Sabtu, Juni 10, 2017

Eksposisi Markus 1:40

Eksposisi Markus 1:40


Markus 1:40-45

Yesus menyembuhkan seorang yang sakit kusta
1:40 Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut q  di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya: "Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku." 1:41 Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: "Aku mau, jadilah engkau tahir."1:42 Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir. 1:43 Segera Ia menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras: 1:44"Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapapun, r  tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam s  dan persembahkanlah untuk pentahiranmu t  persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka."1:45 Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat u  yang sepi; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru. v 


“Belas Kasihan Memenangkan Jiwa”
Dian Vivian Manumpil, SS

“Berilah Rasa Dalam Pelayananmu”

Markus 1:40
TB (1974) ©
SABDAweb
Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut q  di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya: "Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku."
AYT
Lalu, ada seseorang yang sakit kusta datang kepada Yesus. Ia memohon dan berlutut kepada-Nya dan berkata, "Jika Engkau mau, Engkau dapat menahirkan aku."
TL (1954) ©
SABDAweb
Maka datanglah kepada Yesus seorang yang kena bala zaraat memohon sambil bertelut ke hadapan-Nya, katanya, "Jikalau kiranya Rabbi kehendaki, niscaya Rabbi dapat mentahirkan hamba."
BIS (1985) ©
ABDAwe
Seorang yang berpenyakit kulit yang mengerikan datang kepada Yesus. Orang itu berlutut, dan berkata, "Kalau Bapak mau, Bapak dapat menyembuhkan saya."
Markus 1:41
TB (1974) ©
SABDAweb
Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: "Aku mau, jadilah engkau tahir."
AYT
Tergerak oleh rasa belas kasihan, Yesus mengulurkan tangan-Nya dan menyentuh orang itu sambil berkata, "Aku mau. Jadilah tahir!
TL (1954) ©
Maka tergeraklah hati-Nya dengan kasihan, lalu diulurkan-Nya tangan-Nya, dijamah-Nya dia serta berkata kepadanya, "Aku kehendaki, jadilah engkau tahir!"
BIS (1985) ©
Yesus kasihan kepada orang itu. Jadi, Ia menjamah orang itu sambil berkata, "Aku mau, sembuhlah!"
MILT (2008)
Dan dengan digerakkan oleh belas kasihan, seraya mengulurkan tangan, YESUS menjamahnya dan berkata kepadanya, "Aku mau, biarlah engkau ditahirkan!"
Shellabear 2000 (2000)
Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan. Isa pun mengulurkan tangan-Nya dan menjamah orang itu lalu bersabda, “Aku menghendakinya, tahirlah!”

