapi di bawah pengawasan Roma.

C. LATAR BELAKANG SOSIAL

Di kalangan masyarakat Yahudi, para alim ulama adalah kelompok ningrat yang kaya karena merekalah yang menguasai perdagangan dan pajak di bait suci. Sedangkan kelompok mayoritas penduduk biasanya miskin. Mata pencaharian mereka antara lain, petani, peternak, nelayan dan wiraswastawan kecil lainnya.

Dalam masyarakat non-Yahudi, ada pembagian kelas masyarakat sbb.: kaum ningrat, kelas menengah, rakyat jelata, kaum budak dan penjahat.

D. LATAR BELAKANG EKONOMI

Keadaan tanah daerah sekitar Laut Tengah masa itu cukup subur sehingga hasil pertanian menjadi sumber hasil utama. Industri belum berkembang, hanya untuk menghasilkan kebutuhan sehari-hari, misalnya bejana, kain linen, hasil keramik barang rumah tangga. Baragng-barang mahal adalah hasil import negara lain.

1. Mata uang

Mata uang logam yang berlaku saat itu adalah denarius (dinar), dan uang emas aureus (pound). Satu dinar adalah upah pekerja untuk satu hari kerja (Mat. 20:2). Tetapi karena pemerintahan provinsi diijinkan mencetak uang sendiri, maka tidak heran kalau banyak beredar mata-mata uang yang berbeda (Mat. 21:12). Usaha pinjam meminjam uang juga sangat populer saat itu.

2. Arus perjalanan

Arus perjalanan sangat lancar jaman itu, karena adanya sistem jalan raya yang sangat baik. Sistem jalan raya ini menghubungkan kota Roma dengan daerah-daerah jajahan yang terbentang luas.

3. Arus perdagangan

Arus perdagangan dari dan ke luar negeri dilakukan lewat laut. Pelabuhan Aleksandria adalah salah satu pelabuhan terpenting. Banyak kapal-kapal besar berlayar dari sini. Hasil perdagangan yang banyak didatangkan adalah biji-bijian.

II. LATAR BELAKANG AGAMA DUNIA PB

1. LATAR BELAKANG DUNIA PB

Di bawah pemerintahan kaisar Augustus, kesusasteraan Romawi dibangkitkan lagi. Tulisan-tulisan mereka berupa drama-drama dan cerita-cerita mitos Yunani.

a. Ilmu Pengetahuan

Dalam hal ilmu pengetahuan sudah dikenal ilmu alam sederhana, ilmu pengobatan umum, ilmu bahasa dan pidato. Seni dan ilmu arsitektur adalah yang paling maju pesat. Banyak dibangun jembatan, saluran air, gedung-gedung kesenian dan patung-patung. Ilmu perbintangan banyak dinikmati masyarakat.

b. Hiburan

Untuk hiburan banyak dipertunjukkan pertunjukkan-pertunjukkan musik untuk menghibur kaum jelata. (tambur, kecapi, seruling dan harpa). Sedangkan hiburan untuk kaum ningrat (kaya) adalah pertarungan berdarah antara manusia dan hewan (gladiator) di arena-arena pertunjukkan.
c. Bahasa

Bahasa yang dipakai bermacam-macam: Latin, Yunani, Aramaik dan Yahudi (Ibrani), masing-masing bahasa mempunyai fungsi yang berbeda-beda dan untuk tujuan yang berbeda.

d. Sistem Pendidikan

Sistem Pendidikan sudah lama dikenal, baik dikalangan masyarakat Yahudi ataupun non-Yahudi. Masyarakat Yahudi, terutama keluarga memberikan perhatian yang sangat besar dalam pendidikan terhadap generasi penerusnya. Tujuan utama adalah agar mereka memelihara budaya dan agama nenek moyang. Ketika ada di tanah Pembuangan pendidikan dilaksanakan di tempat ibadah Sinagoge.

2. LATAR BELAKANG AGAMA DUNIA PB

A. Agama Primitif

Agama primitif orang Romawi adalah pemujaan terhadap dewa-dewi Yunani, walaupun tidak berlangsung lama, (hanya sampai abad pertama) karena rakyat tidak lagi melihat manfaatnya. Bahkan justru sebaliknya, cerita dewa-dewi itu merusak moral dan kehidupan kaum muda.

Pemujaan kepada kaisar sangat menguntungkan negara karena mendatangkan kesatuan. Tetapi di lain pihak mendatangkan penganiayaan bagi orang Kristen.

Selain pemujaan-pemujaan itu ada juga pemujaan kepada agama-agama rahasia dan alam gaib. Namun ini pun kurang memuaskan kehidupan rohani mereka.

Untuk mengatasi itu lahirlah banyak filsafat-filsafat pemikiran yang sistematis yang lebih disukai karena sanggup memuaskan intelektual yang mereka puja. Contoh aliran-aliran filsafat yang ada pada saat itu: Platonisme, Gnostisisme, Neo-platonisme, Epikurianisme, Stoicisme, Skeptisisme dll.


B. Yudaisme
Bangsa Yahudi dan agama Yudaisme adalah dua sisi mata koin yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya mempunyai peran yang sangat penting dalam membentuk dunia Perjanjian Baru, karena dari sanalah kekristenan lahir. Hampir semua penulis-penulis PB adalah orang-orang Yahudi yang mempunyai latar belakang agama Yudaisme. Oleh karena itu untuk memahami tulisan-tulisan PB dengan baik akan ditentukan dari seberapa jauh kita mengerti tentang bangsa Yahudi dan agama Yahudi.

1. Latar Belakang

Untuk memahami sejarah bangsa Yahudi, kita harus kembali melihat jauh ke belakang kepada panggilan Allah terhadap Abraham. karena dari Abrahamlah bangsa "pilihan" ini berasal.

Namun demikian, agama Yudaisme sebenarnya baru dimulai pada masa "penyebaran" (diaspora) yang terjadi sejak tahun 734 SM, ketika puluhan ribu orang Yahudi dibuang keluar dari tanah kelahiran mereka. Di tanah pembuangan itulah orang-orang Yahudi yang setia kepada Taurat mulai merasakan kesulitan besar untuk tetap beribadah dan mentaati Hukum dan Taurat mereka.

Sebagian dari mereka yang dibuang ini mulai tergoda untuk mengadopsi cara-cara hidup kafir, bahkan juga agama kafir. Melihat tantangan yang besar ini mulailah orang-orang Yahudi sadar betapa berharganya kepercayaan yang mereka warisi dari nenek moyang mereka. Oleh karena itu mereka mulai memikirkan tentang bagaimana mempelajari agama nenek moyang mereka yang berisi hukum Taurat itu dengan sungguh-sungguh supaya mereka tidak dicemari dengan budaya dan dunia kafir. Dari sinilah Yudaisme secara resmi lahir. Salah seorang pelopor utama gerakan ini adalah Ezra, ia mengetuai badan yang disebut sinagoge agung. Badan yang terdiri dari 120 orang ini bertugas untuk menghidupkan, memulihkan dan menggolong-golongkan kitab-kitab PL. Tapi akhirnya badan ini diganti dengan dewan sanhedrin. [Lihat: Dan. 1:5-8; 3:4-7: Ezr. 7:1-6]

2. Pusat Ibadah Yahudi di Yerusalem

Sebelum masa penyebaran/pembuangan, Bait Suci di Yerusalem (yang dibangun oleh Raja Salomon) adalah satu-satunya pusat ibadah bagi orang Yahudi. Isi ibadah mereka adalah melakukan perjalanan ke Yerusalem secara teratur dan mengadakan upacara korban sembelihan di sana. Setelah mereka dibuang ke tanah asing, mereka tidak mungkin lagi ke Bait Suci untuk beribadah, apalagi setelah Yerusalem dihancurkan (586 SM). Upaya yang mereka lakukan untuk menggantikan ibadah adalah dengan menggiatkan kembali pengajaran tentang Hukum dan Taurat sebagai pusat ibadah mereka yang baru.

Walaupun Bait Suci kemudian dibangun kembali, ada banyak orang Yahudi yang masih tinggal di tanah asing dan tidak kembali ke Palestina, bahkan ternyata lebih banyak orang Yahudi yang tinggal di luar negara mereka. Untuk memenuhi kebutuhan rohani dan ibadah mereka maka dibangunlah sinagoge-sinagoge di kota-kota di mana orang Yahudi tinggal. Sinagoge (artinya rumah ibadat orang Yahudi) tidak bisa dikatakan sebagai tiruan Bait Suci Yerusalem, karena selain ukuran yang jauh lebih kecil, juga tidak disediakan tempat untuk membakar korban. Sebagai gantinya dilakukan doa, membaca Taurat, memelihara hari Sabat, sunat dan memelihara hukum-hukum PL yang mengatur soal makanan. Inilah yang akhirnya menjadi pusat ibadah Yudaisme. [Lihat: Maz. 137: 1-5]


3. Tempat Ibadah Yahudi - Sinagoge

Sejak jaman penyebaran/pembuangan peranan sinagoge dalam melestarikan agama dan budaya Yahudi sangat besar. Di sinilah Yudaisme bertumbuh dan mengalami kedewasaan. Di setiap kota besar dimana ada kelompok orang Yahudi tinggal didirikanlah sinagoge. Akhirnya sinagoge juga menjadi balai sosial di mana penduduk Yahudi di kota itu berkumpul setiap hari minggu untuk belajar tentang tradisi dan agama Yudaisme. Kesuksesan pemakaian rumah ibadat orang Yahudi ini sangat mengesankan, sehingga pada waktu orang-orang Yahudi perantauan pulang ke tanah airnya, sistem ibadah di sinagoge ini dibawa dan tetap dipraktekkan sampai jaman Yesus dan para Rasul.

Pemimpin sinagoge disebut "kepala rumah ibadat", yang diangkat dari antara penatua berdasarkan hasil pemungutan suara. Tugasnya adalah memimpin kebaktian, menjadi penengah dalam suatu perkara dan memperkenalkan pengunjung pada jemaat. Penjaga sinagoge disebut hazzan. Tugasnya menjaga dan memelihara bangunan dan juga harta benda yang ada di sinagoge.

Dalam sinagoge ada lemari untuk menyimpan gulungan kitab Taurat, sebuah podium dengan sebuah meja untuk meletakkan Kitab Suci yang sedang dibaca, dan juga lampu dan bangku serta kursi duduk jemaat. [Lihat: Mar. 5:22; Luk. 13:14; Kis. 13:5; 14:1; 15:43, dst.]


4. Bentuk ibadah

Dalam sinagoge kebaktian dilakukan sbb.:
a. Pembacaan pengakuan iman Yahudi yang disebut shema - (Ul. 6:4,5). Diikuti dengan puji-pujian kepada Allah yang disebut berakot ("Diberkatilah....").
b. Pembacaan doa, dan juga pembacaan doa pribadi oleh jemaat (dalam hati).
c. Selanjutnya adalah pembacaan Kitab Suci (kitab Taurat dan Pentateukh, juga kitab Nabi-nabi).
d. Kemudian diikuti dengan Kotbah untuk menjelaskan bagian yang baru saja dibacakan.
e. Kebaktian diakhiri dengan berkat, yang dilakukan oleh imam. Bentuk/tata cara ibadah sinagoge ini juga diikuti oleh gereja abad pertama.


5. Aliran-aliran keagamaan dalam Yudaisme.

Walaupun semua orang Yahudi memegang hukum agama yang sama (Yudaisme) tapi dalam penafsiran dan tujuannya ada bermacam-macam aliran:
a. Kaum Parisi

Berasal dari kata parash, artinya "memisahkan". Aliran yang paling berpengaruh dan banyak pengikutnya dalam masyarakat. Mereka adalah para ahli tafsir PL, yang menjunjung tinggi hukum lisan atau adat istiadat nenek moyang yang mereka taati sampai pada hal yang sekecil-kecilnya. Karena keahliannya inilah mereka disebut sebagai ahli Taurat. Kelompok inilah yang paling banyak dijumpai berselisih paham dengan Yesus. Namun demikian tidak semua orang Parisi munafik ada juga yang sungguh-sungguh. [Lihat: Mat. 23:13-15]

b. Kaum Saduki

Nama Saduki berasal dari bani Zadok (Imam Besar). Mereka berjumlah kecil tetapi sangat berpengaruh dalam pemerintahan, karena anggota mereka adalah para imam di Bait Allah di Yerusalem.
Pengajaran PL yang mereka terima hanyalah 5 kitab Pentateukh, tidak percaya pada kebangkitan dan hal-hal supranatural atau kehidupan sesudah kematian, tetapi mereka berpegang ketat hanya pada tafsiran-tafsiran harafiah Taurat. [Lihat: 2Sam. 15:24-29; Kis. 23:8]

c. Kaum Zelot

Mereka adalah kaum nasionalis fanatik yang ingin melepaskan diri dari penjajahan Romawi. Mereka percaya bahwa Allah adalah satu-satunya pemimpin mereka. Oleh karena itu mereka sering mengadakan pembrontakkan melawan pemerintah Romawi. [Lihat: Kis. 5:37; Mar. 12:14]

d. Kaum Eseni

Eseni artinya "saleh" atau "suci". Mereka ini tidak secara resmi disebut dalam kitab-kitab PB, tetapi keberadaan mereka diakui oleh tradisi sebagai biarawan-biarawan Yahudi yang hidup membujang. Mereka juga menjalankan hidup sederhana dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama. Kelompok ini sering dihubungkan dengan penemuan-penemuan naskah Qumran, walaupun tidak ada bukti kuat.

e. Kaum Helenis

Kelompok ini disebut kaum Helenis karena mereka adalah orang-orang keturunan Yahudi tetapi telah mengadopsi kebudayaan dan bahasa Yunani dan tidak lagi mengikuti tradisi dan adat istiadat Yahudi, kecuali dalam hal iman agama mereka.

6. Hari-hari Raya Yahudi

Orang-orang Yahudi banyak merayakan hari-hari penting yang pada umumnya dihubungkan dengan perayaan keagamaan yang memiliki latar belakang erat dengan sejarah kehidupan bangsa Israel. Hari-hari Raya tsb. antara lain: Perayaan Paskah, Hari Raya Roti Tidak Beragi, Hari Raya Pentakosta, Hari Raya Tahun Baru, Hari Perdamaian, Hari Raya Pondok Daun. Lima hari raya ini diadakan berdasarkan aturan dalam Hukum Muda. Sesudah masa pembuangan mereka menambah perayaan Hari Raya Meniup Serunai, Hari Raya Purin.

III. KANON DAN KITAB-KITAB PB

A. KANON PB


Pengumpulan naskah-naskah PB terjadi sebagai proses pimpinan Roh Kudus dalam memelihara hasil inspirasi yang dituliskan oleh para penulis Alkitab. Pengumpulan naskah-naskah PB yang akhirnya diterima sebagai kitab-kitab PB dalam Alkitab disebut sebagai Kanonisasi. Melalui beberapa peristiwa, penyeleksian penyusunan daftar kitab (kanon) itu akhirnya diterima gereja.

1. Pengertian Kanon

Kata kanon berasal dari kata Yunani kanon, artinya buluh. Karena pemakaian "buluh" dalam kehidupan sehari-hari jaman itu adalah untuk mengukur, maka kanon juga berarti sebatang tongkat/kayu pengukur atau penggaris.

Namun pada abad ke 4 Athanasius memberikan arti teologis bahwa kanon dipakai untuk menunjuk kepada Alkitab. Sehingga artinya adalah: Daftar naskah kitab-kitab dalam Alkitab yang berjumlah 66 kitab, yang telah memenuhi standard peraturan-peraturan tertentu yang diterima oleh Gereja Tuhan sebagai kitab-kitab Kanonik yang diakui diinspirasikan oleh Allah dan memiliki otoritas penuh dan mutlak terhadap iman Kristen dan perbuatannya.

2. Sejarah Kanon PB

Setelah kenaikan Tuhan Yesus Kristus ke surga, pengajaran Injil diteruskan pleh para Rasul Tuhan dengan otoritas penuh karena merekalah saksi-saksi mata tentang keselamatan yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Tulisan-tulisan tentang pengajaran iman Kristen oleh para Rasul sangat dibutuhkan mengingat bahwa merekalah pada saksi mata yang dapat memberitakan pengajaran Injil Yesus Kristus dengan jelas dan menafsirkannya dengan tepat, sesuai dengan pimpinan Roh Kudus kepada mereka. Selama thn. 100 - 200 M, tulisan-tulisan para Rasul itu dipakai dan dikumpulkan oleh sidang-sidang jemaat dan kemudian di teruskan oleh gereja-gereja generasi berikutnya.


3. Daftar Kanon PB

Beberapa Daftar Kanon PB yang pernah berlaku dalam sejarah gereja:

a. Daftar Marcion

Daftar buku PB yang tertua disusun di Roma pada tahun 140 M oleh seorang bidat yang bernama Marcion. Menurut Marcion kitab PL harus ditolak dan juga kitab-kitab PB yang dipengaruhi oleh Yudaisme, karena menurutnya Allah PL mempunyai status yang lebih rendah dari Allah yang dinyatakan dalam diri Kristus. Itu sebabnya kanon Marcion hanya terdiri dari 2 bagian:

1. Kitab Injil Lukas (Injil yang tidak dipengaruhi oleh Yudaisme)
2. 8 Surat Paulus (3 Surat Penggembalaan tidak dimasukkan), yaitu: 1 & 2 Korintus, Efesus (Laodikia), Filipi, Kolose, 1 & 2 Tesalonika, Filemon.

b. Daftar Muratori

Daftar lain yang lebih muda dikenal dengan sebutan "Fragmen Muratori", berasal dari Roma pada akhir abad dua. Pada daftar kanonnya dimasukkan:
1. Injil Matius, Markus, Lukas, Yohanes dan Kisah Para Rasul.
2. 9 Surat Paulus kepada Jemaat dan 4 kepada perorangan.
3. 2 Surat Yohanes, Wahyu Yohanes dan Wahyu Petrus (kitab dari apokrifa).

c. Konsili Hippo (393M) dan Konsili Kartago (397M)

Konsili gereja di Afrika Utara ini menerima daftar 27 kitab-kitab PB yang kita pakai sekarang. Penerimaan mereka didasarkan pada kesadaran akan nilai kitab-kitab itu sebagai yang diinspirasikan oleh Allah. Ditambah lagi dengan fakta bahwa kita-kitab tsb. telah umum digunakan oleh gereja-gereja saat itu.


4. Kanon Injil dan Kisah Para Rasul

Pada mulanya kitab-kitab Injil itu merupakan satu kumpulan kitab dalam bentuk tunggal, tetapi dilaporkan sebagai "Menurut Matius", "Menurut Markus" dsb. Tapi pada tahun 115 M, Ignatius mengenal lebih dari satu Injil, jadi mungkin yang dimaksud adalah kumpulan Injil-injil.

Sekitar tahun 170 M, seorang bernama Tatianus membuat Injil rangkap empat menjadi satu cerita yang bersambung, atau disebut "Harmoni Injil-injil" (Diatessaron), salah satu bentuk yang disukai banyak orang.

Walaupun ada lebih dari 4 Injil yang dikenal jaman itu (mis. Injil Barnabas dll.), tapi Ireneus berkata bahwa tidak ada Injil lain selain 4 Injil yang sudah dikenal (Matius, Markus, Lukas, Yohanes). Ia berkata, seperti halnya 4 arah mata angin, maka gereja juga mempunyai 4 Injil sebagai tiang penyangga gereja.

Kitab Kisah Para Rasul mendapatkan pengakuan kanonik karena penulisnya sama dengan Injil ketiga (Lukas). Kedudukan kitab ini penting dalam kanon PB karena merupakan kitab yang sentral, menjadi penghubung antara kitab-kitab Injil dan Surat-surat Kiriman.

B. KITAB-KITAB PERJANJIAN BARU

1. Nama

Nama Perjanjian Baru berasal dari bahasa Latin Novum Testamentum. Istilah Testament atau covenant (bhs. Inggris) ini, artinya persetujuan antar dua pihak yang mengikat, lebih kuat dari hanya sekedar janji.

Bahasa Yunani dari Perjanjian Baru adalah He Kaine Diatheke, artinya pesan atau wasiat terakhir, yang melibatkan dua belah pihak dan sifatnya mengikat dan tidak dapat diubah. Oleh karena itu makna kata "Perjanjian Baru" disimpulkan sebagai perjanjian tertulis yang merupakan wujud persetujuan/kesepakatan yang baru antara Allah dan manusia melalui Kristus.


2. Isi


Isi dari Perjanjian Baru adalah penyataan rahasia janji Allah yang baru yang diwujudkan dalam catatan tentang kata-kata/pengajaran Yesus dan pada pengikut-Nya. Catatan ini terdiri dari 27 buku, yang ditulis dalam kurun waktu 45-50 tahun, ditulis oleh 8-9 orang penulis (berbangsa Yahudi kecuali Lukas). Pengelompokan isi Perjanjian Baru dapat dibagi sbb.:

a. Buku-buku yang berisi sejarah:

Kitab Injil Matius, Markus, Lukas, Yohanes dan Kisah Para Rasul; menceritakan tentang kehidupan dan kematian Yesus dan riwayat para pengikut-Nya setelah Yesus diangkat ke surga.

b. Buku-buku yang berisi pengajaran doktrin:

Semua surat-surat kiriman Rasul Paulus dan Rasul-rasul lain; surat-surat itu khususnya ditujukan kepada jemaat untuk mengajarkan tentang pokok-pokok iman Kristen serta pelaksanaan hidup Kristen.

c. Buku yang berisi nubuat:

Kitab Wahyu; mengungkapkan nubuatan masa kini dan masa yang akan datang melalui penglihatan dan pengalaman supranatural.


3. Susunan Kitab-Kitab PB

27 Kitab yang ada dalam Alkitab PB disusun tidak berdasarkan urutan tahun ditulis, melainkan berdasarkan kronologis sejarah kisahnya dan sebagian karena sifat-sifat sastranya. Susunan tsb. adalah sbb.:

Kitab Sejarah :

1. Matius, penulis Matius
2. Markus, penulis Markus
3. Lukas, penulis Lukas
4. Yohanes, penulis Yohanes
5. Kisah Para Rasul, penulis Lukas

Surat Kiriman :

6. Roma, penulis Paulus
7. 1Korintus, penulis Paulus
8. 2Korintus, penulis Paulus
9. Galatia, penulis Paulus
10. Efesus, penulis Paulus
11. Filipi, penulis Paulus
12. Kolose, penulis Paulus
13. 1Tesalonika, penulis Paulus
14. 2Tesalonika, penulis Paulus
15. 1Timotius, penulis Paulus
16. 2Timotius, penulis Paulus
17. Titus, penulis Paulus
18. Filemon, penulis Paulus

Surat Kiriman :

19. Ibrani, Penulis Anonim
20. Yakobus, Penulis Yakobus
21. 1Petrus, Penulis Petrus
22. 2Petrus, Penulis Petrus
23. 1Yohanes, Penulis Yohanes
24. 2Yohanes, Penulis Yohanes
25. 3Yohanes, Penulis Yohanes
26. Yudas, Penulis Yudas

Kitab Nubuat :

27. Wahyu, penulis Yohanes


4. Periode PB


Penempatan susunan kitab-kitab dalam Alkitab tidaklah sesuai dengan urutan usia penulisannya, tetapi kronologi peristiwanya. Untuk memudahkan penyelidikan, masa dalam PB dapat dibagi menjadi 3 periode waktu:

a. Periode Kelahiran (5 sM - 30 M)

Masa kehidupan Yesus diuraikan dalam kitab-kitab Injil.

b. Periode Perkembangan (30 M - 60 M)

Masa perkembangan karya kerasulan, khususnya pelayanan Rasul Paulus kepada jemaat non-Yahudi.

c. Periode Pemantapan (60 M - 100)

Masa ini (60-100M) tidak banyak diketahui, tapi yang jelas banyak tulisan-tulisan para Rasul dan juga kitab Injil yang baru beredar pada tahun-tahun ini.

IV. KITAB-KITAB INJIL DAN KEHIDUPAN TUHAN YESUS

1. KITAB-KITAB INJIL

A. Asal-usul Injil

1. Pengertian/Definisi:


Kata Injil dalam bahasa Yunani adalah euanggelion, artinya Kabar Baik. Kabar Baik tentang Yesus Kristus telah ditulis oleh keempat penulis Injil dan mereka mengakui bahwa Yesuslah Tuhan, Anak Allah dan Mesias yang dijanjikan dalam PL dan yang telah mengubah hidup mereka menjadi ciptaan baru.


2. Isi Kitab-kitab Injil

Dari maksud yang disebutkan oleh masing-masing penulis kitab-kitab Injil, dapat ditarik satu kesimpulan bahwa kitab-kitab Injil mempunyai implikasi, yaitu:

a. Kitab-kitab Injil bukanlah kitab-kitab yang ditulis oleh Tuhan Yesus sendiri, tetapi oleh murid dan pengikut-Nya.
b. Kitab-kitab Injil bukanlah kitab-kitab yang berisikan "biografi" lengkap Tuhan Yesus, tetapi kisah selektif tentang kehidupan dan pengajaran Yesus Kristus selama kira-kira 3 tahun saja.
c. Isi pemberitaan kitab-kitab Injil berhubungan erat dengan teologia sang penulis, yang secara khusus sangat berguna untuk Jemaat Gereja Mula-mula, karena memberikan penyataan-penyataan besar dan definitif tentang diri Tuhan Yesus dan hubungannya dengan Allah.
d. Isi kitab-kitab Injil itu sesuai dengan tujuan masing-masing penulisnya. Oleh karena itu sangat penting untuk mempelajari secara saksama latar belakang penulisnya untuk dapat mengerti isi Injil dengan tepat.

B. Injil-injil Sinoptik

Istilah "Sinoptik" berarti "melihat dari sudut pandang yang sama". Dalam hal ini Kitab-kitab Injil yang dimaksud adalah Injil Matius, Markus, dan Lukas. Sedangkan yang disebut sebagai "masalah sinoptik" adalah masalah yang muncul sehubungan dengan sumber apa yang dipakai oleh ketiga Injil; apakah sumber yang dipakai sama? Kalau betul sama, mengapa mereka membuat 3 kesaksian yang berbeda? Jawaban terhadap "masalah sinoptik" ini adalah:


1. Injil Matius ditulis lebih dahulu.

Agustinus, pada abad ke 4, berpendapat bahwa Matius menulis lebih dahulu, lalu Markus membuat ringkasannya dan Lukas menulis berdasarkan Matius dan Markus. Masalah yang timbul dengan pendapat ini:
a. Markus tidak menuliskan inti pemberitaan dengan proporsional yang baik.
b. Bahasa yang dipakai Markus memiliki kualitas lebih rendah dari pada Matius dan Lukas.

2. Injil Markus ditulis lebih dahulu.

Lebih banyak ahli kritik sastra Alkitab yang menerima pendapat bahwa Markus telah ditulis terlebih dahulu dan menjadi sumber bagi Matius dan Lukas. Hal ini terlihat dari:

a. Pemakaian kata-kata

Setengah kosakata yang dipakai Markus terdapat dalam Matius dan Lukas; tetapi ada bagian yang sama yang hanya ada di Matius dan Lukas.

b. Urutan

Matius, Markus dan Lukas memakai urutan peristiwa dan garis besar yang sama dalam penyusunan tulisannya.

c. Isi

606 ayat dari 661 ayat dalam Markus ada di Matius (1060); dan 350 ayat dari Markus ada di Lukas (1150). Kalau Matius dan Lukas dibandingkan maka ada 250 ayat yang sama, tapi tidak ada dalam Markus.

d. Gaya bahasa

Markus memakai bhs. Yunani yang lebih rendah kualitasnya daripada Matius dan Lukas. Juga Markus memakai beberapa bhs. Aram ditulisannya.

3. Teori Lain

Beberapa Ahli kritik sastra Alkitab menawarkan teori lain yaitu dengan membedakan sumber-sumber Injil Sinoptik menjadi 4 sumber, yaitu:

a. Markus

Tulisan Markus ditulis di Roma (+60 M).

b. Q (Quelle - sumber)

Tulisan Q ditulis di Antiokia (+50 M), yang berisi kumpulan ajaran Yesus; sumber yang tidak digunakan oleh Markus, tapi digunakan oleh Matius dan Lukas. Namun tidak ada kepastian adanya sumber Q ini karena tidak ada referensi sama sekali, menurut beberapa ahli Alkitab Sumber Q ini hanya bersifat hipotesis saja (lihat Artikel DOKUMEN "Q", di http://www.sarapanpagi.org/post2340.html#p2340 ). Anggapan adanya Dokumen Q ini digunakan untuk mempertanyakan keabsahan Matius dan dr. Lukas selaku penulis sejarah Injil dan PB, dimana ia melakukan investigasi dan pencatatan sejarah dari para saksi mata.

c. M

Tulisan M ditulis di Yerusalem (+65 M), berisi ajaran yang hanya digunakan oleh Matius tetapi tidak oleh Markus maupun Lukas. Dokumen ini juga hanya bersifat Hipotesis, yang hanya digunakan untuk mempertanyakan keabsahan Matius murid Yesus sendiri selaku penulis, dimana ia menulis pengalamannya sendiri dan investigasi dan pencatatan sejarah.

d. L
Tulisan L ditulis di Kaisarea (+60), berisi ajaran yang hanya digunakan oleh Lukas dan tidak oleh Markus maupun Matius. Dokumen ini juga tidak ada bukti aslinya. Anggapan adanya Dokumen L ini digunakan untuk mempertanyakan keabsahan Dr. Lukas selaku penulis sejarah Injil dan PB, dimana ia melakukan investigasi dan pencatatan sejarah dari para saksi mata.
Jadi hasilnya “hipotesis” tsb disimpulkan oleh Drs. B.E. Drewes, M.Th. sbb.:

Matius = memakai bahan Markus + Q + M (dan bahan dari penginjil sendiri)
Matius, yang terdiri dari 1060 ayat, memakai bahan sebagai berikut:

§ kurang dari separo (47%) berasal dari Markus,
§ kurang dari seperempat (23%) berasal dari Q.
§ dan sisanya (30%) dari M (dan penginjil).

Lukas = bahan Markus + Q + L (dan bahan dari penginjil sendiri)
Lukas, terdiri dari 1150 ayat, memakai bahan sebagai berikut:

§ kurang dari sepertiga (28%) berasal dari Markus,
§ kurang dari seperempat (21%) berasal dari Q,
§ dan separo dari Injil itu (51%) berasal dari L (dan penginjil)."

2. KEHIDUPAN TUHAN YESUS KRISTUS


Dari keterangan yang didapatkan dalam kitab-kitab Injil, dan juga tulisan sejarahwan Yahudi, F. Yosefus, dan cerita-cerita tradisi yang beredar pada jaman itu, maka kehidupan Tuhan Yesus bisa diringkaskan sbb.:

A. PENDAHULUAN

1. Silsilah Tuhan Yesus


Injil Matius (1:1-17) memberikan urutan kronologis silsilah Tuhan Yesus, dengan jelas terlihat bahwa secara biologis Tuhan Yesus adalah keturunan raja Daud, tepat seperti apa yang dinubuatkan dalam Yes. 11:1; Yer. 23:5.


2. Tahun Kelahiran Tuhan Yesus

Tahun kelahiran Tuhan Yesus dapat diketahui dengan berbagai cara, yaitu baik dari data-data ekternal atau juga dengan melihat data dari Alkitab sendiri:

a. Data Matius 2:1

Karena Herodes Agung mati pada tahun 4 SM, maka dapat dipastikan bahwa Yesus lahir sebelum 4SM.

b. Data Lukas 2:1-2

Data di luar Alkitab (Yosefus) membenarkan bahwa memang pernah ada sensus yang diselenggarakan pada permulaan tarikh Masehi. Dan ada seorang yang bernama Kirenius yang dikirim ke Siria dan Yudea untuk tugas itu. Tetapi kalau itu benar, maka tahun kelahiran Yesus adalah sekitar tahun 6 - 7 M.

c. Data Lukas 3:1

Tiberius menjadi penguasa kekaisaran Roma pada tahun 14 M, tahun ke-15 adalah tahun 28 M. Tetapi menurut data diketahui bahwa Tiberius sudah memegang kekuasaan tiga tahun sebelumnya. Sehingga bisa disimpulkan pada tahun 25-26 M, Tuhan Yesus berumur 30 tahun. Jadi kelahirannya antara 5-4 SM, yaitu sebelum Herodes meninggal.

3. Masa Muda Tuhan Yesus

Tidak banyak data yang bisa dikumpulkan tentang masa kanak-kanak Yesus. Tapi dari Injil Lukas dan latar belakang tradisi Yahudi, dapat disimpulkan bahwa:

a. Keluarga Yesus mengikuti tradisi Yahudi, Yesus disunat pada hari yang ke delapan (Luk. 2:21). Untuk itu Ia dibawa ke Bait Suci untuk mengesahkan sunat-Nya. Ia j
uga "ditebus" dengan membayar persembahan sebanyak 5 syikal (sepasang burung tekukur dan 2 anak burung merpati). Dan untuk pentahiran-Nya, Maria memberikan kurban untuk orang miskin (Luk. 2:24).

b. Karena ancaman kekejaman raja Herodes Agung yang ketakutan karena berita yang di bawa orang Majus, bahwa telah lahir "Raja orang Yahudi", maka oleh mimpi, Yusuf dituntun untuk membawa keluarganya meninggalkan Betlehem dan mengungsi ke Mesir (Mat. 2:14). Setelah Herodes mati, barulah mereka kembali. Tetapi karena anak raja Herodes (Arkhelaus) masih memerintah di Yudea, dan karena tuntunan mimpi, maka akhirnya mereka menetap di Nazaret (Mat. 2:19-23).

c. Yusuf adalah seorang tukang kayu. Profesi pekerjaan masyarakat biasa yang dapat ditemui di kota kecil Nazaret. Jadi dapat dipastikan Yesus juga mempunyai ketrampilan seperti ayah-Nya. Tapi yang jelas kita ketahui bahwa keluarga Yusuf tidaklah tergolong kaya, malah dapat dikatakan miskin.

d. Walaupun Yesus tidak berasal dari keluarga kaya, tapi terlihat bahwa Yesus mempunyai pendidikan yang cukup baik. Bahkan ia dapat membaca bahasa Ibrani (Luk. 4:16-20).

e. Karena dibesarkan di daerah Galilea, dimana banyak tinggal orang-orang bukan Yahudi, Yesus kemungkinan besar dapat berbicara 3 bahasa (Aram, Yunani, Ibrani).

f. Satu-satunya data tentang masa muda Yesus adalah ditemukan dalam Lukas 2:40-52, yaitu pada waktu Yesus berusia 12 tahun, ketika Ia mengunjungi Bait Allah. Pengetahuan-Nya tentang PL sangat mencengangkan para ahli Taurat.