Belas kasihan sering kali merupakan terjemahan dari kata Ibrani ra·khamimʹ dan kata Yunani eʹle·os (kata kerja, e·le·eʹo). Dengan memeriksa kata-kata ini dan penggunaannya, kita dibantu untuk mendapatkan makna dan nuansa artinya yang lengkap. Kata kerja Ibrani ra·khamʹ didefinisikan sebagai ”bercahaya, mempunyai perasaan hangat karena emosi yang lembut; . . . beriba hati”. (A Hebrew and Chaldee Lexicon, diedit oleh B. Davies, 1957, hlm. 590) Menurut seorang leksikograf bernama Gesenius, ”Gagasan utamanya tampaknya terletak pada tindakan menyayangi, menenteramkan, dan pada keadaan emosi yang lembut.” (A Hebrew and English Lexicon of the Old Testament, diterjemahkan oleh E. Robinson, 1836, hlm. 939) Kata ini berkaitan erat dengan kata untuk ”rahim” atau dapat memaksudkan ”usus besar”, yang terpengaruh sewaktu seseorang mempunyai perasaan yang hangat dan simpati yang lembut atau rasa kasihan.—Bdk. Yes 63:15, 16; Yer 31:20. Kata Yunani yang diterjemahkan “belas kasihan di sini berarti “merasa simpatik, mengasihani, digerakkan oleh kemurahan hati”. Ini tidak ditemukan di dalam bahasa Yunani klasik. Ini tidak ditemukan di dalam Septuaginta , sesungguhnya, ini adalah kata ciptaan para penulis Injil (Matius, Markus, dan Lukas). Mereka tidak menemukan kata tersebut di dalam seluruh tata bahasa Yunani yang sesuai dengan tujuan mereka, untuk mengungkapkan perasaan itu. Sehingga kemudian mereka menciptakan kata sendiri untuk itu. Ini sungguh mengekspresikan emosi yang paling dalam; menggerakkan hati – suatu kerinduan yang paling dalam yang didorong oleh belas kasihan…hati Kristus dipenuhi dengan belas kasihan untuk orang-orang yang menyedihkan itu yang dapat dilihat dari tatapan mata-Nya.
Manusia hidup oleh karena Belas Kasihan Allah, diselamatkan oleh karena Kasih Karunia Allah, hidup dengan kuasa oleh karena janji Firman Allah. Banyak orang menjadi percaya karena mujizat yang diperoleh. Pergumulan hidup, masalah keluarga, financial, ataupun sakit yang tak kunjung sembuh, orang-orang banyak mencari Tuhan ketika dilanda badai kehidupan. Begitupun dengan orang sakit umumnya mencari kesembuhan sesuai dengan keyakinan dan kekuatan finansialnya. Ada yang langsung pergi ke dokter, cukup ke mantri kesehatan atau ke perawat terdekat, ke tukang pijat, juga pergi ke paranormal. Ada yang menanti sampai agak parah penyakitnya. Kepercayaan (keyakinan) seseorang terhadap pilihannya, kitanya juga ikut mempengaruhi kekuatan penyembuhan penyakitnya, dan Tuhan menjadi pilihan alternatif.
Manusia rentan dengan sakit penyakit, kusta adalah satu-satunya penyakit yang dikaitkan dengan dosa oleh hukum Musa. Bukan berarti bahwa menderita kusta itu berdosa, bukan pula berarti kusta adalah akibat dari dosa. Namun penyakit ini dipandang sebagai simbol dosa. Seandainya dosa dapat dilihat, maka dosa itu akan tampak seperti penyakit kusta. Sudah merupakan tradisi bila orang yang berpenyakit kusta diasingkan dari keluarga dan masyarakat. Selain karena takut tertular, menurut hukum Musa orang kusta adalah najis (Im 13-14), sehingga menjadi stigma dalam masyarakat kalau penyakit ini adalah kutukan Allah. Dalam Markus 1 kita membaca kisah tentang seorang penderita kusta yang berlutut di depan Yesus dan memohon: "Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku" (ayat 40). Inilah contoh pertama dalam Injil tentang permohonan akan kesembuhan, yang dengan kesederhanaannya begitu menyentuh dan dalam. Itu sebabnya dalam kisah ini, si kusta meminta supaya ia ditahirkan atau disucikan, bukan disembuhkan seperti yang lazim. Karena itu dapat dibayangkan bagaimana menderitanya keadaan seorang yang berpenyakit kusta.