4. Tuhan Yesus Dibaptis

Pada umur 30 tahun Tuhan Yesus datang kepada Yohanes untuk dibaptis. Yohanes pertama menolak, karena baptisan Yohanes adalah baptisan untuk pertobatan dosa. Namun Yesus mau merendahkan diri untuk sama seperti manusia berdosa (meskipun Ia tidak berdosa) dan mau memikul dosa umat manusia, karena itulah yang dikehendaki Allah Bapa (Mat. 3:15). Kalau dibandingkan dengan Mark. 11:38, maka baptisan Yesus ini juga merupakan permulaan jalan salib yang akan dilalui-Nya.

Kata-kata yang diserukan oleh Bapa pada waktu pembaptisan (Mrk. 1:11) merupakan pendobrakkan terhadap konsep eskatologi Yudaisme tentang Mesias. Setelah peristiwa baptisan yang sangat menguatkan ini, Yesus dibawa oleh Roh untuk dicobai oleh iblis.


B. PELAYANAN TUHAN YESUS

1. Pelayanan di Yudea


Pelayanan awal Tuhan Yesus dilakukan pertama di daerah Yudea. Hanya Injil Yohanes saja yang memberikan kesaksian tentang pelayanan Tuhan yang pertama-tama, khususnya tentang hubungan-Nya dengan Yohanes Pembaptis. Di Betani Tuhan Yesus memilih 5 murid-murid-Nya yang pertama. Lalu Yesus ke Kana (daerah Galilea) dan membuat mukjizat-Nya yang pertama. Lalu ke Kapernaum dan Yerusalem untuk perayaan Paskah. Di sini Yesus mulai menunjukkan kewibawaan-Nya dengan membersihkan Bait Suci. Untuk beberapa saat Yesus melayani di Yerusalem. Percakapan dengan Nikodemus juga terjadi pada saat itu. Pemenjaraan Yohanes Pembaptis, mendorong Yesus pergi ke daerah Galilea. Dalam perjalanan ke sana Yesus sempat berbicara kepada perempuan di Samaria.

2. Pelayanan di Galilea

Kapernaum sering disebut sebagai markas pelayanan-Nya. Selain mengajar di sinagoge-sinagoge pada hari Sabat, Tuhan Yesus sering dijumpai membuat mukjizat dan menyembuhkan orang sakit, sehingga membuat-Nya sangat populer, khususnya dikalangan rakyat jelata. Namun demikian, sikap permusuhan orang Farisi dan ahli Taurat juga semakin kelihatan jelas. Pemilihan ke 12 murid memulai babak baru pelayanan misi Yesus. Pelayanan Yesus menjadi semakin luas dan banyak orang mengikut Yesus, baik untuk motivasi yang benar maupun salah, karena mereka melihat kuasa yang luar biasa melalui mukjizat-mukjizat yang dilakukan Yesus dan juga pengajaran-Nya.

Pada akhir pelayanan-Nya di Galilea Yesus mulai banyak mengkonsentrasikan diri kepada 12 murid-murid-Nya. Dan karena semakin keras para ahli Taurat dan Farisi melawan pelayanan Yesus (termasuk usaha untuk menangkap Dia), maka mulailah Yesus mengundurkan diri dari penampilan secara umum. Mereka tidak berhasil mencelakai Yesus karena waktu-Nya belum sampai.

3. Pelayanan di Daerah Perea

70 orang diutus oleh Yesus untuk pergi ke seluruh kota Israel memberitakan tentang "Kerajaan Allah". Yesus masih tetap mengajar dan membuat banyak mukjizat meskipun banyak tantangan. Yesus semakin melihat bahwa waktu kesengsaraan akan segera datang sehingga Ia banyak berbicara tentang kesengsaraan dan kematian-Nya kepada murid-murid- Nya.

4. Minggu terakhir dan Kematian Yesus

Persiapan kematian-Nya didahului dengan peristiwa-peristiwa berikut ini: pengurapan dengan minyak Narwastu oleh Maria, Yesus ke Yerusalem dan disambut dengan sorakan "Hosana", perjamuan malam dan mencuci kaki murid-murid-Nya. Sebelum peristiwa perjamuan makan malam terakhir, (pada hari Paskah) Yudas telah terlebih dahulu menghianati Yesus dengan menjual-Nya kepada pihak Sanhedrin seharga 30 keping perak (harga seorang budak pada jaman itu). Pada saat Yesus ada di taman Getsemani, berdoa, para prajurit menangkap Yesus dengan bantuan Yudas.

Proses pengadilan Yesus dilaksanakan dengan sangat tidak adil, karena walaupun tidak ditemukan satu kesalahan pun Yesus tetap dijatuhi hukuman mati. Yesus disalib pada pukul 9 pagi, hari Jumat. Menjelang petang Yesus mati. Tubuh-Nya diambil dan dikuburkan oleh Yusuf Arimatea dan Nikodemus.

5. Kebangkitan Yesus

Pada hari yang "ketiga" (Minggu), Yesus bangkit dari kematian. Para wanita yang akan memberi rempah-rempah menemukan kubur kosong. Setelah kebangkitan-Nya, Yesus masih melayani murid-murid-Nya, yaitu dengan menguatkan dan menghibur mereka serta memberikan perintah-Nya yang terakhir, yang dikenal sebagai Amanat Agung Yesus Kristus.

C. GELAR-GELAR TUHAN YESUS

1. Anak Manusia


Gelar yang hanya diberikan kepada Tuhan Yesus. Gelar yang memberikan konsep baru yang tidak sama dengan konsep Mesias Yudaisme. Mat. 9:6; 10:23; 11:19

2. Mesias

Gelar yang mempunyai makna yang sama dengan Kristus, yang dalam bahasa Ibraninya berarti "Yang diurapi" Kis. 4:27; 10:38; Mrk. 9:41:14:61-62

3. Anak Allah

Gelar yang menunjukkan keAllahan-Nya, sebagai Oknum kedua dari Allah Tritunggal. Mat. 4:3, 6; 16:16; Luk. 22:70; Yoh. 1:49


4. Tuhan

Gelar yang diasa dipakai untuk menunjukkan pemilikan ("Tuan"), tetapi kadang juga dipakai untuk menunjukkan keAllahan. Mrk. 12:36- 37; Luk. 2:11; Mat. 7:22

Lihat Artikel : GELAR YESUS KRISTUS, di http://www.sarapanpagi.org/gelar-yesus- ... 5.html#p170


D. JABATAN-JABATAN TUHAN YESUS

1. Sebagai Nabi


PL memberikan nubuatan, bahwa Allah akan memberikan Nabi besar yang akan membawa Firman Allah secara utuh kepada umat-Nya (Ul. 18:15), Yesuslah Nabi yang dinubuatkan itu (Kis. 3:22). Lihat Artikel : 4. NABI, di http://www.sarapanpagi.org/viewtopic.php?p=179#179


2. Sebagai Imam

Imam adalah seorang yang dipilih Allah untuk mewakili manusia bertemu dengan Allah, khususnya untuk mempersembahkan korban sebagai "pendamaian". Yesus sendirilah yang telah menjadi Kurban Pendamaian antara manusia dengan Allah (Ibr. 7:25; 9:24). Lihat Artikel : Yesus Sang Mesias – Imam Besar Agung, di http://www.sarapanpagi.org/yesus-sang-m ... .html#p3071


3. Sebagai Raja

Yesus telah memerintah dan berkuasa atas segala sesuatu atas nama jemaat-Nya karena Ia adalah "kepala" jemaat (Ef. 1:22), Ia juga telah menang melawan kuasa si Jahat (1Kor. 15:24-28) sehingga Ia berkuasa atasnya selama-lamanya.
Tidak mungkin kita dapat melihat seluruh kehidupan, pelayanan dan pengajaran Tuhan Yesus secara lengkap dalam salah satu Injil saja. Hal ini jelas terlihat dari pengakuan dari penulis Injil sendiri bahwa ada banyak hal yang belum/tidak mereka catat dalam Injil mereka (Yoh. 20:30). Namun demikian pengajaran penting yang Yesus ajarkan selama di dunia telah secara lengkap dicatat oleh keempat Injil. Oleh karena itu untuk melihat secara lengkap sangat penting jika kita melihat keempat Injil secara bersamaan.
3. PENYUSUNAN INJIL-INJIL SINOPTIK



Injil Matius, Markus dan Lukas disebut "Injil-injil Sinoptik" sebab ada banyak persamaan di antaranya; cara para penulis menyusun logia menjadi kitab Injil merupakan inti "masalah sinoptik".

Kitab-kitab Injil ini pada hakikatnya merupakan tiga edisi yang berbeda dari bahan dasar yang sama. Banyak dari persamaannya dapat dijelaskan dengan dugaan para penulis mungkin telah memakai kumpulan-kumpulan ucapan yang sama dan sedang beredar di antara berbagai kelompok orang Kristen. Tetapi persamaan-persamaannya lebih rumit dari itu, sebab ada banyak tempat di mana ketiga kitab Injil itu memakai bahasa, kosa kata dan susunan tata bahasa yang tepat sama, sehingga kebanyakan ahli yakin mereka memakai sumber-sumber tertulis yang sama pula.
Ada dua teori utama yang menjelaskan persamaan-persamaan ini. Yang pertama menganggap Injil Matius ditulis lebih dahulu, sedangkan yang kedua menganggap Injil Markuslah sebagai kitab Injil yang pertama.


a. Injil Matius ditulis lebih dahulu?


Pada abad ke-4 M, Agustinus berpendapat bahwa Matius ditulis lebih dahulu, kemudian Markus membuat sebuah ringkasan daripadanya. Akhirnya Lukas menulis kitab Injilnya berdasarkan Matius dan Markus. Hingga awal abad ke-20, itulah pandangan yang dipegang secara luas. Tentu terdapat variasi-variasi dari pandangan tersebut. Salah satu di antaranya - "hipotesa Griesbach" (yang dikemukakan oleh seorang ahli Jerman bernama J. J. Griesbach, 1745 - 1812) - yang akhir-akhir ini telah menjadi pusat perhatian para ahli kontemporer. Griesbach setuju dengan Agustinus bahwa Matius merupakan kitab Injil pertama yang ditulis, tetapi ia beranggapan bahwa yang berikutnya adalah Lukas. Kemudian Markus memakai Matius dan Lukas sebagai dasar karyanya.

Ada beberapa masalah dengan pandangan ini.

§ Mengapakah seseorang mau meringkaskan Matius dan Lukas sehingga membuat sebuah kitab Injil seperti Markus? Dibandingkan dengan kedua kitab Injil yang lebih panjang, Injil Markus yang pendek itu tidak dapat dianggap komprehensif. Kelahiran Yesus dan masa kanak-kanak-Nya tidak disebut, hanya ada sedikit saja tentang ajaran-Nya yang paling distinktif, dan cerita tentang kebangkitan sangat singkat. Memang para penulis kitab Injil memilih bahan-bahan mereka sesuai dengan perhatian dan kebutuhan pembaca mereka, jadi pada prinsipnya bisa saja Markus menghasilkan suatu bentuk ringkas dari Injil Matius dan Lukas. Tetapi melihat justru unsur-unsur yang sangat sentral tidak disinggung atau hanya sepintas lalu disinggung oleh Markus, hampir mustahil membayangkan suatu kelompok Kristen akan merasa puas dengan cerita Markus tentang Yesus jika mereka sudah memiliki Injil Matius dan Lukas. Orang-orang Kristen dulu cenderung mengutamakan Matius dan Lukas oleh karena alasan-alasan tersebut. Kalau Markus ditulis terakhir, dengan pengetahuan penuh tentang adanya dua kitab Injil lain, sulit sekali menjelaskan mengapa kitab Injil tersebut ditulis.

§ Sebagian besar ragam bahasa yang dipakai Markus seakan-akan menunjuk pada suatu kesimpulan yang sama. Kalau Markus telah memakai cerita-cerita Matius dan Lukas dengan bahasa mereka yang halus, mengapakah ia begitu sering menulis dalam bahasa Yunani yang secara praktis tidak dapat dimengerti? Perumpamaan tentang biji sesawi merupakan contoh yang baik di sini (Mrk. 4:30-32; Luk. 13:18-19; Mat. 13:31-32). Baik Matius maupun Lukas memakai ungkapan-ungkapan yang bagus, yang serupa satu sama lain. Tetapi sebaliknya Markus memakai kalimat bahasa Yunani yang ruwet tanpa kata kerja di dalamnya, yang tidak memberikan arti yang lengkap. Kalau ia menyalin dari Matius atau Lukas, maka kelihatannya ia benar-benar berusaha mengelak memakai kata-kata mereka - dan sulit sekali menemukan alasan yang baik untuk itu!

§ Hampir sama sulitnya untuk percaya bahwa Lukas telah membaca dan memakai Injil Matius. Kalau ia memang memakainya, maka ia menerapkan prosedur kesusasteraan yang agak aneh. Injil Matius mengandung salah satu karya agung terbesar dalam kitab-kitab Injil, yakni Khotbah di Bukit. Kalau Lukas memiliki Injil Matius sewaktu ia menulis, mengapakah ia memecah-mecahkannya dengan memakai sebagian di dalam tulisannya sendiri, Khotbah di Dataran, dan sisanya disebarkan dalam bagian-bagian kecil di seluruh kitab Injilnya?


b. Injil Markus ditulis lebih dahulu?

Ada banyak contoh lain tentang masalah yang sama di tempat-tempat lain dalam ketiga Injil Sinoptik. Itu sebabnya kebanyakan ahli modern lebih menyukai suatu penjelasan yang agak berbeda tentang hubungan kitab-kitab tersebut satu sama lain.

Penjelasan yang lebih banyak diterima tentang persamaan antara Injil-injil Sinoptik adalah Matius dan Lukas memakai dua dokumen sumber sewaktu menyusun karangannya tentang kehidupan dan pengajaran Yesus. Inilah sumber-sumber yang kita kenal sekarang sebagai Injil Markus dan suatu dokumen hipotetis yang disebut "Q". Dapat dipastikan sedikitnya Lukas memakai berbagai sumber dalam menyusun Injilnya, sebab ia secara eksplisit mengatakan bahwa ia telah menyelidiki hasil pekerjaan orang-orang lain, serta memilih bagian-bagian dari tulisan mereka yang cocok dengan tujuan tulisannya sendiri. Melihat hubungan sastra yang dekat dengan Markus dan Lukas, kelihatannya pasti bahwa penulis Injil Matius memakai metode yang sama dalam karyanya.

Di dalam mencapai kesimpulan bahwa Matius dan Lukas memakai Injil Markus, para ahli Perjanjian Baru telah menganalisis teks ketiga Injil Sinoptik dengan memakai sedikitnya lima kriteria yang berbeda.


Pemakaian kata-kata


Suatu cara sederhana untuk menentukan hubungan sastra teks-teks yang berbeda adalah dengan membandingkan kata-kata yang dipakai dalam teks-teks tersebut. Lebih dari setengah kosakata yang dipakai Markus terdapat dalam Matius dan Lukas, dan keduanya mempunyai bagian-bagian yang sama tepat, yang tidak terdapat dalam Injil Markus. Jadi kelihatannya ada suatu sumber yang diketahui oleh mereka semua, dan suatu sumber lainnya yang hanya dipakai oleh Matius dan Lukas.


Urutan


Jikalau urutan peristiwa dalam suatu cerita yang terdapat dalam lebih dari satu kitab Injil juga sesuai dengan bagian-bagian yang mempunyai kata-kata yang sama, kita dapat maju selangkah dengan berasumsi adanya sumber yang sama, yang urutan maupun kata-katanya telah direkam oleh ketiga penulis. Dan memang ada banyak bukti tentang hal ini. Matius, Markus dan Lukas mengikuti urutan peristiwa yang sama dalam garis besarnya. Mereka mulai dengan pelayanan Yohanes Pembaptis, kemudian melanjutkannya dengan kisah baptisan dan cobaan Yesus. Setelah itu diceritakan tentang pelayanan yang meliputi pembuatan mujizat dan pengajaran di Galilea, yang mulai membangkitkan pertentangan dari para pemimpin Yahudi. Lalu Yesus mengadakan perjalanan ke wilayah utara untuk memberikan pengajaran khusus bagi murid-murid-Nya. Akhirnya mereka pergi ke Yerusalem, dan bagian akhir kitab-kitab Injil memberitakan tentang hari-hari terakhir Yesus, pengadilan-Nya, penyaliban, dan kebangkitan-Nya.
Di dalam kerangka umum ini, peristiwa-peristiwa khusus sering disampaikan dalam urutan yang sama.

Ciri-ciri Injil Sinoptik ini dapat diterangkan sebaik-baiknya bila kita beranggapan Matius dan Lukas memakai Markus, dan bukan sebaliknya. Sebab sesuatu yang mencolok ialah bila Matius menyimpang dari urutan Markus, Lukas tetap mengikuti urutan Markus tersebut; kalau Lukas menyimpang dari urutan Markus, Matius tetap mengikuti Markus. Hanya ada satu peristiwa yang oleh keduanya ditempatkan berlainan dari Markus, yaitu penetapan keduabelas murid (Mrk. 3:13- 19; Mat. 10:1-4; Luk. 6:12-16). Kadang-kadang Matius atau Lukas meninggalkan pola cerita Markus untuk menambah sesuatu yang baru, tetapi setelah penambahan tersebut, biasanya mereka kembali lagi mengikuti urutan Markus. Ini merupakan salah satu argumen terkuat yang mendukung anggapan bahwa Matius dan Lukas memakai Markus, dan tidak sebaliknya.


Isi

Analisis isi cerita juga mengungkapkan pemakaian sumber-sumber yang berlainan. Jika seorang penulis mencatat cerita yang sama dengan kata-kata dan urutan yang sama dengan seorang penulis yang lain, maka kita dapat menyimpulkan keduanya memakai sumber yang sama, atau salah satu telah mengutip dari yang lainnya. Itulah yang terjadi dalam Injil-injil Sinoptik; dari 661 ayat dalam Markus, 606 ayat ditemukan dalam Matius dalam bentuk yang hampir sama, dan kira-kira setengahnya terdapat juga dalam Lukas.


Gaya bahasa


Ini suatu kriteria yang sangat sulit dipakai secara memuaskan. Gaya bahasa seorang penulis dapat bergantung pada begitu banyak hal: situasi di mana ia menulis, kelompok pembaca yang hendak dicapai, apakah ia memakai seorang sekretaris atau tidak, dan sebagainya.

Jelas ada perbedaan gaya bahasa yang nyata antara Markus dan kedua Injil sinoptik lainnya, dan secara keseluruhan Injil Markus ditulis dengan bahasa Yunani yang lebih rendah mutunya. Umpamanya, ia sering melukiskan suatu peristiwa dengan memakai kata kerja bentuk masa kini walau hal-hal tersebut terjadi di masa lampau, sedangkan Matius dan Lukas selalu memakai kata kerja bentuk waktu lampau, yang tentunya lebih tepat. Ini merupakan salah satu argumen yang lemah, sebab hal itu didasarkan atas asumsi para penulis memakai sumber-sumber tersebut dengan cara yang agak kaku, hanya dengan menyalin kata demi kata dari naskah yang ada di hadapan mereka. Tetapi tidak banyak penulis yang mengikuti suatu sumber begitu dekatnya sehingga gaya bahasa sumber tersebut mengaburkan gaya bahasa mereka sendiri. Jika Markus agak lemah dalam penguasaan bahasa Yunani, maka tata bahasanya pun akan lemah, sekalipun dia hanya menyalin dari sumber tertentu.

Kita mempunyai dasar lebih kuat kalau kita mengamati bahwa Markus mencatat delapan ucapan Yesus dalam bahasa Aram. Lukas sama sekali tidak mengikutinya, sedangkan hanya ada satu contoh dalam Injil Matius. Lebih mungkin Matius dan Lukas menghilangkan ucapan-ucapan bahasa Aram tersebut, ketimbang Markus yang secara sengaja menambahkan ucapan-ucapan bahasa Aram dalam Injilnya.


Gagasan dan teologi


Jika dapat ditunjukkan salah satu cerita kitab Injil mengandung teologi yang lebih berkembang daripada kitab Injil lainnya, maka kita dapat menganggap kitab tersebut ditulis belakangan. Kelihatannya ini pengujian yang sederhana, namun tidaklah mudah menerapkannya dalam praktek. Sering sulit memastikan apa yang kelihatan sebagai suatu perbedaan dalam. sikap, memang benar-benar merupakan perbedaan. Lagi pula siapa yang akan menentukan "teologi apa yang berkembang" itu, dan bagaimana kita dapat yakin teologi tersebut berkembang belakangan ketimbang suatu pandangan "primitif"? Jika kita ingat teologi yang sangat berkembang dari Paulus sudah ada pada waktu kitab-kitab Injil ditulis, maka kita dapat melihat bahwa definisi mengenai perbedaan-perbedaan seperti itu, dan hubungan kronologisnya satu sama lain, merupakan suatu hal yang sangat subjektif.

Tentu ada sejumlah penekanan yang berbeda dalam kitab-kitab Injil, tetapi sulit mengetahui dengan pasti pengaruhnya terhadap penyusunan kitab-kitab Injil. Misalnya, Matius dan Lukas tampaknya telah mengubah atau menghilangkan pernyataan tertentu dalam Injil Markus yang dianggap kurang menghormati Yesus. Pernyataan Markus yang blak-blakan bahwa di Nazaret Yesus "tidak dapat mengadakan satu mujizat pun" (Mrk. 6:5), dalam Matius berbunyi, "tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ" (Mat. 13:58), dan Lukas menghilangkannya sama sekali. Begitu juga pertanyaan Yesus dalam Markus, "Mengapa kau katakan Aku baik?" (Mrk. 10:18) muncul dalam Matius sebagai, "Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik?" (Mat. 19:17). Tidak semua kriteria di atas sama pentingnya. Ada kesulitan menentukan nilai dari sedikitnya dua di antaranya. Tetapi jika ditinjau bersama, hasil kumulatif dari keterangan yang ada paling mudah dijelaskan jika kita menganggap Matius dan Lukas memakai cerita Markus, dan Matius bukan kitab Injil asli yang diringkaskan oleh Markus dan sumber yang dipakai Lukas untuk kutipan-kutipan selektif.

4. SATU BERITA INJIL - EMPAT INJIL



Seorang rekan saya yang menjadi penginjil telah menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk membangun persahabatan yang sungguh-sungguh akrab dengan sepasang suami istri berkebangsaan Jepang. Pasangan suami istri itu tinggal tidak jauh dari rumahnya. Dalam percakapan mereka pada suatu hari, rekan saya itu mendorong mereka agar memberi perhatian lebih saksama pada akar-akar historis dari iman Kristen dengan cara membaca Perjanjian Baru. Setelah beberapa hari membaca keempat Injil, si istri kemudian membuat rekan saya itu terkejut karena mengajukan pertanyaan berikut, "Mengapa Yesus harus mati empat kali?"

Bagi orang-orang yang besar di dalam lingkungan gereja ataupun mereka yang cukup akrab dengan Alkitab, pertanyaan ini terdengar agak konyol. Akan tetapi, pertanyaan ini segera membangkitkan suatu isu yang genting bagi para pembaca Injil-Injil. Mengapa harus ada empat catatan? Kenapa ada empat versi yang berbeda? Mengapa ada empat perspektif yang masing-masing memiliki kekhasan? Mengapa tidak dibuatkan satu saja catatan yang berotoritas? Ini tentu saja adalah salah satu isu paling genting yang harus dihadapi para pembaca empat kitab pertama dari Perjanjian Baru ini: Ada empat Injil-Injil, dan masing-masing tidak selalu sepakat dengan yang lain dalam berbagai hal.


MENGAPA EMPAT INJIL?


Mengapa empat Injil? Segera muncul dua jawaban yang saling kait- mengait. Di satu pihak, tidak seorang pun mampu menangkap keseluruhan signifikansi dari orang lain, dan prinsip ini berlaku terutama bagi sosok dengan bobot dan orisinalitas seperti Yesus. Walaupun potret Yesus yang disediakan Lukas dapat menolong para pembacanya, ia tentu saja tidak mampu menangkap seluruh hal-hal yang penting. Karena alasan inilah kita dapat bersyukur karena kita tidak hanya memiliki satu melainkan empat potret Yesus.

Di pihak lain, bahkan sejak zaman para rasul masing-masing komunitas Kristen membutuhkan catatan tentang pelayanan Yesus serta signifikansinya yang dikisahkan dalam cara yang secara khusus memenuhi kebutuhan mereka. Injil-injil adalah dokumen-dokumen yang memiliki tujuan tertentu. Dengan kata lain, kita dapat menyimpulkan bahwa Injil-injil, seperti surat-surat Paulus, adalah "tulisan-tulisan untuk menangani suatu keadaan tertentu." Maksudnya, sebagaimana Paulus menuliskan surat pertamanya kepada orang-orang Kristen di Korintus untuk menghadapi masalah-masalah spesifik yang terjadi di sana (misalnya, lihat 1Kor. 1:11; 5:1; 7:1), demikian juga para penulis Injil menuliskan Injilnya untuk menghadapi kebutuhan-kebutuhan tertentu. Karena itu, wajar bila Injil Yohanes menampilkan rasa yang berbeda bila dibandingkan dengan Injil Matius; Yohanes hendak menyapa suatu khalayak pembaca yang berbeda pula.

Sebenarnya, ada banyak "injil" yang ditulis pada abad-abad pertama keberadaaan gereja. Lukas sendiri menyadari adanya beberapa upaya untuk menyampaikan kisah Yesus yang telah dilakukan sebelum upayanya ini (Luk. 1:1). Karena itu, tidak perlu kita ragukan lagi kalau ada (semacam) injil-injil yang telah beredar pada dekade-dekade awal dari sejarah Kekristenan. Kita juga menyadari bahwa selama beberapa abad orang-orang terus terdorong untuk menuliskan injil-injil. Sebagian dari hasil upaya-upaya tersebut telah dikenal oleh para sarjana biblika dalam bentuk yang utuh sejak dulu; karya-karya lainnya yang dikutip oleh penulis-penulis masa lalu kini hanya dikenal namanya saja; namun, masih ada beberapa karya lain yang baru-baru ini ditemukan di antara penemuan-penemuan arkeologis di Nag Hammadi.

Kemungkinan besar injil-injil dalam kelompok yang disebut terakhir tadi (kadang-kadang disebut sebagai "injil-injil apokrifa") dituliskan lama setelah Injil-Injil Perjanjian Baru ditulis. Isi dari injil-injil ini kadang menyajikan bahan-bahan yang sangat menghibur dan mengikutsertakan kisah-kisah fantastis tentang Yesus serta perkataan- perkataan penuh teka-teki dan esoteris yang dianggap berasal dari Yesus. Seperti yang telah kita ketahui, hanya empat Injil - Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes - yang kemudian memiliki status otoritas yang diterima secara luas. Munculnya injil-injil lain yang kurang didasari oleh sejarah dan memiliki kecenderungan untuk melakukan penafsiran yang spekulatif ini bisa saja menjadi pendorong bagi pengakuan akan Injil-Injil dalam Perjanjian Baru sebagai catatan- catatan yang berotoritas.

Walaupun demikian, beberapa orang masih merasa tidak nyaman karena harus menghadapi kesaksian berganda tentang kisah Yesus yang seperti ini, bahkan pada masa-masa awal tersebut. Terasa adanya suatu ketegangan tertentu bila catatan-catatan yang berbeda itu ditempatkan berdampingan. Untuk memecahkan masalah ini, maka disusunlah edisi "harmonisasi Injil-injil" yang pertama. Penyusun buku ini, Tatianus, berusaha untuk menyuling narasi-narasi yang bervariasi dalam Injil- injil itu ke dalam satu catatan yang berotoritas. Pada akhirnya, buah dari usaha ini pun dirasakan tidak memuaskan oleh gereja purba waktu itu.

Kelihatannya judul-judul yang dibubuhkan kepada Injil-Injil tersebut memberikan sudut pandang terbaik bagi kita untuk memahami solusi purba bagi masalah empat Injil ini. Pada awalnya, Injil-Injil ini diedarkan tanpa dibubuhi baris judul. Judul-judul baru dibutuhkan setelah keempat Injil ini dikumpulkan bersama. Bila diterjemahkan secara harfiah, tulisan-tulisan ini diberi judul "Menurut Matius", "Menurut Markus", dst. Kata-kata ini tidak sekadar mengandung makna bahwa Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes adalah penulis kitab-kitab itu. Sebaliknya, kata "menurut" di sini menyiratkan suatu konformitas yang sangat mendasar kepada satu kisah - maksudnya, kepada satu berita injil - yang disampaikan oleh keempat penulis Injil. Hanya ada satu berita injil, tetapi berita injil itu telah disampaikan melalui empat penulis. 3 Karena itu, dengan memberikan judul demikian kepada keempat kitab tersebut, gereja purba sedang memberi kesaksian tentang kesatuan dari fokus dan bahasan keempat Injil itu. Pada saat yang sama mereka sekaligus memberi ruang bagi hadirnya keragaman dalam penyampaian kisah Injil.


EMPAT INJIL: OTORITAS YANG DIPIKUL BERSAMA


Apakah implikasi hal ini bagi pemahaman kita atas Injil-injil pada saat ini? Ada dua hal. Pertama, kita harus menyadari bahwa ketika gereja mula-mula memilih keempat Injil tersebut dan menempatkan mereka berdampingan, gereja mula-mula sedang menyatakan bahwa di antara keempat Injil-injil tidak ada Injil yang "paling baik" atau "lebih benar" daripada tiga Injil yang lain. Tentu saja, ketika kita mengakui peran aktif dari gereja purba di dalam proses kanonisasi Injil-injil, kita tidak menganggap hal ini sebagai suatu upaya manusiawi semata. Sebaliknya, kita percaya bahwa Roh Kudus menuntun keseluruhan proses ini.

Lalu apa anti dari kesimpulan bahwa keempat Injil-injil itu memiliki status yang sama? Pada intinya, itu berarti keempat Injil-injil merupakan saksi-saksi yang sama-sama valid atas berita injil yang tunggal itu, walaupun masing-masing memang memberikan kesaksian tentang berita injil itu dalam caranya yang khas. Masing-masing harus dibiarkan untuk bertumpu pada kakinya sendiri. Karena itu, Injil Yohanes tidak boleh kita anggap sebagai kunci untuk memahami berita dari Injil Markus. Sebagai karya-karya sastra, Injil-injil tetap memiliki integritasnya masing-masing. Akan tetapi, implikasi lain yang juga muncul adalah: tidak satu pun dari keempat Injil itu yang layak untuk menjadi saksi berotoritas atas berita injil bila hadir sendirian tanpa Injil yang lain. Karena Injil-injil disampaikan dari perspektif- perspektif yang berbeda, maka keempat Injil itu saling melengkapi satu dengan yang lain; keempatnya saling menyeimbangkan; masing-masing menyajikan aspek yang berbeda dari hakikat berita injil yang tunggal itu, yaitu signifikansi dari kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus. Kita membutuhkan keempat-empatnya dan tidak satu pun dari empat Injil itu dapat kita perlakukan sebagai saksi tunggal tentang signifikansi Yesus.

Kita dapat mengilustrasikan poin terakhir ini sambil mengacu kepada salah satu bagian dari Ucapan Berbahagia yang disampaikan dalam dua bentuk yang berbeda oleh Matius dan Lukas:

"Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga." (Mat. 5:3).

"Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang punya Kerajaan Allah." (Luk. 6:20).

Yang menjadi pusat perhatian kita bukanlah perbedaan antara bentuk orang ketiga ("merekalah") yang digunakan Matius dan bentuk orang kedua ("kamulah") yang digunakan Lukas. Juga bukan tentang perbedaan antara istilah Kerajaan Surga yang digunakan Matius dengan Kerajaan Allah yang digunakan Lukas (sebenarnya, "Kerajaan Surga" dan "Kerajaan Allah" merupakan sinonim). Lima masalah yang lebih mendasar dalam ayat- ayat paralel ini terpusat pada kontras antara sapaan yang dalam Injil Matius kelihatannya ditujukan kepada "orang yang miskin secara rohani" dengan sapaan kepada "orang yang miskin secara materiil" di dalam Injil Lukas. Bila kita mengakui kedua Injil ini sebagai saksi- saksi yang sama-sama berotoritas atas satu berita injil yang sama, maka kita harus melawan semua upaya yang hendak menonjolkan versi yang satu melebihi versi lainnya. Kita perlu mendengarkan kedua-duanya. Bila kita menonjolkan yang satu melawan yang lain, maka hasilnya justru akan merugikan kita.

Karena itu, sementara kita menghargai serta memberi salut atas bangkitnya kembali kesadaran di antara banyak orang Injili mengenai kebenaran alkitabiah tentang sikap Allah bagi orang yang tertindas dan juga tanggung jawab kita demi kepentingan mereka, kita harus berusaha untuk mengapresiasi keseluruhan kisah itu. Dengan alasan yang kuat, kalangan Injili yang mulai mengembangkan kesadaran sosial telah memalingkan perhatian mereka kepada Injil Lukas. Sikap ini mereka lakukan dalam upaya mendasarkan segala keprihatinan yang mereka rasakan pada inti dari berita injil.6 Dari berbagai sisi, tampak bahwa Injil Lukas memang sangat cocok untuk upaya ini. Injil ini memang memberi penekanan pada Yesus sebagai Juruselamat bagi semua orang, bahkan (dan terutama) bagi mereka yang tertindas. Walaupun demikian, Lukas hanyalah salah satu dari empat Injil yang ada. Bila kita mengesampingkan Injil Matius, Markus, ataupun Injil Yohanes dalam upaya untuk menjangkau inti dari pemberitaan Yesus, maka kita sama saja sedang menolak fakta bahwa yang hadir di hadapan kita adalah Injil yang memiliki empat wajah! Karena itu, tidak satu pun dari keempat Injil itu yang dapat kita perlakukan sebagai saksi berita injil yang komplit, sehingga tidak perlu dilengkapi oleh tiga Injil lainnya.