Ungkapan seorang sakit kusta kepada Yesus, “kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku, mengungkapkan suatu perrasaan “terbuang” ; terbuang dari orang-orang yang dikasihi, dari lingkungannya, kehilangan semua kesempatan dalam hidup, kesempatan berkumpul dengan keluarga, kesempatan bersosialisasi, bekerja, beribadah, dan sebagainya. Sehingga banyak di antara mereka yang didapati meninggal dunia, bukan karena penyakit kustanya, tetapi karena siksaan batin yang luar biasa menghadapi dampak ganda dari penyakit itu. Dimana ia seolah-olah merasa “dihukum” Allah dan juga manusia.
Yang menarik ialah sikap Tuhan Yesus menganggapi permintaan orang kusta ini. Ternyata Tuhan Yesus tidak mengusir atau menghindarinya, malahan Dia menyentuhnya dengan hati yang penuh belas kasihan, bahkan menyembuhkannya seketika itu juga! (ay 41-42). Menurut Firman Tuhan, tindakan Yesus ini didasari oleh belas kasihNya, “…Lalu tergeraklah hatiNya oleh belas kasihan….”(ay 41). Kata belas kasih yang dipakai di sini dari kata Yunani splanchnizomai yang berarti kesayangan, lubuk, rahmat, terharu, bela rasa (compassion). Itulah kasih sayang yang timbul dari lubuk hati yang paling dalam ketika melihat penderitaan orang lain, sehingga perasaan ini memunculkan usaha untuk menolongnya. Belas kasihan lebih kuat dari pada simpati. Rasa simpati belum sampai pada tindakan yang konkrit, sedangkan belas kasihan adalah kasih dan kepedulian yang dinyatakan dalam perbuatan. Dan kita dapat menyaksikan bahwa setiap kali hati Tuhan tergerak oleh belas kasihan, maka Dia segera bertindak untuk menolong. Sikap belas kasihan Tuhan Yesus merupakan dasar dari seluruh karyaNya. Itulah isi hati Tuhan kita Yesus Kristus yang berbelas kasih ketika melihat kesengsaraan manusia, sehingga Dia hadir juga dalam dunia ini, “menyentuh” kita yang berdosa dan membebaskan kita dari belenggu dosa dan maut (Rom 5:8). Belas kasihNyalah yang mengalahkan segalanya.
Cukup dibutuhkan kemauan dan keyakinan. Ketika Yesus mendengar permohonan itu hatinya penuh belas kasih kepada si kusta dan sembuhlah ia seketika. Orang itu menyampaikan permohonannnya sambil berlutut di hadapan Yesus. Berlutut adalah ungkapan kerendahan hati. Dan permohonan yang disampaikan dengan kerendahan hati mendapat jawaban yang positif.Maka Yesus pun menjawab, “Aku mau, jadilah engkau tahir!”.
Disekitar kita (di lingkungan, tempat kerja kita, sekolah atau kuliah) banyak orang yang mengalami perlakuan seperti orang kusta: dijauhi/dikucilkan, dicemooh, didiamkan, dan disingkirkan. Orang yang hidup seperti itu tentu tidak nyaman, tidak tentram. Mereka sebenarnya dalam hati juga merasakan “kalau engkau mau, sapalah aku!”. Cukup ke-mau-an dari kita, maka banyak orang bisa kita sembuhkan. Marilah kita membuka mata dan hati kita terhadap orang-orang disekitar kita. Mungkin orang-orang itu adalah istri atau suami kita, mungkin juga anak-anak kita yang sudah lama tidak mendapat perhatian dan sentuhan hati secara khusus. Bisa juga orang kusta itu adalah orang tua kita, teman sekomunitas/sepanggilan, sekantor, seperjalanan, dan sebagainya. Kalau kita tidak “tuli”, tenti permohonan orang kusta dalam perikop injil hari ini dapat kita lakukan. Sapaan kita kepada mereka yang “sakit kusta” dapat dirasakan sebagai sapaan kasih Tuhan sendiri, bila disertai dengan hati dan kemauan.
Mau gerakkan hati Tuhan? gerakkan hatimu untuk lakukan kehendak Tuhan. Maka mujizat ada dalam hidupmu. Bersyukurlah dalam kelemahan, kepedihan, dan sengsaramu, karena hal kecil ini dapat menggerakkan hati Tuhan. Belas kasihan Bapa turun atasmu, untuk kau menangkan jiwa bagi mereka yang sedang menanti belas kasihan.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri yang Diunggulkan

Prayer In The Morning

  Prayer To God in the Morning Psalm 143:8 New International Version (NIV) 8  Let the morning bring me word of your unfailin...