Selain itu, bila kita memperhatikan signifikansi dari istilah miskin pada masa-masa sebelum dan sesudah pelayanan Yesus di bumi, kita akan melihat tidak adanya kontradiksi antara ucapan berbahagia versi Matius dengan versi Lukas tersebut. Oleh karena kondisi-kondisi sosial dan politis yang timbul akibat pendudukan asing pada masa tersebut (yang akan kita perhatikan pada pasal berikut), kesetiaan kepada Allah dapat berdampak pada kemiskinan materiil, dan bahkan inilah yang kerap terjadi! Karena itu, kedua istilah ini, "miskin" (kemiskinan yang bersifat sosioekonomis) serta "miskin dalam roh" (kerendahan hati yang penuh kesalehan) sama-sama mencakup dimensi-dimensi kehidupan yang bersifat religius serta sosial. Ketika Matius dan Lukas menyampaikan perkataan Yesus ini, keduanya sedang menunjuk kepada satu realitas yang sama sambil memberi penekanan pada aspek-aspeknya yang berbeda.
V. LATAR BELAKANG RASUL PAULUS DAN SURAT-SURAT RASUL PAULUS


A. LATAR BELAKANG PELAYANAN RASUL PAULUS


1. Kehidupan Paulus Sesudah Pertobatan


Berkotbah di Damaskus (9:20), Pergi ke Arabia (Gal 1:17), Kembali ke Damaskus (Gal 1:17), Mengunjungi Yerusalem (Gal 1:18), Dicurigai oleh gereja (Kis 9:27), Berteman dengan Barnabas (9:27), Orang Yahudi menganiayanya (9:29), Visi untuk pergi menginjili (22:17-18), Pergi ke Tarsus (9:30), Barnabas membawanya ke Antiokia (11:25-26), Bekerja di Antiokia (11:26).

2. Perjalanan Misi Paulus yang Pertama


Bekerja di Siprus, Salamis, Papos (13:5-11), Namanya diganti (13:9, 13), Ke Perga - Markus ditinggalkan (13:13), Khotbah di Antiokia (13:14-41), Di Ikonium (13:51), Di Listra - Paulus dirajam batu (14:8- 19), Derbe - Kota terakhir yang dikunjungi (14:20), Perjalanan pulang (14:21-26)


3. Perjalanan Misi Paulus Kedua


Di Listra & Sisilia (15:41), Listra - Timotius bergabung (16:1-3), Di Pergia dan Galatia (16:6), Visi ke Troas (16:9), Di Filipi, Lidia & penjaga penjara (16:13-34), Gereja Tesalonika ditemukan (17:4), Orang- orang percaya di Berea (17:11-12), Khotbah di Areopagus di Atena (17:16-33), Visi Korintus - gereja ditemukan (18:1-8), Di Efesus - kunjungan singkat (18:19-20), Kembali ke Antiokia (18:22)


4. Perjalanan Misi Paulus Ketiga


Mengunjungi Galatia & Pirgia (18:23), Efesus (19), Di Makedonia & Grece (20:1-2), Kotbah di Troas (20:6-12), Perpisahan dengan penatua Efesus (20:17-35), Di Tyre (21:1-4), Kaesaria (21:8)




B. SURAT-SURAT KIRIMAN RASUL PAULUS


1. Hubungan Kisah Para Rasul dengan Kitab-kitab Injil dan Surat-surat Kiriman


Kitab Kisah Para Rasul adalah jembatan antara Kitab-kitab Injil dan Surat-surat Kiriman.

Untuk Kitab-kitab Injil: menjadi jembatan antara pelayanan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus dan penggenapan nubuat Yesus tentang akan didirikan-Nya Gereja (Mat. 16:18).

Untuk Surat-surat Kiriman: menjadi jembatan dalam memberi latar belakang Surat-surat Kiriman, yaitu:
a. Surat Galatia : Antiokia, Ikonium, Listra, Derbe. (Kis 13:14-14:28)
b. Surat Filipi: Filipi (Kis 16:11-40)
c. Surat 1 dan 2 Tesalonika: Tesalonika (Kis 17:1-9)
d. Surat 1 dan 2 Korintus: Korintus (Kis 18:1-16)
e. Surat Efesus: Efesus (Kis 19:1-41; 20:17-35)


2. Pengantar untuk Surat-surat Kiriman Rasul Paulus


a. Kewibawaan Surat Kiriman Rasul Paulus
Surat-surat itu sekarang jumlahnya 13 Surat, sesungguhnya lebih tapi hilang. Dari kesaksiannya Rasul Paulus mempunyai keyakinan yang kuat akan panggilan Allah dalam hidupnya (Rm 1:6). Ia juga mempunyai kepercayaan yang kuat akan otoritas Firman yang Allah berikan melalui Paulus kepada gereja-gereja (Jemaat) Kristen saat itu.

b. Motif Penulisan
Jangkauan daerah pelayanan yang luas tidak memungkinkan Paulus mengunjungi mereka satu per satu. Tetapi jemaat masih muda itu perlu dinasehati, didorong, dihibur dan dikuatkan. Ditambah lagi saat itu jemaat-jemaat ini belum mempunyai salinan kitab-kitab Perjanjian Lama (masih menggunakan tradisi lisan). Oleh karena itu, surat menjadi alat yang sangat penting bagi Paulus untuk berkomunikasi.

Catt.: Jumlah perjalanan yang ditempuh Paulus dalam km adalah 7800 km darat (harus ditempuh dengan jalan kaki) dan 900 km lewat laut.

Contoh: Dari Korintus ke Athen dibutuhkan 3 hari perjalanan kaki. Dari Tesalonika dibutuhkan 13 hari perjalanan kaki Dari Efesus ke Troas dibutuhkan 10 hari perjalanan kaki.

c. Susunan/struktur Surat
Sama seperti model-model surat jaman itu, biasanya surat disusun dalam struktur sbb.:

Nama penulis (mis: Paulus ..)
Nama penerima (Kepada jemaat Allah di ...
Salam pembukaan (kasih karunia dan damai sejahtera dari ..)
Doa harapan dan ucapan syukur (aku mengucap syukur kepada Allah ...)
Isi surat (tubuh surat)
Salam penutup/perpisahan (kasih karunia ....)


d. Gaya bahasa
Dikenal gaya pikiran dalam surat Paulus melompat-lompat, sintaksnya patah-patah. Selain itu juga sulit dimengerti karena sarat dengan konsep-konsep dengan bahasa filsafat).

e. Pemahaman Kontekstual
Untuk memahami Surat-surat Kiriman Rasul Paulus perlu dipelajari hal-hal sbb.:
§ Harus mengenal Pembaca/Penerima Surat Kiriman tsb. dan kebutuhan mereka.
§ Surat-surat Kiriman tidak ditulis untuk tujuan indoktrinasi tapi karena ada masalah.
§ Masing-masing Surat harus dibaca/dimengerti berdasarkan konteksnya.



C. PANGGILAN PAULUS UNTUK MENGINJILI ORANG-ORANG NON-YAHUDI


Dari hasil pelayanan Paulus keberbagai tempat terlihat bahwa Tuhan juga berkenan memanggil orang-orang bukan Yahudi (bangsa kafir) untuk masuk dalam persekutuan dengan Kristus. Dan penerimaan itu adalah tanpa syarat, artinya tanpa harus membuat mereka menjadi orang Yahudi dan mengikuti tradisi Yahudi (mis. sunat). Paulus dengan berani memberikan dasar Firman Tuhan agar orang-orang Kristen (baik Yahudi atau non-Yahudi) memahami pengajaran Alkitabiah dengan benar, bahwa keselamatan adalah semata-mata karena anugerah melalui iman bukan perbuatan.



D. STRATEGI PAULUS DALAM MENGABARKAN INJIL


Paulus adalah contoh seorang misionaris yang berhasil sepanjang sejarah kekristenan. Hasil pelayanannya meliputi seluruh wilayah Laut Tengah (meliputi 3 benua). Rahasia keberhasilan pelayanannya adalah:

1. Pada pemberitaan yang disertai dengan kuasa Roh Kudus.
Bukan kuasa manusia tapi kuasa yang datang dari atas.


2. Paulus adalah pemikir ulung dalam menyusun strategi pelayanannya.


a. Ketidak tergantungan pada fasilitas.
Mengingat terbatasnya fasilitas yang tersedia saat itu, Paulus betul-betul termasuk seorang yang luar biasa. Misalnya, tidak tersedianya peta wilayah (dunia), seluruh perjalanan darat harus ditempuh dengan berjalan kaki dll.

b. Kemampuan berkomunikasi
Paulus selalu siap menghadapi setiap kemungkinan; dengan siapa pun dan di mana pun berada Paulus selalu siap melayani (baik pemimpin agama, politikus, atau orang biasa/baik di pasar atau di istana).


c. Kemampuan intelektual
Paulus selain cerdas, juga rajin belajar. Segala macam topik pembicaraan Paulus selalu menguasai.

d. Tahan menderita dan tidak mudah putus asa.
Paulus tidak hanya rela mengeluarkan keringat bagi pelayanannya, tapi juga air mata.


3. Latar Belakang Paulus

Walter M. Dunnett melukiskan latar belakang Paulus sbb.: "Paulus adalah seorang Yahudi tulen. Inilah faktor utama untuk bisa mengerti perangai dan kegiatannya. Dia dilahirkan dalam keluarga Yahudi di kota Tarsus, propinsi Kilikia, dan karenanya selama bertahun-tahun dia terkenal sebagai Saulus dari Tarsus. Menurut pengakuannya sendiri, dia seorang Farisi, demikian juga ayahnya (Kis. 23:6), berbicara bahasa Aram ("orang Ibrani asli"), dan diajar membuat tenda pada masa mudanya (Kis. 18:3). Dia berasal dari suku Benjamin (Fil 3:5). Menurut sejarahnya, suku Benjamin itu orang-orang yang berjiwa pejuang, dan agaknya, Paulus menyatakan semangat yang amat besar dalam semua usahanya, terutama sekali dalam penganiayaan terhadap gereja (Gal. 1:13). Pada usia muda dia pergi ke Yerusalem, dan menurut kesaksiannya yang tertulis dalam Kisah Para Rasul dia belajar di bawah pimpinan Rabi Gamaliel I yang terkenal, guru yang utama pada sekolah Hilel (Kis. 22:3). Dari kata-katanya sendiri di surat Galatia, kita tahu bahwa Saulus "jauh lebih maju" dari banyak temannya, karena ia "sangat rajin memelihara adat istiadat nenek moyangku" (Gal. 1:14).

Permulaan usaha Saulus untuk membasmi Gereja bertepatan dengan pembunuhan Stefanus (Kis. 7:58-8:3). Dia tidak saja menganiaya... "laki-laki dan perempuan" di Yerusalem, tetapi dengan surat kuasa Imam Besar (Yusuf Kayafas), dia pergi ke kota-kota lain untuk melaksanakan tugasnya (Kis. 26:10-11). Pada perjalanan dinas seperti itulah Saulus dari Tarsus berjumpa dengan Yesus dan bertobat secara luar biasa."


4. Latar Belakang Teologia Paulus

a. Seorang Farisi Tulen, yang taat pada Hukum Taurat, hal ini jelas ditunjukkan dalam kesaksian hidupnya dan juga ketrampilannya dalam menafsir (cara penafsiran Yahudi).
Paulus mengadopsi cara berpikir Yunani dalam menyampaikan Injil kepada orang-orang non Yahudi. Budaya Yunani adalah budaya yang diagung-agungkan jaman itu, oleh karena itu mengerti budaya Yunani merupakan satu cara memenangkan mereka.
VI. SEJARAH GEREJA MULA-MULA



A. LATAR BELAKANG


Sebelum Yesus naik ke surga, Ia memberikan perintah kepada para murid-Nya untuk pergi ke Yerusalem dan menunggu di sana sampai Roh Kudus dicurahkan ke atas mereka. Dengan kuasa yang diberikan Roh Kudus itu Yesus berjanji akan memperlengkapi murid-murid-Nya untuk menjadi saksi-saksi, bukan hanya di Yerusalem tapi juga di ke ujung-ujung bumi (Kis. 1:1-11). Janji itu digenapi oleh Kristus dan perintah itu ditaati oleh murid-murid-Nya.



B. PERMULAAN GEREJA


Kata "gereja" atau "jemaat" dalam bahasa Yunani adalah ekklesia; dari kata kaleo, artinya "aku memanggil/memerintahkan". Secara umum ekklesia diartikan sebagai perkumpulan orang-orang. Tetapi dalam konteks Perjanjian Baru kata ini mengandung arti khusus, yaitu pertemuan orang-orang Kristen sebagai jemaat untuk menyembah kepada Kristus.

Amanat Agung yang diberikan Kristus sebelum kenaikan ke surga (Mat. 28:19-20) betul-betul dengan setia dijalankan oleh murid-murid-Nya. Sebagai hasilnya lahirlah gereja/jemaat baru baik di Yerusalem, Yudea, Samaria dan juga di perbagai tempat di dunia (ujung-ujung dunia).


1. Gereja Di Palestina

a. Gereja pertama lahir di Yerusalem (Kis. 1:8)
b. Petrus dan beberapa murid-murid Tuhan Yesus yang lain membawa Injil ke Yudea (Kis. ps. 1-7).
c. Filipus dan murid-murid yang lain pergi ke Samaria dan sekitarnya (ps. 8).


2. Gereja di luar Palestina

a. Petrus membawa Injil ke Roma.
b. Paulus ke Asia Kecil dan Eropa (Kis. ps. 10-28).
c. Apolos ke Mesir (Kis. ps. 18).
d. Filipus ke Etiopia (Kis. ps. 8).
e. Sebelum tahun 100 M, Injil sudah tersebar ke Siria, Persia, Afrika (Kis. 9).
f. Lalu ke ujung-ujung bumi (Siria, Persia, Gaul, Afrika Utara, Asia & Eropa).



C. PERTUMBUHAN DAN TANTANGAN


Gereja/jemaat yang baru berdiri mengalami pertumbuhan yang luar biasa. Kuasa Roh Kudus sangat nyata hadir di tengah jemaat. Namun demikian tantangan dan kesulitan juga mewarnai pertumbuhan jemaat mula-mula itu. Tapi luar biasa, justru karena keadaan yang sulit itu gereja semakin berkembang.


1. Agama Negara

Kaisar Agustus mempunyai kekuasaan yang sangat besar. Salah satu peraturan yang muncul pada masa pemerintahannya adalah menyembah kepada Kaisar sebagai dewa mereka, walaupun mereka masih diijinkan melakukan penyembahan kepada dewa-dewa/kepercayaan asal mereka sendiri.

Namun demikian ada kekecualian untuk orang-orang Yahudi yang mempunyai agama Yudaisme yang menjunjung tinggi monotheisme, mereka tidak diharuskan untuk menyembah kepada Kaisar. Hal ini terjadi karena mereka takut kalau orang Yahudi memberontak.

Kehadiran agama Kristen saat itu, pada mulanya dianggap sebagai salah satu sekte agama Yudaisme, itu sebabnya orang-orang Kristen pertama tidak diharuskan untuk menyembah kepada Kaisar. Tetapi setelah orang- orang Yahudi secara terbuka memusuhi orang Kristen (puncak peristiwa penyalipan Kristus) barulah pemerintah Romawi melihat kekristenan tidak lagi sebagai sekte Yudaisme tetapi agama baru. Sejak saat itu keharusan menyembah kepada Kaisar pun akhirnya diberlakukan untuk orang-orang Kristen. Kepada mereka yang tidak patuh pada peraturan ini mendapat hukuman dan penganiayaan yang sangat berat.


2. Penganiayaan terhadap orang Kristen.
Salah satu bukti kesetiaan orang Kristen kepada Kristus ditunjukkan dengan secara setia menjalankan pengajaran Alkitab dan menolak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Alkitab. Karena sebab itulah orang-orang Kristen sering harus membayar harga yang mahal demi kepercayaan mereka kepada Kristus, antara lain adalah dengan penganiayaan.

Beberapa penyebab penganiayaan:
a. Karena orang Kristen menolak untuk menyembah Kaisar.
b. Karena orang Kristen dituduh melakukan hal-hal yang menentang kemanusiaan, mis. menolak menjadi tentara, mengajarkan tentang kehancuran dunia, membiarkan perpecahan keluarga, dll.
c. Karena orang Kristen dituduh mempraktekkan immoralitas dan kanibalisme, misalnya melakukan cium kudus, bermabuk-mabukan, dosa inses, makan darah dan daging manusia.


3. Hasil dari penganiayaan.

Memang ada banyak orang Kristen yang mati dalam penganiayaan dan pembunuhan, namun demikian jumlah orang Kristen tidak semakin berkurang malah semakin bertambah banyak.
a. Orang Kristen semakin berani. Sekalipun dianiaya mereka tetap mempertahankan iman mereka (mis. Surat Petrus).
b. Kekristenan semakin menyebar keluar dari Yerusalem, yaitu ke daerah-daerah sekitarnya, dan ke seluruh dunia.
c. Orang-orang Kristen semakin memberi pengaruh dalam kehidupan masyarakat, sehingga mereka betu-betul menjadi saksi yang hidup.




Artikel terkait :
- LAHIRNYA JEMAAT KRISTEN, di http://www.sarapanpagi.org/sejarah-gere ... .html#p6747

- GEREJA DI ANTIOKHIA, di http://www.sarapanpagi.org/sejarah-gere ... .html#p6748



Sumber :
- Bruce, F.F., DOKUMEN-DOKUMEN PERJANJIAN BARU, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993

- Chapman, Adina, PENGANTAR PERJANJIAN BARU, Bandung, Yayasan Kalam Hidup, 1995

- Drane, John, MEMAHAMI PERJANJIAN BARU, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996

- Green, Joel B., MEMAHAMI INJIL-INJIL DAN KISAH PARA RASUL, Jakarta, Persekutuan Pembaca Alkitab, 2005

- Merrill C. White, SURVEI PERJANJIAN BARU, Malang, Gandum Mas, 2000

- Packer, J.I. Tenney, Merrill C. White, Jr, William, DUNIA PERJANJIAN BARU, Malang, Gandum Mas, 1993

- ----------, ENSIKLOPEDI FAKTA ALKITAB I, Malang, Gandum Mas, 2001

- ----------, ENSIKLOPEDI FAKTA ALKITAB II, Malang, Gandum Mas, 2001

- Stambaugh, John. Balch, David, DUNIA SOSIAL KEKRISTENAN MULA-MULA, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997

- Tjandra, Dr. Lukas, LATAR BELAKANG PERJANJIAN BARU III, Malang, SAAT, 1999



Kamis, Maret 05, 2020

MENGENAL YESUS


Mencari Realitas Tertinggi memunculkan ego yang palsu, sebab wacana intelektual tidak semata-mata dapat memberikan solusi dalam “kelelahan rohani” mencari-menemukan-bertambah, berbalik-bergulir-dan kembali.
Maklumat malaikat, membuat saya tertawa dalam kebodohan diri : "Mengapa kamu mencari Dia yang hidup. diantara orang mati?" (Lukas 24:5). “Di manakah engkau ketika Aku meletakkan dasar bumi? Ceritakanlah, kalau engkau mempunyai pengertian!” (Ayub 38:4)
Kita yang bertambah-ataukah Kristus yang berkurang??
People tend to believe what they want to believe

MENGENAL YESUS

I. Tujuh Catatan  Bagi Ajaran Sang Guru

Di abad pertama, dari satu dusun kecil di Nazaret, tampil seorang laki-laki berumur 30 tahun. Ia anak dari seorang tukang kayu yang bernama Yusuf. Namun dilahirkan oleh Maria yang masih perawan, lewat sebuah proses kehamilan non-benih-biologis yang teramat rumit.

Perawakan fisiknya tidak diketahui, namun "perawakan hatinya" dilukiskan secara penuh. Kepadanya diberi satu nama dan sejumlah gelar yang asing bagi telinga manusia. Diberikan bukan oleh orang tuanya, melainkan oleh seorang mahluk dari alam lain yang amat berwibawa. Anak laki-laki ini tumbuh tanpa mendapat pendidikan dari guru-agama manapun. Guru Besar Gamaliel tidak mengenalnya. Namun tiba-tiba dan sekaligus Ia tampil sebagai Maha-Guru dan Dokter spesialis ilmu kehidupan yang paling ulung. Tak ada penyakit yang tak dapat
disembuhkannya. Ia hanya mengajar dan berpraktek dalam kurun waktu 3 tahun. Spiritual, moral dan etika tertinggi adalah topiknya. Namun ia amat dibenci, dimata-matai, dijebaki, sampai dikhianati. Dan akhimya Ia dinyatakan bersalah walau tanpa diadili dan tanpa bukti.

Ia diperlakukan sebagai penjahat terbesar, dianiayai, dihukum mati dengan penyaliban, bukan karena apa (yang dilakukan), tetapi karena SIAPA DIA. Namanya: YESUS!

Catatan Satu
Socrates mengajar selama 40 tahun.
Plato 50 tahun.
Aristoteles 40 tahun.
Namun Yesus hanya 3 tahun!

AjaranNya dalam, namun sederhana, untuk orang-orang sederhana.
Apa yang diwariskan Yesus kedunia selama pelayanan 3 tahun itu melewati apa yang dapat diwariskan seluruh filsuf dan guru-guru terbesar dijadikan satu disepanjang abad. Fakta kecil ini sekaligus sudah menempatkan Yesus dalam jajaran Maha-Guru Terbesar.

Catatan Dua
Yesus menyampaikan ajaranNya kepada manusia. Lalu ditulis dan dibukukan dalam sebuah kitab yang sakral dan berwibawa. Yesus sendiri tidak menulis ajaranNya, walau la cakap menulis. Masa pelayananNya didunia amat singkat, dan Dia tidak akan menghabiskan waktuNya untuk menulis. Ia bahkan tidak perlu mengawasi penulisan, atau menyuruh orang-lain untuk menuliskan ajaran-Nya. Bukankah itu aneh? Sama sekali tidak! Alasannya sangat mendasar. AjaranNya yang disebut Injil (yaitu "Kabar Baik" , penyelamatan bagi segenap bangsa) itu terlalu berwibawa untuk bisa didiamkan dan dibendung. Yesus tahu Injil akan ditulis oleh murid¬muridNya kelak SETELAH mereka (dan calon-calon pembacanya) dibukakan mata-batinnya oleh Roh Kudus (Yohanes14:26; 16: 12, 13; 1 Korintus 2: 13). Dan itulah yang terjadi! AjaranNya dibukukan, dan telah memberkati ber miliar hati manusia disepanjang zaman. Kitab yang memberi rahmat ini telah menjadi bacaan renungan dan kupasan yang paling luas diseluruh muka bumi. Kini telah diterjemahkan kedalam 1200 bahasa/ dialek dunia. Suatu prestasi tiada tanding!
Catatan Tiga
Ajaran yang ter mulia tidak akan ada nilainya, bilamana sipengajarnya sendiri tidak berperilaku mulia seperti yang diajarkan. Tetapi Yesus bukan hanya mengajar, melainkan sekaligus mencontohkannya- dalam karakter-karakter, perilaku dan karyaNya. Apa yang keluar dari mulutNya, itu yang diwujudkanNya. Bahkan apa yang terucapkan untuk masa mendatang, itupun terjadi tanpa kecuali! Itu yang disebut orang sebagai pe-nubuat terhadap hal-hal yang akan datang! Keselarasan antara ajaran dan perilaku, antara ucapan dan perbuatan, antara nubuat dan penggenapannya, sungguh merupakan sebuah kesaksian-diri Yesus yang mustahil dapat diduplikatkan Guru lainnya.

Catatan Empat
Setiap kali Yesus muncul mengajar secara terbuka, Ia otomatis menarik perhatian ribuan orang yang datang berhimpun, berjejal-jejal untuk mendengar pengajaranNya. Tidak ada panitia-panitia-an yang dibentuk untuk menarik masa. Tidak perlu alat-bantu semisal sound system untuk menembuskan suaraNya hingga ketelinga barisan paling belakang.

Ia melakukannya secara solo! Ia bahkan tidak memerlukan bendahara dan seksi-konsumsi ketika Ia sendiri menggelar kan sebuah perjamuan spektakuler kepada 5.000 orang laki-laki dewasa (belum termasuk perempuan dan anak-anak) yang tengah lelah dan kelaparan. Setiap hari, selama 1000-an hari, Ia mengajar dan berkarya non-stop, termasuk karya-karya mujizat yang "mustahil" bagi mata dan otak manusia. Dari pagi hingga malam, dari Galilea hingga Yudea, Yesus berjalan kaki berkeliling dari kota kekota dan dari desa kedesa sambil mengajar (Lukas 13:22). Ia menjelajahi seluruh pelosok untuK mencari dan menyelamatkan "domba-dombaNya" (kita-kita) yang tersesat dan yang hilang. Ia berkata tentang diriNya selaku Anak Manusia yang selalu melayani walau tanpa fasilitas fisik apapun: "Serigala mempunyai liang, dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya." (Matius 8:20). Siapa yang menyamaiNya?


Catatan Lima
Yesus bukan mengajar dan berkotbah seperti Guru-agama dan ahli Taurat, namun berkata-kata dalam kepenuhan kuasa. Inilah yang disaksikan dalam Injil:

"Takjublah orang banyak itu mendengar pengajaranNya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka" (Matius 7:28-29).

"Mereka takjub .... sebab perkataanNya penuh kuasa" (Lukas 4:32).

Suatu ketika para penjaga Bait Allah diperintahkan untuk menangkap Yesus. Tetapi mereka ternyata pulang dengan tangan hampa, bukan karena tidak bertemu dengan Yesus, atau gagal membekukNya. Mereka ditanyai oleh para pemimpin yang memberi perintah penangkapan: "Mengapa kamu tidak membawa Dia?". Dan para penjaga menjawabnya:

"Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!" (Yohanes 7:46). Ya, setiap perkataan Yesus adalah wibawa tersendiri. Sekalipun Ia sering dihadapkan dengan banyak pertanyaan sulit dan penuh jebakan dari musuh-musuhNya, namun tak satupun itu dijawab dengan ragu, kabur, menanti-nanti, keliru, atau menyusulkan koreksi. Ia tidak menunggu wahyu baru bisa menjawab. Setiap perkataanNya adalah total-wahyu, disetiap waktu. Tidak ada yang bertele-tele, mubazir, harus diperbaiki atau digantikan. Semuanya menakjubkan para pendengarNya. Sekali kata-kata keluar dari mulutNya, itulah INJIL-Nya yang kekal! Ia berkata dengan kuasa:
"Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataanKu tidak akan berlalu" (Marrkus 13:31).


Catatan Enam
Ajaran Yesus yang terbesar adalah ajaran kasih. Kasih tingkat-tinggi, vertikal dan horizontal, universal, dan cross-emotional. Mengasihi Tuhan, sesama manusia, bahkan musuh-musuh yang menyakitkan: "Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu" (Matius 5:44). Dan Dia pulalah yang membuktikan perbuatan kasih tingkat tertinggi kepada manusia. Ini dirangkumkan Yesus dalam istilahNya sebagai Gembala yang mengorbankan nyawa bagi domba-dombaNya:

''Aku memberikan nyawaKu bagi domba-domba Ku .... Aku memberikan nyawaKu untuk menerimanya kembali" (Yohanes 10:17).

"Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya, (dan) kamu adalah sahabatKu." (Yohanes 15: 13).

Dan sejarah mencatat bahwa Yesus benar-benar memberikan nyawaNya diatas kayu salib demi manusia, dengan disaksikan oleh puluhan ribu saksi mata.

Memang Tuhan dari agama mana saja dapat mengklaim diriNya maha pengasih dan penyayang. Namun Tuhan manakah yang pernah membuktikan diriNya berkorban bagi umatNya? Hanya Yesus yang menyodorkan satu pembuktian antara ajaran kasihNya dengan perbuatanNya. Itulah pengorbanan nyawaNya diatas kayu SALIB.


Catatan Tujuh
Apa yang dapat dilakukan seseorang yang sedang dieksekusi dengan siksaan yang paling kejam? Ia dicambuk hingga luka-luka terkoyak disekujur badanNya. Sebuah anyaman mahkota-duri "dibenamkan" kepada kepalaNya, dan kepala itu dipukul dengan sebatang kayu. Kemudian Ia diserahkan kepada masa yang memperlakukan Dia semau-maunya. Sambil didera, Ia dipaksa jalan sembari memikul sebuah kayu salib berat hingga kebukit Tengkorak. Ia akhirnya tak kuat meneruskannya lagi, lalu terjatuh ditengah jalan .... Dibukit Tengkorak itulah, Dia disalibkan kekayu balok yang tadinya dipikulNya. Caranya? Dengan menghunjamkan paku-paku ukuran 6 inci kepada' kedua kaki dan pergelangan tanganNya! Ketika kayu salib itu ditegakkan, maka tergantunglah Ia dalam keadaan luka parah, bercucuran darah, mengerang kesakitan, megap-megap kehausan dan kekurangan oksigen!


Produktif Sampai Mati

Di saat-saat terakhir pelepasan nyawa-Nya seperti itu, apakah orang tersebut masih peduli akan dunia, dan mampu menyelamatkan manusia? Mungkin itu hanya ada dalam mimpi saja. Namun, diatas kayu salib itulah, orang yang bernama YESUS, justru sempat memecahkan recor-dunia, mengukir sebuah moral dan katyanya yang terbesar dalam sejarah!


Lihat, seluruh masa telah kerasukan roh jahat untuk mengenyahkan Yesus. Begitu sengitnya kebencian orang-orang Yahudi akan Yesus sehingga lebih memilih bersumpah melaknati diri mereka sendiri ketimbang melepaskan Yesus dari hukuman salib. Mereka berteriak: "Salibkan Dia, salibkan Dia ... Biarlah darahNya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami". Kayu salib yang setia tidak bisa bicara, namun Yesus yang tersalib menyaksikan diriNya dengan satu moral, ajaran-pengampunan, yang tak 'terhapuskan oleh sejarah. Ia berdoa kepada Sang Bapa, Allah disorga:

"Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." (Lukas 23:34)

Lebih dari itu - berjuang ditengah kesakitan dan kesulitan bernafas yang sangat kritis sesaat sebelum nyawaNya tercabut- Yesus tetap produktif menyelamatkan seorang penjahat yang juga tersalib disampingNya. Sipenjahat ini menyesali dosanya. Ia menoleh dan bertobat kepada Yesus sambil memohon: "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang (kelak) sebagai Raja." (Lukas 23:42) Yesus dalam keadaan sekarat didetik-detik terakhir, masih peduli dan produktif sepenuhnya untuk menjadikan diriNya sosok Imanuel yang terpercaya bagi manusia, yaitu sosok "Allah menyertai kita". Ia berkata dengan otoritas ilahi:

"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan bersama-sama dengan Aku didalam Firdaus. " (Lukas 23:43)

Ini bukan sebuah janji moga-moga, bukan juga janji kelak-kelak, bahkan bukan janji 'boleh-boleh saja'. Tetapi janji kepastian, kini, hari ini, 'engkau ber-sama-sama dengan Aku'.

II. Kenali Yang Benar, Maka Engkau Tahu Yang Palsu

Injil sepenuhnya mengangkat isyu-isyu kehidupan manusia yang super komplex dan kontroversial, sejak 2000 tahun yang lalu. Namun mengherankan bahwa tidak satupun dari pesan-pesan pengajaranNya itu menjadi kuno, atau tidak aktuil lewat waktu, apalagi melisut dan menghilang! Sekalipun ada sejumlah kalimat Yesus yang tidak mudah dimengerti, namun tidak ada kalimat-Nya yang harus "diatur-atur dan dicocok-cocokkan" kedalam kehidupan modern yang pluralistis! Kita bahkan tahu bahwa cikal bakal demokrasi, humanisme dan universalisme dunia dewasa ini justru ter-inspirasi dan berasal dari pesan-pesan Yesus itulah.

Dewasa ini banyak sekali orang yang belum pernah membaca Injil, namun asyik menekuni daftar dari sejumlah ayat-ayat rujukan yang mengkritik Injil Yesus. Para pengkritik ini bahkan berani mengambil kesimpulan-mati bahwa Injil itu kuno, tidak relevan, tak bisa dipercaya, karena merupakan produk 2000-an tahun yang lalu. Tetapi nasihat terbaik buat mereka adalah, bacalah sendiri kitab Injil Yesus, agar dapat memahami kenapa berjuta-juta hati manusia - dalam kepahitan, hampa dan putus asa- telah dihibur, dipulihkan, dan dikuatkan oleh InjilNya. Betapa hati manusia yang "membatu" dan terbelenggu telah dicairkan dalam tangisan pertobatan yang mengharukan, yang diubahkan menjadi baru dan penuh pengharapan. Betapa kasih dan wibawa Yesus yang penuh jamahan perasaan telah menyentuh kerinduan manusia yang terdalam. Ajaran moral dan etika yang paling tinggi ini telah memberikan kedamaian hati, serta memancarkan hikmat bagi kehidupan, makna dan pemahaman akan kehakikian hidup yang sejati....

Ajaran Yesus tidak pernah layu atau diluar konteks zaman. Malahan sebentar lagi Anda akan menyaksikan hal yang sebaliknya. Yaitu bahwa kekuatan ajaranNya justru terletak pada kemurnian dan kehakikiannya, relevansi dan realitasnya ketika kebenaran makin dikaburkan oleh pelbagai ulah dan manipulasi manusia. Lihat betapa manusia dimana-mana terbelenggu dikuasai oleh kekerasan, kebencian dan dendam. Sedemikian tak berdayanya mereka untuk keluar dari belenggu kebencian itu sehingga hanya bisa dibebaskan dengan satu cara yang tidak mendatangkan "rasa bersalah" , yaitu meledakkannya dalam pembunuhan dengan mengatas-namakan Allah!


Licence to kill:
Namun Yesus tidak memberi peluang kepada siapapun untuk membunuh dengan alasan apapun. Makin si calon pembunuh mencari pembenaran diri, makin jauh ia tersesat. Dan tatkala ia membunuh dengan menyerukan dan mengatas-namakan Allah, maka ia telah tersesat sejauh-jauhnya!


Yesus sampai menyampaikan nubuatNya (ramalan suci) tentang hal ini, bahwa akan terjadi kebencian dan pembunuhan terhadap Dia dan para pengikutNya. Dan ternyata memang hal-hal itu terjadi, yang mana turut menandakan kebenaran ajaranNya. Ia berkata kepada murid-muridNya: "Mereka (dunia, orang fasik) membenci Aku tanpa alasan .... Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku daripada kamu .... Akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah" (Yohanes15:25, 18, 16:2).

Yesus tahu tatkala dunia tidak menemukan alasan untuk membenci diriNya, mereka akan menemukannya dengan pelbagai pendalihan dan rekayasa. Mereka akan mengkerdilkan peringkatNya, mengharamkan penebusanNya, atau beragresi dengan dalih defensi. Namun Yesus meluncurkan hukum keadilan baru untuk menggantikan hukum keadilan-pembalasan "mata ganti mata, gigi ganti gigi" (lex talionis). Suatu hukum yang paling efektif untuk mendamaikan semua pihak secara hakiki. Kita akan mengupasnya sebentar nanti.
Yesus menelanjangi pelbagai akal-akalan ego manusia dalam mengaburkan hukum-hukum Allah. Dia juga memurnikan hukum perzinahan, dan meluruskan poligami. Dia menetapkan kasih sebagai Hukum Yang Terutama yang paling mendasar, luhur, dan universal sifatnya. Hingga kini, tak ada ayat suci manapun yang dapat disejajarkan dengan keluhuran dan kehakikiannya.

AjaranNya adalah Firman (kalimatNya, perkataan-Nya), yang mengatasi semua ciptaan (langit dan bumi), kekekalan yang abadi, dan penuh otoritas ilahi. Ia berkata:
"Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataanKu tidak akan berlalu" (Markus 13:31).

Jadi, selidikilah terlebih dahulu ajaran Yesus secara benar. Pepatah mengatakan:
"Kenali yang benar, maka engkau tahu yang palsu". Jaman sekarang ini orang mudah sekali percaya pada slogan, simbol, dan penampilan yang terkemas aksi dan heroik, walau kosong tidak bersubstansi, apalagi hakiki.

III. Dari Manakah Yesus Datang?

Siapapun anda, bila anda menaruh perhatian kepada seseorang, anda akan bertanya:

"Darimana dia datang?" Makin besar sosok orang tersebut, makin getol Anda menanyakan asal-usulnya. Itulah yang terjadi pada Yesus. Maka Injil-pun melukiskan pernik-pernik silsilah dan asal-usul Yesus secara sangat khusus, agar manusia tidak keliru mengidentifikasikanNya.

Ketika orang makin heran akan pemunculan sosok Yesus yang luar biasa, mereka segera bertanya dan menduga-duga dari mana datangnya sosok ini. Ternyata orang-orang ini (dan kita-pun sampai sekarang ini) mengingkari sosokNya gara-gara asal¬kedatanganNya yang tidak memenuhi "kerangka harapan" mereka. Mereka segera memberi kesimpulan logis yang "pintar": "Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea" (Yohanes 7 :41).

Ketika Filipus menyampaikan kepada Natanael atas penemuannya:

"Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret".
Namun Natanael cuma berkata hambar, bahkan sinis:
"Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?" (Yohanes 1:44-45)

Yang pertama menolak Mesias datang dari lokasi Galilea, padahal Yesus memang dibesarkan dan datang dari Galilea! Yang kedua menerima fakta bahwa Yesus itu datang dari Nazaret (di Galilea), namun menolak gagasan bahwa dusun semacam itu dapat memunculkan sesuatu yang bersejarah! Jadi betapapun benarnya suatu fakta, manusia yang tidak mengharapkan fakta itu terjadi akan tetap sulit untuk dapat mempercayai fakta tersebut. People tend to believe what they want to believe (Manusia cenderung percaya yang dia mau percaya saja). Manusia hanya ingin melihat seorang Mesias itu datang dengan segala kebesaran duniawi: lahir diistana, duduk disinggasana, memerintah dan menghakimi dengan kuasa, dan dielu-elu dalam kemuliaan dunia ....

Namun justru Yesus menunjukkan diriNya dengan cara yang terbalik, tidak populer-tidak diharapkan oleh orang-orang yang memaksakan kebenarannya sendiri. Yesus justru datang dalam ke-hina-dina-an yang "paling tak masuk diakal manusia":

Ia lahir didesa yang tidak tercari dipeta-dunia, tidak di Yerusalem, tidak di Roma, tidak dipusat-pusat ekonomi, politik, sosial-religi, atau geografi.

Karena kemiskinan dan situasi politik, Ia terpaksa dilahirkan dikandang domba dan dibaringkan dipalungannya, karena tak ada akomodasi gratis lainnya diseluruh kota Daud di tanah Yudea. Namun Ia berkarya tanpa henti-hentinya, walau tanpa fasilitas. Yesus berkata tentang absennya fasilitas fisik bagi diriNya: "Serigala mempunyai liang, dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia (Yesus) tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya" (Matius 8:20).

Makin Dia berkarya, mengajar, melayani dan memulihkan kaumNya; makin Dia ditentang, dibenci, dipermalukan dan difitnah. Padahal sedikitpun Ia tak bersalah, tak berbahaya, kecuali sebaliknya bahwa Ia adalah sosok yang paling berjasa dan berguna bagi manusia dan kemanusiaan. Akhirnya, Dia dikhianati, ditangkap dan disiksa, dihukum mati tanpa pendamping apalagi pembela. Dia disalibkan dan mati. Dikubur bukan dalam kuburan-keluarga .... karena Dia sungguh tak punya apa-apa.Tetapi justru ke-hina-dinaan ini tidak menjadikan diriNya gagal dan kalah. Dia sukses!


Definisi sukses
Sebab sukses bukanlah didefinisikan dengan perolehan medali 3TA (tahta-harta-wanita) melainkan dengan tol
ak ukur menetapkan sasaran dan berhasil mencapainya, dan Yesus telah mencapai segenap sasaran untuk mana Ia datang ke dunia, yaitu : untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang, ... dengan memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang. Itulah sebabnya di atas kayu salib Ia berkata "Sudah selesai" (tetelestai) Mission accomplished!

Fakta bisa amat logis, namun Yesus menjungkir-balikkannya!

Semua persepsi manusia tentang asal dan cara kedatangan Yesus -seperti yang diharuskan manusia- tampaknya sangat meyakinkan, namun hanya sebatas sepihak dan secara lahiriah! Orang-orang Yahudi yang telah menanamkan kerangka "kebenaran-besi" mereka untuk ciri-ciri seorang Mesias, tidak menemukan hal itu dalam diri Yesus:

"Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapaNya kita kenal? Bagaimana Ia dapat berkata: Aku telah turun dari sorga?" (Yohanes6:42).


Fakta itu "fakta"
Kebenaran-sepihak adalah pembenaran-diri, dan itu telah membutakan hati mereka untuk menelaah "silsilah" Yesus sebagaimana yang Yesus persaksikan diri-Nya sendiri. Mati-matian memaksakan pandangan kita dari fakta-fakta kita, walau terkesan amat logis, bisa sangat menyesatkan.

Yesus tentu tahu sejarah-hidupNya di
bumi ini lebih dari pada siapapun. Namun tidak sekalipun Ia merujukkan asal-diriNya dari segi lahiriah. Bahkan Yesus selalu berusaha untuk mengkoreksi pikiran orang-orang yang terlanjur mengkaitkan jati-diril'[ya secara lahiriah. Misalnya, ketika seseorang mengabarkan kepada Yesus bahwa ibuNya dan saudara-saudaraNya sedang mencari Dia, maka Ia-pun meluruskan "persepsi logis" ini dengan bertanya-balik: "Siapa ibuKu? Dan siapa saudara-saudaraKu? (dan sambil menunjuk kearah murid-murid-Nya, Ia berkata) Ini ibuKu dan saudara-saudaraKu! Sebab siapapun yang melakukan kehendak BapaKu disorga, dialah saudaraKu laki-laki, dialah saudaraKu perempuan, dialah ibuKu" (Matius 12:48-50).

Alkitab selalu merujukkan diri Yesus yang asali-rohani, dan hampir-hampir tidak menyinggung asalnya yang lahiriah. Ketika orang-orang Farisi berkata bahwa Mesias itu anak (keturunan) Daud, maka Yesus menyempurnakan pandangan mereka:
"Jika demikian, bagaimana Daud oleh pimpinan Roh dapat menyebut Dia (Mesias) Tuannya? .. Jika Daud menyebut Dia Tuannya, bagaimana mungkin Ia anaknya pula?" (Matius 22:43,45, lihat penjelasan di yesus-kristus-tuan-dan-anak-daud-vt949.html#p2685 ). Dengan perkataan lain, Yesus meneguhkan bahwa Dia-lah Tuan atas segala raja dan nabi dan umat (lihat pula Yohanes13:13).

Memang Yesus dalam dimensi kemanusiaanNya mempunyai silsilah-fisik. Loqis! Ia anak manusia. Namun dalam hal itupun silsilahnya mengagetkan, karena Dialah satu-satunya yang tercatat bersilsilah lurus hingga kepada Adam dan Allah! Lebih jauh dari kelogisan itu, sesungguhnya Yesuspun tidak bersilsilah!

Dalam dimensi roh, Dia adalah Firman Allah (Kalimat Allah), yang telah ada pada awal-mulanya, bersama- sama dengan Allah, dalam keilahian Allah. (Yohanes 1:1, lihat artikel yesus-kristus-sang-firman-vt585.html ).

Dia-lah yang menyebutkan diriNya sebagai sosok yang tak berujung dan tak bersilsilah: "Aku adalah Alfa dan Omega (Yang Awal dan Yang Akhir), firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa" (Wahyu 1:8). Tidakkah wibawa kekekalan ini menghentakkan telinga kita? Ini akan dikupas lebih lanjut dalam bab VII (lihat juga artikel di yesus-kristus-adalah-allah-vt35.html#p1265 ).

Ada pengkritik naif yang menolak gen-surgawi Yesus karena alasan logis yang lain, yaitu jelas-jelas bahwa Yesus dan ibuNya, keduanya sama-sama perlu makan dan minum. Namun Yesus telah menyediakan jawabanNya bagi mereka. Suatu siang, ketika Yesus lapar, haus, dan lelah, Ia diajak oleh murid-muridNya untuk makan: "Rabi, makanlah." Akan tetapi lebih dari sekedar makan-rninum, Yesus menegaskan kepada mereka: "PadaKu ada makanan yang tidak kamu kenal. .. MakananKu ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaanNya" (Yohanes 4:31,32,34).

Jadi, pengajaran terbaik dari Yesus kepada para kritikus ini adalah bahwa bagiNya, makanan utama tidak diartikan sebagai roti dan ikan sehari-hari.


Percayalah!
Logika sejati tak akan pernah muncul bilamana Anda memperlakukan dan meng-otak-atik keberadaan Yesus hanya sebatas insani. Percayalah!.

Berita Gabriel yang "mustahil" , sehingga perlu diluruskan?

Seperti halnya setiap asal kehidupan, terlebih lagi pemunculan Yesus kedunia tidak bisa dicernakan oleh sains! KedatanganNya bukanlah hasil hubungan fisikal/ biologikal antar sepasang pria dan wanita. Allah tampaknya meminjam rahim seorang perawan Maria yang belum disentuh laki-laki, dan mengutus malaikat Gabriel untuk menyampaikan suatu berita yang "mustahil" kepadanya, dan juga kepada tunangannya, Yusuf, dengan pokok beritanya adalah sbb:

- Bahwa kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi Maria.
- Bahwa maria akan mengandung Roh Kudus
- Dan ia melahirkan seorang anak laki-laki
- Dan hendaklah Sang Anak dinamai YESUS
- Dan Anak ini akan disebut dengan tambahan 5 nama dan gelar lainnya, yaitu : Kudus, Anak Allah Yang Mahatinggi, Juruselamat, Kristus, dan Tuhan.

Berbohongkah Gabriel? Mungkinkah dan perlukah? Ataukah manusia yang justru tanpa sadar terperangkap dalam "pembohongan diri", karena ingin memaksakan kebenaran pandangannya sendiri? Tanda-tanda itu memang telah muncul secara riil. Sosok Gabriel telah dikaburkan dengan jati-diri yang lain, dan pesannya digeser dengan makna lain:

1. Mengaburkan sosok Roh Kudus menjadi sosok Gabriel (Jibril)

Kita jarang mendengar orang-orang menuduh Roh Allah atau malaikat berbohong. Namun kita banyak mendengar orang-orang yang menafsirkan Roh Kudus itu sebagai mahluk ciptaan, yaitu Gabriel (Jibril) atau bahkan sebagai manusia "nabi terakhir". Padahal diseluruh Alkitab -dalam kitab-kitabnya yang mana saja-selalu Roh Kudus atau Roh Allah itu, adalah Rohnya Allah sendiri yang bersifat kekal, dan yang ada sejak semula (Kejadian 1 :2). Amat sederhana untuk melihat bahwa Roh Kudus itu samasekali tak ada kaitan identitasnya dengan Gabriel! Jibril atau mahluk ciptaan lainnya. Bandingkan saja bagaimana Gabriel memperkenalkan dirinya dan bagaimana ia memperkenalkan Roh Kudus. Kepada Zakharia, ia berkata:
"Akulah Gabriel yang melayani Allah dan aku telah diutus (Nya) .... " (Lukas 1 : 19).

Sebaliknya, kepada Maria (yang sedang berada dihadapannya) ia berkata:

"Roh Kudus akan turun atasmu" (Lukas 1:35). Ia tidak berkata kepada Maria,
"Aku (Jibril), akan turun atasmu ".

Lebih jauh lagi, bilamana manusia yang tidak kenal Roh Allah itu tetap bersikukuh "men-jibrilkan" Roh Kudus, maka tentulah kandungan Maria itu adalah malaikat Jibril yang akan tinggal disana selama 9 bulan masa kehamilan. Maka dapatkah mahluk Jibril yang sama ("Roh Kudus") sekaligus masuk memenuhi Yohanes Pembaptis, dan bapaknya dan ibunya (yaitu Zakharia dan Elizabet), karena mereka inipun semuanya dipenuhi oleh Roh Kudus sebelum dan semasa Maria mengandung? (Lukas 1: 15, 41, 67). Bukankah keberadaan mahluk manapun tidak bisa Maha-Ada, serentak ada dimana-mana? Injil amat jelas mengatakan bahwa Roh Kudus akan diberikan Allah kepada setiap kita yang memintanya sebagai anak-anak Allah yang dikasihiNya (Lukas 11 : 13). Cukup satu Roh Kudus untuk semua orang!

"Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh." (1 Korintus 12:4). Namun adakah satu Jibril untuk semua?

Sesungguhnyalah, tidak ada satupun kitab suci didunia yang secara explisit menyamakan Gabriel/ Jibril itu dengan Roh Kudus. Tak ada Gabriel yang memperkenalkan dirinya sebagai Roh Kudus dan tak ada Roh Kudus yang mengklaim diriNya sebagai Gabriel. Malahan tak ada Gabriel yang memperkenalkan dirinya sendiri sebagai Gabriel selain di Alkitab (Lukas.l: 19). Jadi dari mana "orang-orang pintar" itu bisa tahu bahwa "dia adalah Roh Kudus", sementara untuk meyakini "dia adalah Gabriel sendiri" saja masih bermasalah. Sesungguhnyalah penyamaan kedua sosok yang amat berbeda itu hanyalah penafsiran yang dipaksakan manusia tertentu, yang tidak mengenal dan mengalami lawatan Roh Kudus. Roh jahat sangat berkepentingan untuk mengacaukan identitas RohNya Allah. Ia tidak mengingini manusia untuk berkenalan dengan Ilahi yang sejati, sebab disitulah terletak titik lemahnya.

Sekali keilahian Roh Kudus dapat dipatahkan maka hubunganNya dengan manusia bisa dialihkan menjadi hubungans esama makhluk saja, yaitu relasi antara manusia dan malaikat (atau setan yang berkedok malaikat). Meninggalkan manusia tetap terasingd ari Roh-Nya Allah justru mampu menyingkapkan kebenaran Allah dalam batinnya. Kebutaan rohani itulah inti keinginan roh-jahat.

Padahal Allah secara pribadi sangat mementingkan relasi diriNya dengan mahlukNya. Dia sampai menyebut diriNya "Bapa", dan memanggil manusia sebagi anak-anakNya! Dia juga menyebut diriNya Gembala yang menghimpun kawanan ternakNya dengan tanganNya, dan meletakkan anak-anak domba dipangkuanNya. Dia dalam RohNya malahan bersedia datang kepada umatNya dan diam bersama-sama dengan mereka (Yohanes 14:23, Yesaya 40:11, 11:13 dan lihat pembahasan selanjutnya pada bab XI : "Relasi Adalah Segalanya").


2. Pengaburan pesan Gabriel tentang "Anak Allah"

Sekalipun Gabriel berpesan kepada Maria dengan mengatas-namakan Allah bahwa ia akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, namun pada awalnya Maria tidak mampu memahami konsep ANAK diluar kerangka biologis. Ia bertanya:
"Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" (Lukas 1:34) Namun Gabriel segera mengkoreksi konsep ANAK seperti yang ada dibenak Maria yang harus bercirikan sentuhan sex/ biologis. Gabriel menjelaskan, "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus. Anak Allah. " (Lukas 1:35)

Sedemikian jelas dan sah-nya sebutan ini berasal dari Allah, namun kita masih menyaksikan bahwa istilah ini tetap dipermasalahkan oleh orang-orang yang merasa lebih mengetahui ketimbang Gabriel dan Maria sendiri. Mereka menyimpangkannya sbb.


a). "Anak Allah" itu dimaknakan dalam pengertian "Allah itu beranak".

Istilah "Anak Allah" ini disebutkan Gabriel sampai dua kali kepada Maria. Sebutan kedua disusulkan untuk mengkoreksi persepsi yang salah dari Maria, dan ternyata ia dapat menerima penjelasan ini, lalu menyerahkan konsepsi (pembuahan) ANAK untuk dikuasai sepenuhnya oleh Allah yang Mahatinggi. Maka terjadilah mujizat yang terbesar dalam sejarah kemanusiaan, yaitu inkarnasi Allah menjadi anak-manusia, yaitu istilah teologis untuk masuknya keilahian dalam ujud dan kehidupan kemanusiaan.

Gabriel dan Maria jelas tidak berkata salah dan menangkap salah tentang istilah "Anak Allah" yang disebut Kudus! Pengertian kudus itu sendiri sudah memustahilkan gagasan yang tidak kudus, yaitu bahwa "Allah itu beranak karena Ia beristeri", seperti yang sering dituduhkan pengkritik. Maria dan Gabriel hanya memahami Sang Anak dari konteks Roh Kudus. Mereka mustahil merupakan nara-sumber bagi "keAnak-an" Yesus dalam konteks "Allah beranak karena Ia beristeri" . Mustahil pula itu merupakan akal-akalan dari para-pengikut Yesus yang justru tidak pernah berurusan dengan Maria dalam kapasitas "trinitas-Maria"? Bukankah dengan memasukkan "sang isteri" (Maria) sebagai ilahi bersama-sama Allah dan Anak. para peng kritik sesungguhnya telah menciptakan sebuah "trinitas-Maria"?

Jadi, dalam kesemrawutan tuduhan yang tidak jernih ini, kita justru ingin bertanya balik kepada para penuduh, "Allah manakah yang dipercaya telah beranak karena Ia beristeri?" Allah Kristianitas? Allah Yudaisme? Tidak ada Allah dan tak ada penganutNya yang berpaham demikian, kecuali mungkin dongeng yang pernah muncul dalam mitos Mesir!

Siapa nara-sumber konsep "trinitas Maria"?
Jadi, siapakah yang meniup konsep “Allah itu beristeri dan beranak?” , suatu konsep “trinitas-maria” yang tidak pernah eksis, tersurat maupun tersirat, dalam Injil manapun!

b. Sang Anak Allah dirancukan dengan anak-Allah

Lebih jauh, kita masih melihat betapa peng kritik mencoba mengaburkan istilah Anak Allah menjadi pengertian insani saja, bukan rohani. Mereka mendalihkan itu sebagai istilah Alkitab yang dikenakan kepada semua orang-orang yang percaya kepada Allah, dan dinamakan anak-anak Allah! Namun mereka sungguh memperlihatkan ketidak-pahaman akan bahasa Alkitab, lalu tersesat sendiri, karena yang dapat disebut "Anak Allah" itu adalah satu-satunya, yaitu singkatan dari "Anak Tunggal Allah" (Yohanes 1:14, 18; 3: 16), atau yang sering disingkat menjadi "Anak" saja. Ini sama halnya dengan istilah "Bapa", Allah surgawi, yang tentu saja bukan "bapa" dalam pengertian kamus dunia, yang bisa banyak jumlahnya. Anak Allah adalah Yesus seorang! Mereka yang mengkritik seharusnya tidak menutup-nutupi fakta kenapa Allah, Yesus, Gabriel, Nabi, Murid, musuh-musuh Yesus -manusia maupun setan-semuanya tanpa kecuali, justru mengakui bahwa Yesus itu Anak Allah! (lihat Matius 17:5; Markus. 14:61, 62; Yohanes 1:34 dll. banyak sekali.), Disini hanya akan dikutib satu teriakan setan yang terpaksa harus mengakui jati-diri Yesus. Dimanapun, pengakuan pihak musuh yang paling musuh itulah yang tak bisa ditolak lagi oleh mitra dan sekondannya: "Bilamana roh-roh jahat melihat Dia, mereka jatuh tersungkur dihadapanNya dan berteriak: Engkau Anak Allah" (Markus 3: 11).


c). Anak Allah di-inferior-kan terhadap Adam

Para sinis sangat terobsesi untuk mem-bonsai kebesaran Yesus, untuk memaksa Dia menjadi mutlak anak-manusia dan tidak lebih. Dikatakan mereka bahwa mujizat kelahiran Yesus yang "tanpa ayah" itu bukanlah barang baru, tak ada yang khusus ajaib yang harus menempatkan Dia sebagai Anak Allah. BUKTINYA, katanya lagi, Adam dan Hawa justru tercipta lebih ajaib karena yang satu lahir "tanpa ayah dan ibu", dan yang lain lahir dari tulang rusuk Adam saja, namun keduanyapun tetap anak-manusia saja!


Inkarnasi Allah diisyukan sebagai “lahir tanpa ayah”

Lihatlah, betapa permasalahan inti telah sengaja digeser pada kedangkalan. Suatu rahmat SORGAWI yang terbesar dari “kelahiran” Tuhan ke dalam ujud kehidupan manusia demi menyelamatkannya, telah digeser menjadi unsur INSANI saja. Suatu Injil-Kabar-Baik, kini digeser menjadi “kabar aneh” saja, tanpa signifikasi bagi faedah/kemaslahatan umat, yaitu kabar tentang “lahirnya seorang nabi tanpa ayah”.


Mujizat yang total bermuatan rohani, dialihkan menjadi mujizat jasmani. Dan sosok Yesus yang surgawi sekaligus diredupkan dibawah Adam sebagai mahluk yang duniawi. Namun maaf, kita hanya ingin menempatkan makna kelahiran Yesus sebesar sebagaimana yang dimaksudkan Alkitab. Kita tidak bermaksud MENGKATROL status Yesus menjadi lain daripada apa yang dinyatakan Yesus sendiri! Kita sungguh tidak dapat menjadikan Dia Anak Allah dari yang non-Anak Allah semata-mata karena bobot keajaibanNya. Alkitablah yang mengungkap bahwa Ia dalam hakekat dan kekekalan Allah, ada bersama-sama dengan Allah sejak kapanpun (Yohanes 1: 1). Dan ketika Ia di-inkarnasikan ("lahir") kebumi. Ia yang Allah itu disebut sebagai Anak Allah (Lukas l:35, Yohanes 1:14). Berbeda dengan apapun dan siapapun, kelahiran Yesus itu sungguh bukan kelahiran yang "muatanNya" berasal dari fisik dunia. Ia tidak diciptakan dari debu tanah seperti Adam. Juga tidak dari tulang dunia seperti Hawa. Dia tidak membawa gen debu, gen tulang, atau bahkan gen ibu-Nya! Yesus membeberkan kepada semua, dari mana Anda, saya, dan Dia berasal: "Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini ... Aku keluar dan datang dari Allah"! (Yohanes 8:23, 42).


IV. Warta Malaikat Gabriel Yang Otentik Tentang Yesus

Aneh tapi benar, kedatangan dan kelahiran Yesss kedunia telah mengundang begitu banyak jenis saksi mata. Dan para undangan ini tidak satupun diundang secara tidak-khusus atau diluar tuntunan Allah dan kuasaNya. Mereka berturut-turut adalah Gabriel dan diteruskan kepada Maria, Yusuf, Elisabet dan suaminya imam Zakharia. Juga dipersaksikan oleh sejumlah besar malaikat bala tentara sorga, dan diteruskan kepada para gembala. Bahkan Allah lewat kuasaNya menuntun orang-orang asing, yaitu para majus dari negeri Timur untuk melihat sendiri keberadaan AnakNya. Tidak cukup dengan itu, Roh Kudus masih melibatkan Simeon dan nabi perempuan Hana yang sudah amat lanjut usianya untuk turut menjadi saksi mata tentang Sang Anak. Ini memberi kita banyak bahan untuk menyelidiki dan memahami sosok Yesus seperti yang mereka saksikan. Cukuplah disini kita membahasnya dari nara-sumber yang paling kaya, yaitu dari Gabriel, utusan Allah yang khusus untuk berbicara tentang kedatangan Sang Anak. Sekarang mari kita simak ke 6 nama Isebutan yang diberikan Allah kepada Anak ini lewat Gabriel, agar dapat menjawab dengan yakin dari mana datangnya Yesus secara asali. Keenam nama/ sebutan bagi Anak ini samasekali bukan bikinan dan akal-akalan manusia. Bukan pula pemberian dari bapak-ibu atau paman dan kakek. Semuanya justru berunsurkan keilahian, yang diberikan oleh Allah sendiri, disampaikan oleh Gabriel, dikenakan kepada Sang Anak, disaat menjelang dan pada hari kelahiranNya yang ajaib! Tidak seperti manusia, Allah tidak main-main dengan harapan bagi setiap nama/gelar yang berasal dari mulutNya. Itu bukan nama yang diseyogyakan Allah mudah-mudahan akan terjadi, melainkan akan sangat konsekwen mencerminkan hakekat, keberadaan, dan fungsinya untuk apa seseorang itu dinamakan.



1. Malaikat menyampaikan nama Yesus.

Tidak ada nama manusia yang diberikan Allah langsung kepada kedua orang tua sang anak. Namun nama Yesus telah diberikan Allah lewat Gabriel diteruskan kepada Maria: "Hendaklah engkau menamai Dia Yesus". Dan diulangi sekali lagi kepada Yusuf tunangannya, "dan engkau akan menamakan Dia Yesus" (Luk. 1:31, Mat.1:21). Nama ini berarti "Allah Juru Selamat"; jelas suatu nama keilahian yang berperan bagi penyelamatan umat manusia.

2. Malaikat menyampaikan gelar Kudus (Yang Kudus)

Ini bukan kudus dalam istilah etika umum, semacam saleh, bersih, takut akan Allah, dekat dengan Allah dll. Melainkan kudusnya Allah, Sang Kudus, suatu sifat yang penuh misteri, tanpa dosa dan tanpa berbuat dosa, yang hanya berasal dari Zatnya Allah sendiri. Lebih jauh, Sang Kudus sebagai pusat kekudusan juga mampu dan siap mengkuduskan orang-orang yang dengan sepenuh hatinya meminta pengampunan kepadaNya. Gelar dengan hakekat ini tidak pernah bisa disandangkan kepada manusia. Hanya Tuhanlah yang kudus dari diriNya, dan tak satupun manusia itu kudus. "Kekudusan" manusia hanyalah perolehan, dalam batas-batas tertentu.

3. Malaikat menyebutNya Juru Selamat

Gelar ini isampaikan dua kali, kepada Yusuf dan kepada para gembala:
"karena Dia-lah yang akan menyelamatkan umatNya dari dosa mereka"
"Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat" (Matius 1:21, Lukas 2: 11). Suatu gelar yang paralel menegaskan ulang peran dan makna Yesus, yaitu 'Allah Juruselamat'. (lihat artikel nama-yesus-vt52.html#p115 )


Gelar ini menantang setiap orang Yahudi (maupun kita semua) untuk bertanya :
"Apakah seseorang yang 'kurang dari Allah' dapat menyelamatkan umatNya?"

4. Malaikat menyampaikan gelar Kristus (yaitu Sang Mesias, atau Al-Masih)

yang telah dinubuatkan Musa dan para-nabi tentang kedatanganNya sebagai Raja Penyelamat. Bila mesias-mesias adalah para raja dan imam yang secara tradisionil dimeteraikan dengan pengurapan minyak suci, maka Sang Mesias secara revolusioner diurapi dengan Roh Kudus (Lukas 4: 18, 21). Bila para nabi membaptis dengan air, Dia akan membaptis umatNya dengan Roh Kudus (Yohanes 1:33). Didalam diri Kristus (Mesias atau Al-Masih), Roh Kudus berada dan berkarya penuh, dan menjadi Pemimpin Agung bagi umatNya (Matius 23:10).

5. Malaikat menyebutNya Tuhan

Gelar Rajawi semesta alam, didunia dan diakhirat, dengan kuasa yang tidak terbatas dan kekal, karena "KerajaanNya tidak akan berkesudahan" (Lukas 1:33). Secara ajaib, ini telah pula dirujukkan dalam kitab Yesaya 9:5, dan 6, bagi satu sosok ANAK yang mempunyai suatu "lambang pemerintahan" diatas bahuNya .... dengan kekuasaan besar, damai sejahtera yang tidak berkesudahan ... dengan keadilan dan kebenaran sampai selama-lamanya ....

Kedudukan Yesus sebagai Tuhan atas semesta alam juga diteguhkan oleh Dia sendiri (Yohanes 13:13, Matius 28:18). Dengan otoritas itulah Ia menggenapi diriNya menjadi Immanuel yang mampu menjanjikan:
"Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir jaman" (Matius 28:20).

6. Malaikat menyebutNya sebagai Anak Allah Yang Maha Tinggi.

Istilah "Anak Allah" ini disebutkan sampai 2x oleh Gabriel kepada Maria. Maksudnya amat jelas, yaitu untuk meluruskan pengertian Maria yang tadinya masih berpandangan tentang konsep anak sebagai pembuahan sex-biologis.

"Anak Allah" yang dimaksud samasekali bukan istilah insani, melainkan total rohaniah. Istilah ini tepat karena memang terjadi suatu "kelahiran" (ke-anakan), dimana Firman atau Kalimat Allah telah berinkarnasi menjadi manusia dan diam diantara kita (Yohanes 1:14). Sebagai Anak Allah, Ia berkarya untuk menyatakan diri Allah sedemikian lengkap dan sempurnanya sehingga Allah yang tadinya tidak dapat dipahami, menjadi dapat dipahami dan diikuti (dalam keteladanan dan intimitas). Itu sebabnya Yesus dapat berkata: "Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa" (Yohanes 14:9).



Gelar-gelar Lain
Dibandingkan dengan siapapun didunia ini, Yesus adalah seseorang yang mendapatkan gelar dan sebutan jabatan yang paling banyak sepanjang sejarah manusia. Tak kurang dari 40 gelar dan sebutan yang sangat spesifik, dan 40 gelar dan sebutan jabatan lainnya yang telah disandangkan oleh Alkitab kepada Yesus. Diantaranya adalah nama Imanuel. Ini suatu nama keilahian yang berjajaran dengan sebutan Yesus, yang berarti "Allah Menyertai Kita ". Pemberian nama Imanuel secara tepat telah dinubuatkan oleh nabi Yesaya 700 tahun sebelumnya, "Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: sesungguhnya seorang perempuan muda (gadis perawan) mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel" (Yesaya 7: 14), dan kini dipenuhi dalam Injil Matius 1:23. Nama ini mengungkapkan sifat keilahian yang merujuk kepada keberadaan, kedekatan, dan peran aktif Yesus dalam sejarah manusia disepanjang waktu.

Beberapa nama/ gelar yang lain dari Yesus adalah:

Yang Awal dan Yang Akhir,
Firman Allah,
Bapa Yang Kekal,
Pembela yang Adil,
Penasihat Ajaib,
Terang Dunia,
Kebenaran,
Kebangkitan Dan Hidup,
Allah Yang Perkasa,
Anak Domba Allah,
Raja Kemuliaan,
Raja Damai dll.

Tak ada gen-dunia yang sanggup memikul gelar-gelar kekekalan seperti ini. Alkitab mengajarkan bahwa perjalanan gen dunia adalah "dari debu kembali kedebu". Namun Yesus yang gen aslinya kekal dari atas, akan kembali keatas lagi secara kekal. Dan itu pula yang membedakan para nabi lainnya dengan diriNya: kubur lainnya berisi jasadnya, namun kubur Yesus kosong (!) karena Ia telah bangkit dari kematian dan naik kesorga secara langsung, bukan menanti-nanti "dialam barzakh" atau firdaus seperti pada para nabi laianya, Satu hari kelak, Yesus akan datang lagi dari sorga, dan kembali kebumi sebagai Hakim Dunia. Ketika itu orang-orang semacam Farisi yang menyebut dirinya- Yesus sekedar sebagai "anak Daud" dan bukan "Tuannya Daud" akan terbalik menjadi terdakwa.

Kepada mereka setidaknya akan dimintakan pertanggungannya, "Kenapa kalian mati-matian mengharuskan Aku bukan Tuhan dan membonsai diriKu dibawah Adam, Abraham dan Musa? Padahal seluruh otoritas-ilahi membenarkan Aku Mesias, Tuhan, Anak Allah Yang Maha Tinggi?"


Entri yang Diunggulkan

Prayer In The Morning

  Prayer To God in the Morning Psalm 143:8 New International Version (NIV) 8  Let the morning bring me word of your unfailin...